Sukses

Ini Alasannya Obesitas Bisa Mengganggu Kualitas Tidur

Akhir-akhir ini tidur Anda sering tidak nyenyak? Bisa jadi penyebabnya adalah obesitas.

Klikdokter.com, Jakarta Tidur yang kurang nyenyak bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari kondisi stres hingga obesitas. Ya, penumpukan lemak yang sangat tinggi dalam tubuh juga dapat memengaruhi kualitas tidur Anda. Lalu mengapa bisa demikian?   

Obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebihan sehingga membuat berat badan di atas normal. Menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, seseorang menjadi obesitas tidak hanya disebabkan oleh satu faktor, melainkan berbagai macam faktor. Hal itu termasuk diet, gaya hidup, kebudayaan, genetik, jenis kelamin, dan pola kebiasaan.

“Karena banyaknya faktor yang terkait, maka kalangan mana saja dapat mengalami obesitas dan juga dari usia paling dini pun dapat terjadi,” ujar dr. Dyah.

Ada berbagai masalah kesehatan yang bisa terjadi akibat obesitas. Diketahui obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya GERD, kanker esofagus, dan batu empedu. Selain itu, obesitas juga bisa memengaruhi kualitas tidur seseorang.

Dilansir Verywell Health, ada sejumlah hubungan antara kelebihan berat badan dan kualitas tidur  Anda, seperti:

Sleep apnea

Komplikasi yang bisa terjadi akibat obesitas adalah pernapasan yang terganggu sehingga bisa berujung pada mendengkur dan sleep apnea. Dalam kondisi ini, lemak tubuh yang seharusnya berfungsi melindungi tubuh dapat menumpuk dan justru menimbulkan dampak buruk.

Kondisi obesitas bisa terlihat dari perut yang membesar, wajah yang lebih penuh, lingkar pinggul yang bertambah, dan bokong yang lebih menonjol. Tanda yang tidak tampak dari luar adalah jalan napas yang menyempit. Kombinasi itu semua dapat memicu gangguan pernapasan pada malam hari.

Sindrom kaki gelisah

Sindrom kaki gelisah adalah suatu kondisi yang memengaruhi sistem saraf. Pada kondisi ini, penderitanya mengalami sensasi tidak menyenangkan pada kaki dan dorongan yang tidak dapat ditahan untuk menggerakkan kakinya. Karena inilah, penderita tidak dapat tidur dengan tenang dan kelelahan di siang hari akibat kurang tidur.

Salah satu penyebab meningkatnya risiko sindrom kaki gelisah adalah obesitas. Beberapa penelitian melaporkan bahwa orang-orang dengan sindrom kaki gelisah sering terdorong untuk makan pada larut malam. Karena makan dinilai dapat meringankan gejala. Tapi, peneliti masih belum yakin apakah kebiasaan makan malam tersebut memang berkontribusi terhadap obesitas.

Kelebihan berat badan dapat memengaruhi kualitas tidur akibat sleep apnea dan sindrom kaki gelisah. Tapi, beberapa gangguan tidur juga dapat berkontribusi terhadap obesitas. Parasomnia dianggap berperan dalam obesitas, begitu juga dengan sleep-related eating disorder (SRED). Pada SRED, biasanya Anda makan secara tidak makan selama tidur. Makanan yang dikonsumsi bisa tak terduga, misalnya Anda mengambil bubuk kopi atau makanan kucing.

Kekurangan tidur juga dapat memicu kenaikan berat badan. Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur bisa berujung pada perubahan hormon yang mengganggu metabolisme. Tak hanya itu, kurang tidur juga dapat menyebabkan resistansi insulin dan peningkatan risiko diabetes.  Berdasarkan saran dr. Dyah, orang dengan obesitas harus mengurangi porsi makan secara perlahan. “Diet yang dianjurkan adalah diet rendah lemak, rendah karbohidrat simpleks, tinggi serat, tinggi karbohidrat kompleks, dan protein,” katanya.  Aktivitas fisik juga harus ditingkatkan. “Olahraga jenis aerobik bisa dilakukan, karena sangat berguna untuk membakar lemak dan meningkatkan kecepatan metabolisme.” 

Jika Anda memiliki obesitas dan merasa kualitas tidur terganggu, cepatlah atasi dengan perubahan gaya hidup serta berkonsultasi kepada dokter. Jika perlu, Anda dapat meminta bantuan ahli gizi untuk mengatur kebutuhan nutrisi serta dokter spesialis kedokteran olahraga untuk membantu menentukan program latihan yang aman.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar