Sukses

4 Alasan Mengapa Terapi Mental Anda Gagal

Sudah ikut terapi untuk kesehatan mental tapi tak ada perubahan ke arah yang lebih baik alias gagal, atau bahkan memburuk. Apa penyebabnya?

Klikdokter.com, Jakarta Kebanyakan orang-orang hanya fokus menjaga kesehatan tubuh dan mengabaikan kesehatan mentalnya. Padahal, keduanya penting. Bahkan, beberapa tahun belakangan, topik ini menjadi pembicaraan masyarakat luas. Makin banyak juga orang yang terbuka dengan gangguan mental yang dialaminya, dan menggaungkan pesan mengenai pentingnya mencari bantuan, misalnya lewat terapi. Lalu jika sudah ikut terapi tapi tak ada perubahan atau gagal, apa, ya, penyebabnya?

Gangguan mental atau penyakit mental adalah gangguan serius yang dapat memengaruhi pemikiran, suasana hati, dan perilaku seseorang. Ada banyak jenis dari gangguan mental serta gejalanya yang bervariasi, seperti anoreksia, depresi, gangguan kecemasan, gangguan adiksi, skizofrenia, dan masih banyak lagi.

Gangguan jiwa dapat dialami oleh siapa saja, dan tak ada hubungannya dengan kelemahan karakter atau pribadi seseorang.

“Pekerjaan penuh tantangan, masalah dalam keluarga, atau menjadi korban kekerasan seksual memang bisa bikin seseorang lebih rentan. Namun, bukan berarti pasti mengalami gangguan jiwa. Pengalaman hidup hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan jiwa. Ingat, siapapun dapat mengalami gangguan jiwa,” kata dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter menjelaskan.

Kadang butuh keberanian untuk mengakui bahwa ada yang salah dengan kondisi jiwa atau mental Anda, lalu setelahnya menemui profesional dan menjalani terapi. Namun, usaha untuk menyembuhkan diri lewat terapi ini bisa menantang. Menurut Dr. Grant H. Brenner, MD, FAPA, seorang psikiater dan psikoanalis asal Amerika Serikat kepada Psychology Today, ada bukti yang menunjukkan bahwa pengobatan kondisi kesehatan mental bisa berbeda-beda pada tiap orang.

“Sementara banyak orang yang bisa pulih total, dan banyak keluhan emosional yang normal atau bagian dari penyesuaian terhadap perubahan, tapi banyak juga orang yang sudah ikut terapi tapi menjadi lebih baik atau menunjukkan perbaikan tapi sangat lambat,” ungkap Dr. Grant. Bahkan, beberapa orang menderita secara kronis, kadang mencoba segala kemungkinan yang ada. Namun, sayangnya terapi yang dipilih peluangnya kecil untuk membantu kondisi mereka.

Berhasil atau tidaknya terapi mental tertentu bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Jika terapi yang Anda ikuti dirasa gagal, dilansir dari Psychology Today, mungkin penyebabnya adalah beberapa hal di bawah ini.

1 dari 3 halaman

Selanjutnya

  1. Salah diagnosis

Diagnosis akurat adalah langkah awal dari perencanaan pengobatan yang tepat. Namun, sayangnya kesalahan diagnosis masih sering terjadi. Di negara-negara maju seperti AS, penyebab salah diagnosis bisa jadi karena:

  • Riwayat pasien yang tidak memadai
  • Faktor penting yang tak ingin dibicarakan pasien, misalnya penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, atau situasi sulit tertentu
  • Mungkin seseorang memiliki dua kondisi sekaligus, yaitu gangguan medis dan kejiwaan yang disertai masalah emosional dan psikis.
  1. Menunda-nunda memberi tahu diagnosis kepada pasien

Mendiskusikan diagnosis dengan pasien bisa jadi hal yang menantang. Entah karena akan timbulnya respons negatif, penyangkalan atau ketidaksetujuan, atau keduanya. Ini sering terjadi pada mereka yang mengalami masalah kecanduan. Kadang dokter juga tak yakin dengan diagnosis dan ingin menunggu hingga adanya tanda atau bukti kuat lainnya.

“Padahal, diagnosis bisa sangat melegakan, seakan menjadi jawaban atas perjuangan yang telah lama dialami, serta bisa segera merencanakan pengobatan yang dibutuhkan,” kata Dr. Grant.

  1. Ada masalah yang tidak disadari

Ada banyak situasi yang membuat psikiater atau psikolog sulit menentukan apa yang menjadi masalah pasien. Ini termasuk kondisi yang tidak terdiagnosis atau salah diagnosis, sistem kepercayaan maladaptif yang belum sepenuhnya jelas, hambatan perkembangan, termasuk pengalaman awal menyedihkan yang belum terselesaikan, keyakinan negatif dalam diri yang harus diatasi, atau masalah lainnya.

2 dari 3 halaman

Selanjutnya (2)

  1. Berusaha terlampau keras

Kadang Anda harus melakukan perubahan untuk mencapai sesuatu. Bayangkan Anda sedang belajar bersepeda—sulit untuk dijelaskan tapi Anda belajar melakukannya dengan beberapa cara hingga akhirnya berhasil. Metafora ini juga berlaku pada tahap pemulihan, merasa lebih baik, atau merawat diri dengan benar. Mereka yang tidak mengerti cara belajar sendiri ini mungkin punya masalah karena tak bisa membayangkan menyelesaikan permasalahan tertentu dengan cara yang berbeda.

Berusaha terlalu keras bisa disebabkan banyak hal. Mulai dari obsesi hingga perfeksionisme. Kadang, dengan melakukan terapi, hasilnya tak melulu sembuh total.

“Tahu kapan harus memanfaatkan pencapaian tertentu, menutup lembaran baru, dan move on (bukan berhenti tapi lebih pada bertransisi ke fase pertumbuhan yang berbeda). Kadang ini berarti pasien siap untuk berlapang hati, melupakan, lalu kembali melanjutkan hidup,” jelas Dr. Grant.

Gangguan jiwa adalah suatu masalah yang berskala global. Bahkan, dr. Sepriani mengungkapkan, 1 dari 10 orang dewasa muda mengalami periode depresi. Selain itu, 1 dari 25 orang AS terdiagnosis gangguan jiwa berat seperti skizofrenia atau gangguan bipolar.

“Kejadian depresi dan bunuh diri dilaporkan semakin bertambah setiap tahun. Ini menunjukkan bahwa gangguan jiwa sangat sering terjadi dan bisa dialami siapa saja,” kata dr. Sepriani. Menurutnya, gangguan ini harus ditangani dengan tepat. Jika tidak, bisa berujung pada kematian, akibat tindakan bunuh diri.

Gangguan jiwa bisa disembuhkan. Nyatanya, saat ini sudah tersedia banyak terapi mental atau psikoterapi untuk menangani berbagai gangguan jiwa. Meski demikian, terapi juga mungkin bisa gagal, penyebabnya beragam. Untuk menghindarinya, sebaiknya jika seseorang sudah memiliki gejala gangguan mental, segera cari pertolongan profesional. Setelah itu, berusahalah untuk terbuka dengan terapis dan bekerja sama sebaik mungkin agar penanganannya tepat dan hasilnya pun optimal.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar