Sukses

Hati-hati, Sering Makan Ikan Asin Picu Kanker Tenggorokan

Anda penyuka ikan asin? Berhati-hatilah, karena ikan asin ternyata dapat memicu kanker tenggorokan!

Klikdokter.com, Jakarta Ikan asin yang dimakan dengan nasi putih hangat dan sambal terasi tentulah sangat nikmat. Menu ini merupakan salah satu santapan lezat yang disukai oleh banyak orang Indonesia. Jika Anda juga salah satunya, sebaiknya mulailah kurangi konsumsi ikan asin. Sebab, makanan ini ternyata dapat memicu kanker tenggorokan atau kanker nasofaring.

Ikan asin dan kanker tenggorokan

Dugaan bahwa ikan asin dapat memicu kanker tenggorokan bermula pada tahun 1970an. Saat itu ditemukan angka kejadian kanker tenggorokan yang sangat tinggi di Tiongkok Selatan. Penduduk setempat memiliki kebiasaan yang unik, yaitu mengonsumsi ikan asin setiap hari.

Konsumsi ikan asin di Tiongkok bahkan sudah dimulai sejak anak-anak dan berlanjut hingga usia tua. Atas dasar kejadian tersebut, di berbagai negara di Asia akhirnya dilakukan berbagai penelitian untuk mengetahui apakah ikan asin bisa mencetuskan kanker tenggorokan.

Selama dua dekade terakhir, studi di Tiongkok, Hongkong, Jepang dan Malaysia menunjukkan bahwa konsumsi ikan asin ternyata memang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kanker tenggorokan.

Disebutkan juga bahwa semakin banyak ikan asin yang dikonsumsi, semakin besar risiko seseorang untuk terkena kanker di kemudian hari. Orang yang memiliki kebiasaan makan ikan asin sejak kecil lebih rentan mengalami kanker tenggorokan.

1 dari 2 halaman

Kandungan berbahaya dalam ikan asin

Hal yang bisa membuat ikan asin memicu kanker tenggorokan adalah kandungan zat kimia bernama nitrosamin di dalamnya. Zat ini terbentuk saat pembuatan ikan asin, yaitu pada proses penggaraman dan  pengeringan ikan di bawah sinar matahari.

Tak hanya itu, nitrosamin juga bisa terbentuk di dalam lambung saat ikan asin dikonsumsi dan ”berinteraksi” dengan asam di lambung.

Nitrosamin dan kandungan garam yang tinggi pada ikan asin diduga dapat merusak salah satu komponen DNA manusia, dan menyebabkan sel-sel tubuh, khususnya di daerah tenggorokan berkembang biak terus menerus secara tak terkendali.

Selain itu, zat tersebut juga menyebabkan seseorang lebih mudah terinfeksi Epstein-barr Virus (EBV), yakni virus yang menjadi penyebab utama kanker tenggorokan. Oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), nitrosamin dikategorikan sebagai salah satu zat karsinogenik (zat pemicu kanker) yang berbahaya.

Sebetulnya tak semua jenis ikan asin mengandung banyak nitrosamin. Tingginya kadar nitrosamin di dalam ikan asin pun tergantung jenis ikan, garam yang dipakai, banyaknya paparan sinar matahari, dan cara penyimpanan ikan asinnya.

Namun demikian, hingga kini belum ada cara sederhana mengukur kadar nitrosamin di dalam ikan asin untuk mengetahui apakah ikan tersebut berbahaya untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, untuk menjauhkan diri dari risiko kanker tenggorokan, cara yang paling aman adalah dengan membatasi konsumsi ikan asin.

Batas konsumsi ikan asin

Sebetulnya tidak ada aturan yang jelas mengenai jumlah tertentu ikan asin yang boleh dikonsumsi. Namun, dibandingkan dengan ikan segar dan ikan beku, ikan yang diasinkan cenderung memiliki nutrisi yang lebih rendah. Oleh karena itu, jika Anda ingin makan ikan, lebih baik pilihlah masakan dari ikan segar atau ikan beku.

Tapi, jika Anda sangat ingin mengonsumsi ikan asin, makanlah satu hingga dua kali dalam sebulan. Sebisa mungkin hindari juga memberikan ikan asin pada bayi dan anak. Sebab, semakin dini tubuh terpapar nitrosamin dalam ikan asin, semakin tinggi risiko seseorang mengalami kanker tenggorokan saat dewasa.

Faktanya, ikan asin memang dapat memicu kanker tenggorokan. Jadi mulai sekarang, usahakan untuk membatasi konsumsi ikan asin seperti saran di atas, agar terhindar dari kanker tenggorokan. Lindungi diri dan keluarga Anda dengan lebih bijak dalam memilih dan mengolah makanan sehari-hari.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar