Sukses

Begini Cara Menggantung Tisu Toilet yang Benar

Populasi dunia terbagi atas dua bagian: mereka yang menggantung tisu toilet yang benar dan yang salah. Lalu seperti apa cara yang benar?

Klikdokter.com, Jakarta Layaknya bubur diaduk vs tidak diaduk atau menuang susu dulu baru sereal atau sebaliknya ke dalam mangkuk, suara publik juga terbagi saat membicarakan cara menggantung tisu toilet yang benar. Apakah yang benar adalah gulungannya keluar di bagian depan atau di bagian belakang alias tepat menghadap dinding?

Ternyata, sains sudah berbicara, bahwa yang benar adalah gulungan tisu yang keluar ada di bagian depan (over). Jadi, menggantung tisu toilet yang gulungannya di bagian belakang (under) adalah cara yang salah. Cara ini bisa meningkatkan kemungkinan bakteri penyebab keracunan makanan bisa menyebar dari toilet ke area sekitarnya.

Menurut sebuah studi yang dilakukan di Universitas Colorado, Amerika Serikat, terungkap bahwa toilet kantor yang tampak sangat bersih sebetulnya tidak sebersih itu.

“Dengan menggunakan alat canggih, para peneliti mengidentifikasi 19 grup bakteri yang tersebar di pintu, lantai, gagang keran, dispenser sabun, serta 12 toilet umum di Colorado—6 toilet pria dan 6 toilet wanita. Banyak strain bakteri yang teridentifikasi dapat ditularkan dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi,” sebuah pernyataan dari tim peneliti seperti dikutip di Inc. Southeast Asia.

Ditanyai mengenai hal ini, dr. Alvin Nursalim, SpPD, dari KlikDokter mengatakan bahwa fakta tersebut menekankan bahwa banyak bakteri di berbagai tempat yang terlihat bersih. Perlu diingat bahwa bakteri berukuran sangat kecil dan tidak dapat terlihat oleh mata. Karena itu, jangan lupa membersihkan tangan sebelum dan sesudah menggunakan toilet.

1 dari 3 halaman

Lantas, apa hubungannya dengan cara menggantung tisu toilet?

Bakteri yang banyak ditemukan di toilet umum adalah E. coli yang bersumber dari feses manusia—penyebab umum keracunan makanan. Bakteri ini bisa berpindah dengan mudah dari permukaan ke jari tangan, lalu Anda makan dengan tangan tersebut. Lalu, kembali ke persoalan cara menggantung tisu toilet yang benar.

Jika tisu toilet digantung dengan cara benar – dengan gulungan yang keluar di bagian depan – maka jari-jari hanya akan menyentuh tisu toilet yang akan digunakan. Selanjutnya tisu tersebut dibuang atau ke tong sampah atau di-flush bersama kotoran. Namun, jika toilet digantung dengan cara yang salah – gulungan yang keluar di bagian belakang – ada kemungkinan jari-jari menyapu dinding, meninggalkan kuman.

Nah, saat pengguna toilet selanjutnya menarik gulungan tisu, bakteri dari tangan Anda yang tertinggal di sana akan menempel di jari si pengguna toilet tersebut. Lalu, begitu seterusnya, jumlah bakteri akan bertambah dan berpindah ke pengguna selanjutnya.

Temuan menarik studi lainnya: jika ada bakteri yang menempel di tangan, Anda perlu mencucinya secara bersih. Untuk membersihkan tangan secara menyeluruh, Anda perlu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik, kira-kita selama menyanyikan lagu “Happy Birthday” dua kali dalam kecepatan normal. Jika tidak selama itu, usaha cuci tangan Anda mungkin tak ada hasilnya.

“Dengan meminimalkan kontak antara bagian tubuh dengan dinding kamar mandi, maka perpindahan kuman juga dapat dikurangi,” kata dr. Alvin menanggapi.

Jika cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah menggunakan toilet adalah salah satu kebiasaan sehat Anda, bagus dan lanjutkan! Namun, bayangkan jika ada rekan kerja di kantor yang tak cuci tangan saat dari toilet, lalu langsung melipir ke sepen (pantry) untuk mengambil donat – dipegang dengan tangan – lalu memakannya di meja kerja. Ih! Kalau sudah begini, keracunan makanan mungkin saja terjadi.

2 dari 3 halaman

Waspadai keracunan makanan

Keracunan makanan (food poisoning) merupakan penyakit yang disebabkan oleh konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi oleh bakteri, virus, parasit, atau racun yang dilepaskan oleh bakteri. Seringnya, biang kerok yang sering menyebabkan keracunan makanan adalah norovirus, E. Coli, salmonela, Clostridium perfringens, dan Campylobacter.

“Berbagai kuman di atas tentunya banyak dijumpai di sudut kamar mandi, mengingat kuman-kuman tersebut berhubungan dengan saluran cerna,” kata dr. Alvin.

Jadi, Jika berbagai kuman tersebut pindah ke tangan, lalu kuman tersebut masuk ke dalam mulut karena kebersihan tangan yang tidak baik, maka infeksi saluran cerna dapat terjadi.

“Apalagi jika Anda bertugas menyiapkan makanan. Berbagai kuman tersebut dapat saja berpindah ke makanan yang Anda siapkan dan berpotensi menyebabkan penyakit bagi yang memakannya,” tambahnya.

Gejala yang terjadi akibat keracunan makanan bervariasi, dari ringan hingga berat. Gejala tersebut bisa timbul antara 1 jam hingga 28 hari sejak mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Gejala yang paling sering muncul adalah mual, muntah, dan diare. Selain itu, orang yang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi juga bisa kehilangan nafsu makan, nyeri perut, demam ringan, badan lemas, dan sakit kepala.

Langkah sederhana untuk mencegah keracunan makanan adalah dengan menerapkan kebiasaan mencuci tangan. Cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah makan, sebelum memasak atau menyiapkan makanan. Lakukan juga sebelum dan sesudah menggunakan toilet, setelah menyentuh hewan peliharaan, serta setelah menyentuh benda yang kotor.

Selain itu, pastikan untuk selalu membersihkan bahan makanan yang hendak dikonsumsi. Hindari makan, membeli, atau mengambil makanan di tempat yang tampak tak bersih untuk mencegah makanan atau minuman terkontaminasi kuman.

Jika Anda pernah mengalami keracunan makanan, tentunya masih ingat dengan penderitaan yang ditimbulkannya, kan? Jika belum pernah, percayalah, lebih baik mencegahnya. Selain dengan melakukan langkah-langkah pencegahan di atas, langkah sederhana lainnya yang juga bisa dengan mudah Anda lakukan adalah menggantung tisu toilet yang benar.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar