Sukses

Hal Tak Terduga Penyebab Keguguran Berulang

Keguguran berulang terkadang tak bisa dihindari. Hal ini rawan terjadi khususnya bila seorang wanita memiliki faktor risiko sebagai berikut.

Klikdokter.com, Jakarta Keguguran merupakan kejadian yang tidak diinginkan oleh setiap pasangan. Keadaan yang dikenal medis dengan sebutan abortus itu diartikan sebagai kematian janin dalam kandungan sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu.

Fakta mengungkap bahwa insiden keguguran pada wanita adalah sekitar 15–20%, dimana risiko tersebut akan meningkat apabila ada riwayat keguguran sebelumnya. Pada beberapa kasus, keguguran bahkan bisa terulang hingga lebih dari 3 kali. Dalam medis, keguguran yang terjadi lebih dari 3 kali disebut dengan aborsi habitualis atau recurrent pregnancy loss (RPL). Keadaan ini ditemukan pada 1 dari 300 wanita hamil.

Hingga kini, penyebab keguguran masih belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, para ahli menduga bahwa beberapa keadaan berikut ini berhubungan erat dengan terjadinya keguguran:

  1. Faktor genetik

Sekitar 2–4% kasus keguguran berhubungan dengan kelainan genetik. Oleh sebab itu, jika Anda adalah seorang wanita yang sering mengalami keguguran, lakukanlah evaluasi dan tes genetik untuk melihat apakah terdapat kelainan kromosom atau mutasi pada gen tertentu.

  1. Kelainan anatomi

Sekitar 10–15% kasus keguguran berulang berhubungan dengan terganggunya vaskularisasi daerah endometrium atau gangguan pada plasenta. Selain itu, adanya masalah di sekitar organ reproduksi wanita (polip), fibroid, perlengketan pada intrauterine, atau congenital uterine anomaly (septum pada rahim) juga turut meningkatkan risiko terjadinya keguguran.

Untuk mengetahui apakah terdapat kelainan anatomi organ reproduksi, sebaiknya Anda melakukan pemeriksaan hysterosalpingography (HSG).

  1. Gangguan sistim endokrin

Sekitar 17–20% masalah pada sistim endokrin terjadi pada wanita yang mengalami keguguran. Beberapa gangguan sistem endokrin yang berhubungan dengan hal tersebut, misalnya polycystic ovarian syndrome (PCOS), diabetes mellitus, gangguan hormon tiroid, hiperprolaktinemia, dan luteal phase defect (LPD).

  1. Infeksi

Toksoplasma, rubela, cytomegalovirus, dan herpes simplex (TORCH) dan coxsackievirus merupakan jenis infeksi yang sering terjadi pada wanita hamil. Kesemuanya berhubungan erat dengan peningkatan risiko keguguran, terlebih pada wanita yang memiliki sistem kekebalan rendah.

  1. Lainnya

Peneliti menyebut bahwa wanita yang hamil di atas usia 35 tahun lebih berisiko mengalami keguguran. Begitu pula dengan wanita yang mengalami penyakit autoimun dan keadaan trombofilia (darah lebih kental). Selain itu, wanita yang tinggal di lingkungan yang penuh asap rokok, polusi, dan memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman mengandung alkohol atau kafein dalam jumlah banyak juga lebih berisiko mengalami keguguran.

Keguguran adalah suatu keadaan yang tidak bisa dibiarkan, apalagi dibiarkan terjadi berulang. Jika Anda sempat mengalami keguguran dan saat ini sedang dalam program hamil, jangan ragu untuk sering-sering berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Tindakan ini dimaksudkan untuk mengetahui upaya apa yang bisa dilakukan supaya keguguran terjadi lagi di kemudian hari.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar