Sukses

Kebiasaan Sarapan Tingkatkan Kemampuan Akademik Anak

Tak sekadar bikin kenyang, kebiasaan sarapan juga dapat meningkatkan kemampuan akademik anak Anda di sekolah.

Klikdokter.com, Jakarta Kebiasaan anak sarapan sehat bernutrisi  terbukti punya pengaruh positif pada performa akademik di sekolah. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. dr. I Gusti Lanang Sidiartha Sp. A (K), dalam “Konferensi Pers Pekan Sarapan Nasional 2019: Konsentrasi Ciptakan Mimpi bersama Energen” di bilangan Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (21/2) lalu.

dr. Lanang melakukan penelitian pada 178 anak SD di Gianyar, Bali, yang berusia 6-12 tahun. Setiap hari, anak tersebut ditanya dan didata apakah mereka sarapan.

“Kemudian, saya ambil nilai semester terakhir mereka. Kita lihat nilainya, dan dirata-ratakan nilainya. Angka ini kemudian dibandingkan dengan kebiasaan sarapan anak,” kata dr. Lanang.

Hasilnya, sekitar 51,7 persen responden memiliki kebiasaan sarapan. Nah, yang menarik, ternyata anak-anak yang sarapan memiliki rata-rata nilai rapor empat kali lebih tinggi dibanding anak-anak yang tidak sarapan.

“Perbedaan nilai mereka signifikan antara anak yang sarapan dan yang tidak sarapan,” ujar dr. Lanang lagi.

Sarapan adalah kebiasaan baik

Menurut Dr. dr. Taufiq Pasiak, M. Kes, M. Pd, sarapan harus menjadi sebuah kebiasaan. “Sarapan yang dipenuhi dengan bagus akan berefek pada cognitive function yang bagus. Kalo sarapan insidentil, artinya hari ini makan besok enggak, itu enggak berefek,” kata dia.

dr. Taufiq menjelaskan, cognitive function itu memori, di dalamnya ada yang disebut memory kerja. Kalau anak hanya secara insidentil sarapan, ingatan itu akan disimpan di short term memory. Akan tetapi, kalau kebiasaan sarapan pada anak dilakukan terus-menerus, dari short term memory sarapan akan berubah jadi long term memory.

“Karena itu, sarapan itu kuncinya adalah kontinuitas. Kalo cognitive function-nya bagus, otomatis academic performance-nya bagus, nilai-nilai di sekolah bagus,” kata dr. Taufiq.

Dia menambahkan, bukan hanya fungsi kognitif, tapi emotional awareness-nya juga bagus kalo anak biasa sarapan. “Jadi anak-anak tidak hanya jadi pintar, tapi juga punya ketenangan,” dia menegaskan.

1 dari 2 halaman

Aturan memberi makan pada anak

Hadir sebagai narasumber dalam acara yang sama, dr. Raisa E. Djuanda, M. Gizi, Sp. GK, menjelaskan, tidak boleh asal, sarapan yang baik itu harus memenuhi prinsip gizi seimbang.

“Prinsip gizi seimbang itu apa, yang pasti harus ada karbohidrat, protein, lemak, ada vitamin dan mineral,” kata dr. Raisa.

Ditambahkan oleh dr. Lanang bahwa memberi makan juga harus ada aturannya. Aturan ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu jadwal, lingkungan, dan prosedur. Yang pertama, jadwal makan harus teratur, yang terdiri dari 3x makan utama dan 2x selingan. Di sela-sela makan hanya boleh minum air putih.

“Perhatikan juga waktu makan. Durasi baiknya tidak berlama-lama, tidak lebih dari 30 menit,” dr. Lanang menegaskan.

Soal lingkungan, orang tua harus menciptakan lingkungan makan yang nyaman, tidak boleh dipaksa, dan tidak ada distraksi (gangguan).

“Sering ada pemaksaan dari orang tua sehingga anak menjadi stres. Selain itu, tidak boleh ada distraksi, misalnya nonton sambil makan, main sambil makan, atau sambil keliling-keliling kampung ya. Itu keliru ya, tidak boleh ada distraksi,” kata dia.

Untuk prosedur, berilah makanan sedikit dulu, baru tambah kalo kurang. Atau, Anda bisa berikan yang padat terlebih dahulu baru cair. Selanjutnya, jangan lupa bersihkan area makan setelah selesai makan.

Nah, dari 3 waktu makan tersebut, salah satu yang harus diperhatikan adalah sarapan. Meski bentuk dan macamnya bisa beda-beda, tapi paling tidak sarapan harus mengandung seluruh komponen zat gizi. Yaitu, karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, buah, telur, susu dan turunannya.

“Dari tujuh komponen itu, minimal empat terpenuhi dalam sarapan. Kalau bisa lebih banyak, akan lebih bagus,” kata dr. Lanang.

Oleh karena itu, sebagai orang tua ciptakan kebiasaan sarapan yang sehat pada anak. Seperti dikemukakan dr. Raisa, yang pertama dilakukan adalah orang tua harus memberi contoh kebiasaan sarapan yang sehat. Dengan melihat orang tua, anak akan lebih mudah menerapkan kebiasaan sarapan.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar