Sukses

Mengapa Konsumsi Kentang Penting untuk Diet Anda?

Meski indeks glikemik kentang cukup tinggi, tapi ada alasan mengapa kentang amat baik dijadikan sebagai menu diet. Berikut penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Ketika berpikir untuk menjalani diet, salah satu yang dilakukan adalah mengganti nasi putih dengan nasi merah atau kentang. Akan tetapi, jika Anda lebih memilih kentang sebagai menu diet, memang ada beberapa alasan mengapa salah satu jenis umbi ini penting untuk diet Anda.

Ya, kentang dan nasi putih adalah dua jenis makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi. Menurut dr. Atika dari KlikDokter, kentang sebenarnya sama dengan nasi putih.

“Keduanya sama-sama karbohidrat simpleks. Artinya, kentang juga bisa meningkatkan gula darah dan membuat Anda cepat lapar,” jelasnya.

Sebenarnya, orang jika ingin diet dan mengurangi karbohidrat lebih disarankan untuk mengonsumsi oat, pasta, atau nasi merah. Ketiga jenis makanan ini memiliki indeks glikemik rendah dan bertipe karbohidrat kompleks, sehingga membuat Anda lebih tahan lama dari serangan lapar.

Jenis karbohidrat kompleks yang aman dikonsumsi

Dijelaskan juga oleh Christy Brissette, seorang ahli diet dari Chicago, Amerika Serikat, meski memiliki indeks glikemik yang tinggi, kentang tetap aman dikonsumsi dalam jumlah banyak.

"Dalam beberapa studi kentang disebutkan sebagai salah satu makanan yang lebih banyak dapat Anda konsumsi dari kategori karbohidrat kompleks," kata Christy Brissette, seperti dikutip dari mensjournal.com.

Sementara itu, menurut sebuah tinjauan penelitian di Journal of Science of Food and Agriculture, kentang kaya akan senyawa yang dapat mengekang nafsu makan.

Untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari kentang, makanlah bersama menu yang rendah indeks glikemiknya seperti sayuran dan protein. Kedua jenis asupan ini dapat mengurangi lonjakan gula darah.

Selain itu, kentang mengandung vitamin dan mineral. Dalam satu buah kentang mengandung lebih banyak potasium daripada pisang yang dapat membantu fungsi otot dan keseimbangan cairan.

Di sisi lain, kentang mengandung setengah dari kebutuhan vitamin B6 dalam sehari. Menurut Brissette, vitamin B6 memiliki fungsi untuk memecah karbohidrat yang disimpan dalam otot dan hati, sehingga memberikan kekuatan pada tubuh.

Bagi banyak atlet, kentang mudah dikonsumsi. Ini menjadikan kentang camilan yang berharga jelang pertandingan untuk atlet yang mau mendapatkan energi dengan cepat.

1 dari 2 halaman

Hindari menggoreng kentang

Terkait indeks glikemik, kentang berada di angka 70 dan nasi putih di kisaran angka 86. Jadi, masih tetap lebih baik mengonsumsi kentang daripada nasi. Hanya saja, konsumsi kentang menjadi tidak baik bila digoreng. Pengolahan kentang disarankan untuk direbus, dikukus, atau dibakar.

Pasalnya, kentang goreng bisa berdampak buruk bagi kesehatan Anda dan berisiko meningkatkan kematian. Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh American Journal of Clinical Nutrition, konsumsi kentang goreng sebanyak dua sampai tiga kali per minggu dapat meningkatkan risiko kematian hingga dua kali lipat.

Risiko ini bisa semakin meningkat karena kentang goreng juga berisiko membuat orang obesitas, yang merupakan awal mula dari berbagai penyakit seperti jantung, stroke, dan diabetes.

"Satu porsi kecil kentang goreng mengandung kalori yang cukup tinggi. Secara detail, setiap 100 gram kentang goreng mengandung 270 kalori. Padahal, kentang yang dikukus hanya mengandung 80 kalori," ujar dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter.

Kalori yang berlebih tersebut akan disimpan tubuh dalam bentuk cadangan lemak, sehingga berpotensi meningkatkan berat badan Anda dengan cepat.

Selain itu, faktor yang membuat kentang goreng meningkatkan risiko kematian adalah kandungan lemak trans di dalamnya yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL.

"Tumpukan LDL tersebut akan tersimpan di dinding pembuluh darah dan menyebabkan penyempitan serta penyumbatan aliran darah. Bukan tidak mungkin serangan jantung menjadi ancamannya di kemudian hari," pungkas dr. Vita.

Dari segi indeks glikemiknya, kentang memang cenderung lebih sehat dibanding karbohidrat kompleks lainnya. Oleh sebab itu, bahan makanan ini masih aman dipilih sebagai menu diet Anda. Hanya saja, ada beberapa syarat terkait pengolahan atau penyajiannya yang harus dipertimbangkan agar konsumsinya tidak membahayakan tubuh.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar