Sukses

Awas, Sindrom Metabolik Mengintai Remaja!

Gaya hidup sedentari di kalangan muda menjadi salah satu faktor risiko berbagai macam penyakit, salah satunya sindrom metabolik.

Klikdokter.com, Jakarta Remaja yang identik dengan berbagai hal yang kekinian pada akhirnya rentan mengalami sejumlah masalah kesehatan, termasuk sindrom metabolik. Hal ini disebabkan kurangnya aktivitas fisik remaja dalam keseharian, misalnya lebih suka maraton serial televisi sambil ngemil atau nongkrong seharian di kedai kopi.

Belum lagi, kemajuan teknologi turut memanjakan kaum milenial ini. Kini memesan makanan atau membeli sesuatu bisa dilakukan hanya dengan sentuhan jari lewat aplikasi atau situs belanja. Kesehatan pun bisa semakin parah bila remaja gemar menyantap makanan cepat saji.

Kebiasaan ini sebenarnya tidak baik, karena dapat memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan. Di usia yang masih sangat muda, remaja bisa terkena penyakit jantung dan pembuluh darah.

Pola makan dan gaya hidup yang tak sehat ini jugalah yang kemudian memicu terjadinya obesitas di kalangan remaja dan jumlahnya semakin meningkat setiap tahunnya. Dari obesitas ini bisa muncul gangguan kesehatan, salah satunya adalah sindrom metabolik.

Mengenal sindrom metabolik

Sindrom metabolik adalah suatu kondisi yang ditandai dengan obesitas dan disertai dengan gangguan tekanan darah, gula darah, serta kadar lemak dalam tubuh.

Penyakit ini tidak menurun atau bersifat menular, melainkan didapat akibat pola hidup yang tidak sehat. Selain karena gemar mengonsumsi makanan cepat saji, jarang bergerak atau olahraga serta kebiasaan merokok dan minum alkohol merupakan hal yang dapat menyebabkan terjadinya sindrom metabolik.

Dalam menentukan apakah seseorang benar mengalami sindrom metabolik, diperlukan beberapa pemeriksaan sederhana seperti mengukur lingkar pinggang dan memeriksakan tekanan darah, kadar gula darah, serta lemak dalam tubuh.

Menurut American Heart Association (AHA), seseorang positif mengalami sindrom metabolik apabila ditemukan minimal 3 kondisi berikut:

  • Gula darah puasa ≥100 mg/dL atau mengonsumsi obat diabetes
  • Tekanan darah ≥130/85 mmHg atau mengonsumsi obat untuk menurunkan tekanan darah
  • Trigliserida ≥150 mg/dL atau mengonsumsi obat untuk menurunkan trigliserida
  • Kolesterol HDL ≤ 40 mg/dL (pria) atau ≤ 50 mg/dL (wanita)
  • Lingkar pinggang ≥90 cm (pria) atau ≥80 cm (wanita)
1 dari 2 halaman

Bahaya sindrom metabolik pada remaja

Sindrom metabolik ini sangat erat kaitannya dengan terjadinya diabetes serta penyakit jantung dan pembuluh darah. Sebab, berat badan berlebih dan kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan resistensi insulin dan berlanjut menjadi penyakit diabetes.

Sedangkan, tekanan darah dan kadar lemak tubuh yang tinggi menjadi salah satu faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah. Terbentuknya plak dalam pembuluh darah sewaktu-waktu dapat menyumbat pembuluh darah, sehingga bisa mengancam nyawa seseorang.

Untuk mencegah komplikasi dari kondisi sindrom metabolik ini, mulai sekarang ubahlah gaya hidup menjadi lebih sehat. Konsumsilah makanan sehat dan bergizi agar berat badan lebih terkontrol. Selain itu, lakukan aktivitas fisik setiap hari, setidaknya 30 menit setiap sesinya, misalnya berjalan cepat.

Hilangkan juga kebiasan tak sehat seperti konsumsi rokok dan alkohol. Yang tak kalah penting, jangan lupa untuk mengelola stres, misalnya dengan melakukan meditasi, yoga atau melakukan hobi yang menyenangkan.

Selain mengubah gaya hidup, remaja dapat mengonsumsi obat-obatan seperti antihipertensi, obat kolesterol hingga obat diabetes jika memang dibutuhkan. Tentunya konsumsinya berdasarkan resep dokter.

Sebagai orang tua, Anda dapat mengedukasi anak remaja Anda sedini mungkin mengenai kondisi ini. Karena biasanya sindrom metabolik ditandai oleh kegemukan dengan berat badan yang berlebih dan atau lingkar pinggang yang melebihi dari rekomendasi. Jadi, lakukan juga pengecekan saat di rumah sebagai salah satu upaya.

Usia remaja yang dekat dengan gaya hidup sedentari ternyata rentan mengalami sindrom metabolik. Jika kondisi anak Anda menunjukkan tanda risiko penyakit ini, segera lakukan konsultasi dengan dokter agar bisa dilakukan pemeriksaan yang lebih detail dan mendapatkan terapi yang sesuai. Dengan lebih dini mengetahui kondisinya, komplikasi pun bisa dihindari.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar