Sukses

Gejala Apa, Sesak Napas Saat Hamil seperti Dialami Saphira Indah?

Aktris Saphira Indah dikabarkan meninggal dunia setelah mengalami sesak napas saat hamil. Gejala kondisi apakah ini?

Klikdokter.com, Jakarta Dunia hiburan Tanah Air kembali berduka. Saphira Indah, aktris yang dikenal lewat film “Eiffel... I’m in Love” (2003) dan sekuelnya yang rilis tahun lalu, meninggal dunia pada hari Rabu (30/1) malam. Dilansir Liputan 6, menurut keterangan suaminya, Saphira tutup usia setelah mengalami sesak napas. Kondisi tersebut tentu memengaruhi kehamilan Saphira yang masuk trimester kedua. Lalu, gejala gangguan kesehatan apakah sesak napas saat hamil semacam itu?

Sesak napas merupakan salah satu gejala yang sering dikeluhkan oleh ibu hamil. Berkaca dari apa yang dialami oleh wanita kelahiran Bandung, 26 Juli 1986 tersebut, gejala sesak napas pada ibu hamil tidak bisa dianggap enteng.

Sesak napas memang bisa muncul akibat perubahan tubuh saat hamil. Namun, di sisi lain sesak napas saat hamil juga bisa muncul akibat adanya komplikasi selama kehamilan. Kondisi ini tentu bisa mengancam nyawa. Dalam kondisi ini, penanganan sesak napas yang optimal sangat dibutuhkan.

Karenanya, setiap ibu hamil perlu mengenali mana sesak napas yang tak perlu dikhawatirkan dan mana sesak napas yang harus ditangani segera.

Sesak napas dan kehamilan

Selama kehamilan, adaptasi terhadap perubahan tubuh yang dialami oleh ibu hamil dapat mencetuskan gejala sesak napas. Secara fisiologis (normal), selama kehamilan dapat terjadi perubahan fungsi pernapasan dan sistem pertukaran gas di paru-paru. Hal ini menyebabkan timbulnya gejala sesak napas yang terjadi pada kehamilan normal (bukan disebabkan oleh penyakit).

Perubahan tubuh pertama yang sangat berdampak terhadap sistem pernapasan ibu adalah akibat membesarnya rahim. Rahim yang membesar mendorong diafragma, sehingga posisinya lebih tinggi dibandingkan kondisi normalnya. Keadaan ini menyebabkan berkurangnya kemampuan rongga dada untuk mengembang. Akhirnya, timbul sensasi seperti sesak napas.

Selain itu, perubahan hormonal selama kehamilan juga memengaruhi saluran pernapasan ibu hamil. Peningkatan hormon estrogen menyebabkan lapisan mukosa saluran napas relatif lebih bengkak dan berlendir. Akibatnya, pertukaran gas berisiko terganggu. Hal ini semakin menambah kemungkinan munculnya gejala sesak napas pada ibu hamil.

Pada kondisi-kondisi di atas, biasanya tidak akan ditemukan gejala-gejala tambahan lainnya. Umumnya, gejala sesak napas pun tidak berat dan bisa perlahan reda dengan beristirahat atau mengubah posisi. Konsumsi obat tidak diperlukan karena kondisi ini merupakan gejala normal dalam kehamilan.

1 dari 2 halaman

Sesak napas sebagai gejala penyakit selama kehamilan

Lain halnya dengan kondisi yang dialami Saphira, gejala sesak napas yang dialaminya terus memberat dari hari ke hari, ditambah adanya penurunan hemoglobin darah. Dalam kondisi seperti ini, gejala sesak napas tidak bisa dipandang ringan. Penanganan secara agresif harus dilakukan, karena sesak napas berat selama kehamilan bisa mengancam nyawa ibu dan bayinya.

Beberapa penyakit saat hamil bisa menyebabkan gejala napas. Penyakitnya meliputi:

  • Asma
  • Penyumbatan jalan napas
  • Pneumonia (infeksi paru)
  • Anemia berat (kekurangan hemoglobin berat)
  • Edema paru pada kehamilan (paru-paru terendam cairan)
  • Emboli paru (tersumbatnya pembuluh darah paru)
  • Preeklamsia (meningkatkan tekanan darah pada kehamilan)
  • Peripartum cardiomyopathy (PPCM), yaitu suatu kondisi gagal jantung pada ibu hamil

Saat ibu hamil mengalami salah satu dari kondisi di atas, biasanya akan muncul berbagai gejala tambahan selain sesak napas. Pemeriksaan oleh dokter akan mengerucutkan kemungkinan kondisi apa yang dialami ibu hamil.

Sebagai contoh, ibu hamil penderita sesak napas akibat asma biasanya juga mengalami bunyi napas mengi. Umumnya, penderitanya sudah memiliki riwayat asma sejak sebelum hamil. Penderita juga biasanya bisa menyebutkan hal yang mencetuskan sesak napas mendadak akibat asma, misalnya debu, asap rokok, kedinginan, stres, dan lain-lain.

Begitu pula kondisi lain, misalnya pneumonia. Pneumonia adalah kondisi terjadinya infeksi kuman pada paru-paru. Penderitanya juga akan mengalami gejala demam tinggi, batuk berdahak, sesak napas, tidak nafsu makan, serta tubuh yang sangat lemas.

Pada kasus Peripartum cardiomyopathy (PPCM), penyakit yang penyebabnya belum diketahui ini bisa menyerang ibu hamil tanpa disadari. Penyakit ini menyebabkan kelemahan otot jantung, sehingga jantung tidak mampu memompa darah seperti kondisi normalnya. Gejala sesak napas pada penderita PPCM umumnya timbul secara perlahan kemudian memberat. Perbaikan keadaan otot jantung baru akan terjadi setelah melahirkan.

Penjelasan di atas adalah alasan kenapa sesak napas saat hamil tidak boleh disepelekan, meski sering kali ini merupakan gejala normal dalam kehamilan. Jika Anda kini tengah hamil dan mengalami gejala sesak napas, segera periksa ke dokter. Sesak napas yang disebabkan oleh komplikasi kehamilan bisa sangat berbahaya, seperti yang dialami almarhumah Saphira Indah.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar