Sukses

Korban Ledakan di Senayan Berisiko Alami Cedera pada Telinga

Ledakan di Senayan yang terjadi kemarin membuat korban rentan mengalami cedera pada telinga. Apa yang harus dilakukan?

Klikdokter.com, Jakarta Minggu, 17 Februari 2019 sekitar pukul 20.15 WIB, terjadi sebuah ledakan di arena nobar debat capres kedua di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan. Polda Metro Jaya telah melansir bahwa ledakan tersebut berasal dari ledakan petasan. Hingga kini belum diketahui siapakah pelaku di balik peristiwa tersebut. Namun akibat dari kejadian itu, korban ledakan di Senayan juga mengalami trauma psikis dan sejumlah cedera fisik, termasuk cedera pada telinga yang berisiko mengakibatkan gangguan pendengaran.

Cedera pada telinga akibat suara ledakan

Telinga merupakan salah satu organ tubuh yang termasuk rapuh dan sensitif. Gelombang suara yang masuk ke dalam telinga dapat menyebabkan getaran pada gendang telinga.

Getaran ini kemudian dikirimkan ke telinga bagian dalam dan merangsang saraf pendengaran yang selanjutnya diterjemahkan sebagai suara. Berdasarkan studi dari Stanford University School of Medicine menyebutkan, suara ledakan yang keras dapat menyebabkan hilangnya pendengaran dan bahkan bisa bersifat permanen. Hal ini disebabkan oleh karena suara ledakan tersebut dapat menyebabkan kerusakan sel saraf di telinga secara permanen.

Cedera pada telinga akibat ledakan atau disebut juga dengan blast injury, sering dialami oleh personel militer, veteran perang atau masyarakat yang tinggal di area konflik yang sering terpapar oleh suara keras setiap hari. Suara ledakan yang keras dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel rambut di telinga dalam.

Saat kejadian, korban akan merasakan adanya peningkatan tekanan di dalam telinga. Gelombang suara yang keras dapat masuk ke telinga, menyebabkan cedera bahkan kehilangan pendengaran permanen. Biasanya blast injury ini terjadi pada gelombang suara keras yang terjadi pada waktu singkat (sekitar 1-2 menit).

Setelah terjadi ledakan, korban biasanya akan merasakan telinganya seperti tersumbat. Dalam kondisi tersebut kemampuan mendengar akan langsung berkurang.

Selain itu korban ledakan juga dapat mengalami tinnitus atau telinga berdenging, hiperakusis (lebih sensitif terhadap suara), vertigo dan gangguan keseimbangan. Blast injury biasanya hanya terjadi pada 1 telinga dan gejala dapat menghilang dengan sendirinya pada waktu beberapa hari.

Cedera telinga akibat serpihan ledakan

Trauma suara yang keras dan dapat menyebabkan kerusakan organ merupakan penyebab utama dari blast injury. Namun blast injury juga bisa terjadi karena adanya benda yang berterbangan saat ledakan (misalnya partikel bom). Jadi dalam kondisi ini blast injury tersebut terjadi bukan karena suara ledakan, melaikan karena adanya serpihan-serpihan yang menghantam keras ke organ telinga.

Selain itu blast injury juga bisa terjadi karena gelombang ledakan yang sangat keras. Akibatnya, seseorang bisa terlempar jauh, termasuk menyebabkan cedera pada organ telinga.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of the Pakistan Medical Association pada tahun 2017, tingkat keparahan cedera pada telinga usai ledakan bergantung dari jarak korban dari lokasi kejadian dan kekuatan ledakan itu sendiri. Semakin dekat dengan lokasi pemboman terjadi maka kerusakan yang terjadi pada telinga pun akan semakin parah. Berdasarkan penelitian, kerusakan pada gangguan pendengaran akan lebih parah jika korban berada kurang dari 30 m dari lokasi kejadian.

Korban ledakan di Senayan berisiko untuk mengalami cedera pada telinga. Oleh karena itu usai ledakan, para korban sebaiknya memeriksakan kesehatan telinganya ke dokter spesialis THT. Sedangkan bagi korban yang kondisinya lebih parah dan harus dirawat inap, perlu mendapatkan perawatan lebih saksama. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan dalam kurun waktu 24 jam agar penanganan bisa cepat dilakukan sebelum terjadi komplikasi lebih lanjut.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar