Sukses

Mengapa Kasus Obesitas Anak di Lokasi Ini Tinggi?

Negara-negara kepulauan di Pasifik, seperti Nauru dan Kepulauan Cook, memiliki tingkat obesitas anak tertinggi. Apa penyebabnya?

Klikdokter.com, Jakarta Bicara soal tingginya angka obesitas anak di suatu negara, manakah yang muncul pertama kali di benak Anda? Amerika Serikat? Atau bahkan, Indonesia? Rupanya, baik Amerika Serikat maupun Indonesia, bukanlah negara dengan tingkat obesitas anak tertinggi. Posisi itu dipegang negara kepulauan di wilayah Pasifik, seperti Nauru dan Kepulauan Cook. Dilansir dari CNN.com, anak-anak yang mengalami obesitas di sana berusia 5 - 19 tahun.

Obesitas anak cenderung bertambah di masa depan

Di sisi lain, negara dengan tingkat obesitas terendah adalah Etiopia dan Burkina Faso. Sebenarnya, saat ini, masih lebih banyak anak yang kekurangan berat badan daripada obesitas di seluruh dunia. Namun, menurut Tiago Barreira, asisten profesor dari Department of Exercise SciencediSyracuse University, New York, Amerika Serikat, hal itu akan segera berubah.

Dengan kata lain, akan lebih banyak anak yang mengalami obesitas ketimbang anak yang kekurangan berat badan dan kurang gizi. Pada1975, anak-anak berusia 5-19tahun yang mengalami obesitas hanya berjumlah 11 juta. Adapun pada tahun 2016, jumlahnya meningkat hingga 124 juta!

Sementara itu, seorang ahli dari Department of the Prevention of Noncommunicable Disease bernama Juana Willumsen mengatakan, sekitar 30 persen anak laki-laki dan perempuan di Kepulauan Pasifik mengalami kegemukan. Lantas, apa yang menyebabkan anak-anak di sana obesitas?

Dikutip dari CNN.com, sebagian besar kelompok kesehatan sepakat bahwa ada beberapa faktor obesitas. Beberapa faktor tersebut yaitu, makanan atau minuman berkalori tinggi dan bergizi rendah, tidak cukup berolahraga, terlalu banyak duduk (menonton televisi, bermain gawai, bermain komputer), kurang tidur, serta penggunaan obat-obatan tertentu.

WHO melaporkan, salah satu penyebab terkuat anak-anak di Kepulauan Pasifik menjadi gemuk adalah karena masyarakat di sana mengganti makanan tradisional dengan olahan impor. Hal tersebut berkontribusi pada tingginya prevalensi obesitas dan masalah kesehatan di Kepulauan Pasifik.

Hal itu dibenarkan dr. Nadia Octavia dari KlikDokter. Menurutnya, mengonsumsi makanan olahan yang tinggi kalori, junk food, dan minimnya porsi buah serta sayuran dapat memicu obesitas. Apalagi jika sedari awal, anak tersebut memiliki faktor genetik yang memengaruhi jumlah lemak yang disimpan dan didistribusikan dalam tubuh. Kalau sudah begitu, risiko anak mengalami kegemukan punsemakin tinggi.

Masalah pada anak obesitas

Menurut dr. Sara Elise Wijono, MRes dari KlikDokter, anak obesitas juga rentan mengalami masalah sosio-emosional dan gangguan akademik.

“Mereka akan sering mendapatkan ejekan dan bullying dari teman-temannya. Bahkan, mereka akan mendapatkan stereotipe negatif, misalnya diasosiasikan malas, lamban, atau jelek,” ujar dr. Sara.

Jika orang tua tidak peka terhadap hal tersebut, menurut dr. Sara, anak obesitas akan merasa rendah diri terhadap bentuk tubuhnya sendiri. Anak-anak yang obesitas umumnya akan lebih sering tidak masuk sekolah akibat gangguan kesehatan yang didapatnya dari berat badan berlebih sehingga itu akan memengaruhi prestasi akademiknya.

Masyarakat awam kerap menganggap bahwa anak yang gemuk identik dengan sehat, menggemaskan, dan bahagia. Padahal, kalau sudah terlalu gemuk dan menjadi obesitas, gangguan kesehatan dapat muncul. Mulai sekarang, aturlah pola makan anak dengan tidak memberikannya porsi makan berlebih serta camilan berkalori dan bergula tinggi. Selain itu, batasi waktu bermain gawai agar tidak membuatnya malas beraktivitas fisik. Anda dapat juga mengurangi frekuensi menyantap makanan olahan impor atau junk food saat bepergian bersama keluarga.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar