Sukses

Benarkah Anak Mudah Marah Bila Sering Main Gawai?

Anda sering memberikan gawai pada si Kecil agar tak rewel saat ditinggal? Hati-hati, kebiasaan ini bisa membuat anak mudah marah.

Klikdokter.com, Jakarta Kesibukan orang dewasa dan minimnya sarana bermain rentan menjadikan gadget alias gawai sebagai salah satu cara terampuh nan mudah untuk mengalihkan perhatian anak. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya anak yang duduk anteng sambil menatap layar gawai sementara orang tuanya sibuk menyelesaikan pekerjaan.

Tapi di balik pola asuh yang praktis tersebut, rupanya ada konsekuensi buruk yang mesti dihadapi oleh orang tua. Banyak orang mengatakan kebiasaan memberikan gawai pada anak dapat membuatnya menjadi pribadi yang emosional. Tapi, benarkah anggapan tersebut?

Gawai dan psikologis anak

Menurut dr. Adeline Jaclyn dari KlikDokter, benar adanya bahwa anak main gawai bisa menimbulkan reaksi negatif pada anak bila diberikan terlalu sering. Sebagai contoh, anak yang sering main gawai atau yang sudah kecanduan biasanya menjadi terlalu fokus dengan dunia virtualnya.

Sehingga, ketika anak-anak lain mengajaknya bermain atau orang dewasa mengajaknya berinteraksi, seperti berdiskusi atau memberikannya nasihat, anak bisa saja cuek dan tak menggubrisnya.

“Anak yang kecanduan gawai menganggap bahwa panggilan atau perkataan orang lain hanya menjadi pengganggu atas dunianya. Sehingga, ia akan kesal dan mulai marah akan distraksi tersebut.” jelas dr. Adeline.

Dijelaskan kemudian oleh dr. Adeline, anggapan soal “pengganggu” tersebut sebenarnya berkaitan dengan ketidakmampuannya dalam berinteraksi sosial. Karena selama ini ia hanya terbiasa dengan interaksi satu arah dengan gawai.

Sementara itu, dr. Nadia Octavia dari KlikDokter juga membenarkan hal tersebut. Menurutnya, anak yang terlalu sering diberikan gawai biasanya menjadi anak yang lebih menuntut. Bila keinginannya tidak dipenuhi, anak pun bisa tantrum.

“Anak kecil yang terbiasa hidup dengan gawai akan mudah kesal bila apa yang diinginkannya tidak dipenuhi. Sebab, selama ini, apa yang diinginkannya bisa dengan mudah ia dapatkan lewat teknologi canggih yang ditawarkan sebuah gawai.” pungkas dr. Nadia.

1 dari 2 halaman

Dampak negatif anak kecanduan gawai

Seperti yang Anda ketahui, kecanggihan gawai memudahkan semua orang, termasuk anak-anak. Dalam sebuah permainan, anak dengan mudah dapat membuat makanan atau mendesain kamar sesuai dengan selera atau keinginannya. Dia juga terbiasa melihat segala sesuatu yang serba menyenangkan di kanal Youtube.

Akibatnya ketika kembali berhadapan dunia nyata, anak menjadi kurang bisa menerima kenyataan bahwa apa yang ditampilkan dalam dunia nyata itu tidak seindah apa yang ada di dalam gawai.

Apalagi anak-anak belum bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik konten media sosial, belum bisa membedakan mana yang palsu dan mana yang asli. Sehingga, bukan tak mungkin ia menjadi pribadi yang penuntut dan terlalu perfeksionis di kemudian hari.

Tak cuma bisa bikin anak mudah marah, menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, kecanduan gawai di usia pertumbuhan golden age (di bawah 5 tahun) bisa menimbulkan gangguan perilaku anak.

Anak yang kecanduan gawai bisa mengalami gangguan mood, menghilangkan sifat empati, serta anak menjadi agresif, kurang peka, mudah berbohong, dan pendiam. Rata-rata anak yang berinteraksi dengan gawai lebih dari satu jam menunjukkan sifat yang lebih agresif dibanding anak-anak lain seusianya.

Sedangkan, bila sejak dini anak sudah terpapar tontonan yang mengandung unsur kekerasan di dalamnya, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak berempati. Padahal, bukan itu, kan, yang Anda inginkan sebagai orang tua?

Pada dasarnya, gawai memang bisa memudahkan komunikasi antara orang tua dan anak bila jarak sedang memisahkan. Tetapi jika usia anak masih terlalu kecil, batasi penggunaannya demi perkembangan kepribadiannya.

Jika memang terpaksa memberikan gawai agar pekerjaan Anda cepat selesai, setidaknya imbangi dengan pengawasan yang ketat agar anak tidak terpapar konten-konten yang tidak sesuai dengan usianya.

Sehabis Anda menyelesaikan pekerjaan, simpan gawai tersebut dan ajaklah anak untuk bermain bersama atau membaca cerita. Dengan begitu, efek negatif dari bermain gawai bisa diminimalkan. Sebisa mungkin, hindari penggunaan gawai selama bermain bersama si Kecil, sehingga ia tak merengek meminta bermain gawai lagi.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar