Sukses

Infeksi Menular Seksual Rentan Dialami Korban Perkosaan Inses

Korban perkosaan inses di Lampung rentan mengalami infeksi menular seksual. Ini fakta medisnya.

Klikdokter.com, Jakarta Korban perkosaan apa pun kasusnya sangat rentan mengalami infeksi menular seksual. Begitu pula pada kasus perkosaan inses atau hubungan seksual sedarah yang saat ini menggegerkan masyarakat, khususnya di wilayah Lampung.

Warga Pringsewu, Lampung baru-baru ini dibuat geger oleh warganya yang menjadi korban inses atau hubungan seksual sedarah. Kasus ini mulanya diketahui oleh Tarseno – Ketua Satgas Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat Pekon Panggungrejo – yang kemudian melaporkan ayah korban M (45), kakak korban SA (24), dan adik korban YF (15). 

Warga semakin geram ketika mengetahui bahwa ketiga pelaku yang memiliki hubungan darah dengan korban tersebut telah melakukan ulah bejat mereka bergantian setiap hari sejak tahun 2018.

Akibat perbuatan ayah dan kedua saudaranya itu, korban AG (18) yang juga mengalami keterbelakangan mental, tak hanya mengalami trauma psikis, namun juga rentan mengalami infeksi menular seksual.

Waspadai infeksi menular seksual

Infeksi menular seksual (IMS) adalah penyakit infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit yang juga sering disebut dengan istilah penyakit kelamin ini menular lewat darah, sperma, cairan vagina, atau cairan tubuh lainnya.

Penularan penyakit ini juga bisa terjadi melalui hubungan ibu pada janin dalam kandungan atau setelah bayi dilahirkan. Selain itu, penggunaan jarum suntik secara bergantian atau berulang pun akan meningkatkan risiko penularan.

Terdapat lebih dari 30 jenis patogen yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Meski demikian, tanda-tanda dan gejala IMS tak selalu muncul di alat kelamin, namun juga bisa terdapat pada mulut, saluran pencernaan, dan bagian tubuh lainnya.

IMS dapat disebabkan oleh infeksi bakteri (Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis, Treponema pallidum, Haemophilus ducreyi), infeksi virus (Human Immunodeficiency Virus, Herpes simplex virus, Human papillomavirus, hepatitis B), infeksi jamur (Candida albicans), dan infeksi parasit (Phthirus pubis, Sarcoptes scabiei)

Korban perkosaan rentan tertular IMS

Korban perkosaan sangat rentan mengalami infeksi menular seksual atau IMS. Terlebih lagi jika perkosaan terjadi berulang kali dan dilakukan oleh lebih dari 1 pelaku.

Risiko korban mengalami IMS dapat meningkat bergantung dari beragam faktor. Faktor-faktor tersebut seperti riwayat IMS sebelumnya (baik pada pelaku maupun korban), penetrasi penis dan ejakulasi sewaktu perkosaan, jumlah pelaku, usia korban, frekuensi perkosaan terjadi, tipe hubungan seksual yang dilakukan (vagina, anal dan oral) serta daya tahan tubuh korban sendiri.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di British Medical Journal, patogen IMS yang sering ditemukan pada korban perkosaan antara lain Neisseria gonorrhoeae (penyebab infeksi gonorrheae) dan Trichomonas vaginalis (penyebab infeksi trikomoniasis).

Bahkan 50% subjek penelitian tersebut mengalami IMS multipel (lebih dari 1 penyakit) usai perkosaan terjadi. Korban yang belum mengalami pubertas juga berisiko tinggi untuk mengalami IMS karena organ reproduksinya belum berkembang sempurna.

Studi lain yang dilansir oleh the Journal of Infectious Disease menyebutkan meski perkosaan hanya terjadi 1 kali, namun korban tetap berisiko untuk mengalami IMS. Pada studi tersebut ditemukan risiko korban mengalami infeksi klamidia sebesar 3% - 16%, penyakit radang panggul 11%, infeksi vaginosis bakteri 11%, trikomoniasis 7% dan hepatitis B 1%.

Sedangkan menurut studi yang dipublikasikan di Reviews of Infectious Diseases melaporkan korban pria yang mengalami perkosaan oleh pelaku homoseksual lebih berisiko lebih tinggi mengalami hepatitis B dan HIV dibandingkan korban dari pelaku heteroseksual.

Selain trauma akibat kejadian yang dialami, korban perkosaan inses di Lampung juga rentan mengalami infeksi menular seksual atau IMS. Untuk itu korban perkosaan harus menjalani pemeriksaan kesehatan yang komprehensif termasuk riwayat kejadian secara detail. Skrining IMS juga sebaiknya dilakukan pada seluruh korban perkosaan agar dapat dilakukan terapi lebih dini. Hal ini bertujuan agar korban tidak tertular penyakit yang bisa membahayakan kesehatannya.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar