Sukses

Benarkah Metode Dry Cleaning Bisa Picu Kanker Darah?

Bahan yang digunakan dalam metode dry cleaning disebut-sebut bersifat karsinogenik dan bisa memicu penyakit kanker darah. Benarkah?

Klikdokter.com, Jakarta Punya banyak baju bagus yang pembersihannya mesti dengan metode dry cleaning? Hati-hati! Menurut sejumlah kabar, terlalu sering membersihkan pakaian dengan metode dry cleaning bisa memicu kanker darah!

Informasi tersebut tentu datang bukan tanpa alasan. Sebab, larutan tetrachlorethylene atau perchlorethylene (PERC) yang digunakan dalam dry clean diduga bersifat karsinogenik dan bisa menyebabkan kanker pada manusia. Bagaimanakah faktanya?

Kenali dulu PERC

Larutan PERC dapat menghilangkan noda dan kotoran pada pakaian tanpa menggunakan air. Biasanya, bahan ini digunakan untuk mencuci kain sutra, organdi, wol, leather (kulit), dan bahan lain yang cukup sulit dibersihkan secara konvensional. Sebab, bila dicuci secara konvensional, beberapa bahan tersebut bisa rusak dan tidak dapat digunakan kembali.

Namun sayang, The International Agency for Research on Cancer (IARC) dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan bahwa larutan PERC memang tergolong zat karsinogenik yang berpotensi menimbulkan kanker.

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, kanker yang disebabkan larutan PERC bukan kanker darah saja, melainkan kanker esofagus, kandung kemih, dan kanker kelenjar getah bening (limfoma). Oleh sebab itu, American Cancer Society mengatakan bahwa pegawai dry cleaning dan pegawai pabrik kimia lain yang menggunakan PERC lebih rentan terkena kanker tersebut.

Meski demikian, bukannya pemilik baju yang habis dicuci dry clean itu aman-aman saja. Sebab, dr. Sepriani mengatakan, senyawa PERC akan tetap tertinggal di baju setelah proses dry clean selesai. Kemudian, zat tersebut menempel di kulit atau terhirup saat bernapas dan masuk ke paru hingga aliran darah.

“Dalam jumlah sedikit, senyawa ini dapat dikeluarkan dari tubuh melalui urine. Tapi bila terlalu sering terpapar, PERC akan tertumpuk di dalam tubuh sehingga memicu timbulnya kanker,” ujar dr. Sepriani.

Tentu saja, kanker tidak langsung terjadi dalam waktu yang singkat. Sebelum menjadi kanker, larutan PERC akan memberikan efek buruk ringan terlebih dahulu, yaitu kebingungan, dan sakit kepala. Pada tingkat yang lebih berat, PERC dapat menyebabkan rasa ingin pingsan hingga kerusakan otak dan sel saraf yang lebih parah.

Oleh karena itu, dr. Sepriani menyarankan Anda untuk mengurangi mencuci pakaian dengan dry clean. Ini karena, pada dasarnya, bahan-bahan kain yang kompleks itu bisa bersih jika Anda mencucinya dengan cara konvensional. Misalnya, merendamnya dengan air sabun atau mencuci lembut dengan tangan sehingga tidak akan merusak permukaan kainnya.

Sementara itu, tak cuma lewat dry cleaning, manusia juga bisa terpapar PERC dari udara dan air yang diminum. Rupanya, tetrachlorethylene hadir dalam jumlah yang sangat kecil di udara yang Anda hirup dan dalam air yang Anda minum, seperti dikutip dari Cancer.org.

Nah, bagi Anda yang bekerja di pabrik atau usaha pencucian yang menggunakan cairan PERC, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Untuk meminimalkan paparan negatif, sebaiknya Anda langsung ganti pakaian sehabis bekerja. Selain itu, jauhkan makanan dari area kerja. Anda juga dapat selalu menggunakan sarung tangan serta respirator bila berkontak langsung dengan cairan tersebut.

Jadi, cairan PERC yang digunakan dalam metode dry cleaning itu bersifat karsinogenik dan dapat menimbulkan gangguan saraf hingga kanker. Namun, PERC tak cuma menyebabkan kanker darah, melainkan kanker esofagus, kanker kandung kemih, dan kanker kelenjar getah bening (limfoma). Untuk mengurangi risiko tersebut, kurangilah penggunaan metode dry clean jika Anda tidak ingin terpapar zat tersebut secara intens.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar