Sukses

Kenali Penyakit Paru yang Dialami Komedian Nana Krip

Indonesia baru saja kehilangan komedian senior, Nana Krip. Ketahui lebih jelas seputar penyakit paru yang menjadi penyebab kematiannya.

Klikdokter.com, Jakarta Nana Krip, komedian senior Indonesia, meninggal dunia pada Rabu (20/02) kemarin akibat infeksi paru-paru. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal dengan istilah pneumonia. Karena penyakit paru ini cukup berbahaya dan mematikan, mari kenali berbagai gejala awalnya.

Pneumonia dan gejalanya

Pneumonia adalah infeksi paru-paru yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Infeksi ini menyebabkan kantung udara paru-paru (alveoli) meradang dan terisi dengan cairan atau nanah. Keadaan ini dapat menyebabkan kesulitan oksigen yang Anda hirup untuk masuk ke aliran darah.

Oksigen yang seharusnya dengan mudah meresap ke dalam darah pada akhirnya terhalang oleh banyaknya cairan di dalam alveoli. Sangat penting untuk mengetahui apa saja gejala pneumonia agar Anda dapat berjaga-jaga.

Gejala-gejala pneumonia sendiri dapat berkisar dari ringan hingga berat. Pada tahap awal, gejala dapat berupa batuk berdahak dan demam. Namun pada keadaan yang berat, pneumonia dapat menyebabkan gejala sesak napas yang parah. Berikut ini adalah berbagai gejala pneumonia yang perlu diketahui:

  • Batuk berdahak
  • Sesak napas
  • Demam dengan tubuh menggigil
  • Nyeri dada yang terasa ketika bernapas, hingga napas menjadi pendek
  • Denyut nadi yang cepat, biasanya lebih dari 100 kali per menit

Beragam faktor risiko pneumonia

Terdapat beberapa faktor risiko yang meningkatkan risiko seorang terkena penyakit paru. Selain itu, banyak juga faktor yang memengaruhi derajat keparahan pneumonia, seperti jenis kuman yang menyebabkan infeksi paru-paru, usia orang yang menderita infeksi tersebut, dan kondisi kesehatan keseluruhan dari penderita.

Orang yang paling berisiko mengalami kondisi ini adalah bayi, lansia berusia 65 tahun atau lebih, dan orang yang memiliki masalah kesehatan lain yang dapat menyerang sistem imun.

Orang berusia 65 tahun ke atas memiliki risiko yang lebih tinggi menderita infeksi karena sistem kekebalan tubuh mereka sudah mengalami penurunan. Dengan demikian, tubuh tidak dapat optimal dalam melawan kuman penyebab pneumonia. Selain umur, terdapat beberapa kondisi medis yang menyebabkan peningkatan risiko terkena penyakit paru, seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), bronkiektasis dan fibrosis kistik.

Belum lagi, jika seseorang menderita penyakit seperti diabetes, penyakit jantung dan HIV AIDS, maka dirinya juga lebih rentan menderita penyakit paru, karena sistem imunnya yang rendah.

1 dari 2 halaman

Diagnosis dan penanganan yang bisa dilakukan

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menentukan diagnosis penyakit paru, salah satunya dengan memeriksa pasien secara menyeluruh, khususnya pemeriksaan paru. Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan rontgen dada untuk melihat lokasi infeksi paru.

Pemeriksaan darah sering dilakukan untuk melihat adanya tanda infeksi berupa peningkatan leukosit. Kemudian, pemeriksaan dahak juga dapat dilakukan untuk melihat jenis kuman penyebab penyakit paru. Bila sudah terbukti adanya penyakit paru pneumonia, maka perawatan harus segera dilakukan.

Perawatan untuk kasus pneumonia bertujuan untuk menyembuhkan infeksi dan mencegah komplikasi. Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar gejala mereda dalam beberapa hari atau minggu. Penanganan yang dilakukan biasanya terdiri dari pemberian antibiotik, jika penyebab pneumonia adalah bakteri.

Selain itu pemberian obat pendukung seperti obat penurun panas dan tindakan mempertahankan kebutuhan cairan pasien juga perlu dilakukan. Pada keadaan infeksi yang berat, perawatan khusus seperti alat bantu napas (ventilator) sangat mungkin dilakukan.

Penyakit paru yang juga disebut pneumonia ini amat berbahaya, hingga dapat merenggut nyawa komedian senior Nana Krip. Jika Anda atau kerabat ada yang mengalami berbagai gejala diatas, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Penanganan dini dapat mencegah terjadinya komplikasi yang dapat mengakibatkan kondisi yang lebih serius. Yang tak kalah penting, terapkan gaya hidup sehat untuk meminimalkan risiko terkena penyakit ini.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar