Sukses

Awas, Sesak Napas Saat Hamil, Waspadai 4 Gangguan Pernapasan Ini

Jangan sepelekan kondisi sesak napas saat hamil. Cermati gejala gangguan pernapasan berikut, karena setiap ibu hamil berisiko mengalaminya.

Klikdokter.com, Jakarta Dunia hiburan Indonesia dikejutkan dengan meninggalnya aktris Saphira Indah pada Rabu (30/01) lalu. Banyak pihak tidak menyangka, selain karena tidak ada riwayat penyakit apa pun, Saphira meninggal saat sedang hamil. Berdasarkan keterangan suaminya, Rico Hidros Daeng, Saphira sempat mengeluhkan adanya gangguan pernapasan kemudian menjalani perawatan selama beberapa hari di rumah sakit. Sesak napas saat hamil yang dialami Saphira ternyata berakibat fatal.

Sebelumnya, selama kehamilan Saphira, pemain film Eiffel I’m In Love tersebut selalu kontrol teratur dan tidak mengalami masalah apa pun. Lalu, apakah gangguan pernapasan memang rentan dialami oleh ibu hamil? Apa saja gangguan pernapasan yang harus diwaspadai?

Kehamilan dan sesak napas

Sesak napas merupakan salah satu keluhan yang sangat umum terjadi pada ibu hamil. Sekitar 60-70% ibu mengalami kesulitan bernapas selama kehamilannya. Hal ini disebabkan oleh ukuran rahim yang terus bertambah mengikuti perkembangan janin sehingga menekan diafragma dan paru menyebabkan ibu sulit bernapas.

Namun, sesak napas pada kehamilan juga dapat terjadi akibat masalah di saluran pernapasan. Berikut adalah beberapa gangguan pernapasan yang mengintai ibu hamil:

  1. Emboli Paru

Emboli paru, atau pulmonary embolism, terjadi ketika ada bekuan darah di pembuluh darah nadi (arteri) di paru. Hal tersebut menyebabkan aliran darah di paru berkurang, kadar oksigen dalam darah menurun, dan memengaruhi organ lainnya.

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang berisiko mengalami emboli paru. Satu di antaranya adalah kehamilan. Penekanan janin terhadap pembuluh darah di daerah panggul menyebabkan darah mengalami pengumpulan di area tersebut dan mudah menjadi bekuan (clot).

Emboli paru tidak boleh dianggap enteng karena dapat berakibat fatal. Penyakit ini merupakan penyebab kematian utama pada ibu hamil, terutama di negara berkembang. Gejala awalnya adalah sesak napas, nyeri dada, sakit kepala, pandangan kabur, dan kulit tampak pucat atau kebiruan. Umumnya gejala-gejala tersebut terjadi dengan cepat dan dapat bertambah parah hingga berujung pada kematian.

  1. Asma

Asma dapat terjadi pada ibu hamil jika sebelumnya memang memiliki riwayat penyakit tersebut. Umumnya asma akan sering muncul di usia kehamilan 24-36 minggu. Gejala asma meliputi sesak napas, batuk, dada terasa berat, napas berbunyi, dan dipicu oleh pencetus tertentu, seperti cuaca, debu, dan sebagainya.

Sepertiga ibu hamil dengan asma mengeluh gejala asmanya semakin berat selama kehamilan. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan hormon selama hamil, seperti peningkatan estrogen dan progesteron yang menyebabkan hidung lebih tersumbat dan napas lebih cepat. Sehingga saat asma kambuh, gejalanya akan lebih berat.

Asma dapat menimbulkan sejumlah komplikasi serius, seperti kematian janin, kelahiran prematur (sebelum waktunya), peningkatan tekanan darah, dan meskipun jarang, kematian ibu.

  1. Kardiomiopati peripartum (Peripartum cardiomyopathy/PPCM)

PPCM adalah kondisi ketika jantung mengalami pembesaran dan kelemahan otot. Hal ini menyebabkan jumlah darah yang dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh mengalami penurunan sehingga organ tubuh kekurangan aliran darah dan oksigen. Masalah ini dapat terjadi saat ibu hamil memasuki trimester ketiga.

Selain kesulitan bernapas, gejala PPCM adalah badan lemas, dada berdebar-debar, kaki bengkak, penurunan tekanan darah, dan sesak (terutama saat beraktivitas berat atau berbaring telentang). Ada beberapa pemicu PPCM pada ibu hamil, di antaranya obesitas (sebelum hamil), riwayat penyakit jantung sebelumnya, dan kebiasaan merokok atau minum alkohol.

  1. Preeklamsia

Preeklamsia, atau yang dikenal dengan sebutan “keracunan kehamilan”, adalah kondisi yang hanya dapat terjadi pada ibu hamil. Kondisi ini ditandai dengan adanya peningkatan tekanan darah pada ibu hamil yang sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit darah tinggi.

Tekanan darah yang tinggi tersebut menyebabkan ginjal mengalami kerusakan, sehingga terdapat molekul protein dalam urine ibu tersebut. Pada kondisi yang berat, preeklamsia dapat menjadi eklamsia, yang ditandai dengan adanya kejang.

Selain peningkatan tekanan darah dan adanya protein dalam urine, gejala dari preeklamsia adalah kesulitan bernapas, nyeri perut, nyeri kepala hebat, muntah, dan pandangan kabur. Sejauh ini, belum diketahui penyebab pasti dari preeklamsia, tetapi beberapa faktor risikonya adalah riwayat preeklamsia di kehamilan sebelumnya, obesitas, dan hamil kembar.

Sesak napas saat hamil dapat menjadi pertanda adanya beragam jenis penyakit. Karena itu, demi keselamatan ibu dan bayi, jangan anggap enteng gangguan pernapasan yang dialami ibu hamil. Segera periksakan diri ke dokter kebidanan untuk memastikan kondisi Anda dan mendapat penanganan yang cepat dan tepat.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar