Sukses

6 Tingkatan Gejala Kusta yang Wajib Diketahui

Semakin dibiarkan, semakin parah gejala kusta yang terjadi. Deteksi dan obati sekarang juga, agar penyakit ini bisa musnah dari Indonesia!

Klikdokter.com, Jakarta Kusta, salah satu penyakit tertua di dunia. Seiring perkembangan zaman, penyakit tersebut masih saja menyelimuti dan mengintai setiap orang yang tinggal di belahan bumi berbeda.

Di Indonesia, kejadian penyakit kusta tergolong sering. Tanah Air tercinta ini menempati posisi ketiga sebagai negara dengan penderita kusta paling banyak di dunia. Menurut data Kemenkes pada tahun 2017, kejadian penyakit kusta adalah sebesar 6,08 kasus dalam 100.000 penduduk.

Penyebab dan gejala kusta

Kusta memiliki nama lain Morbus Hansen atau Lepra. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium Leprae yang menyerang sistem saraf perifer, kulit, lapisan lendir (mukosa) saluran pernapasan atas, dan mata. Oleh karena itu, kusta dapat menimbulkan serangkaian gejala umum, seperti:

  • Mati rasa
  • Pembesaran saraf
  • Kelumpuhan kaki atau tangan
  • Lesi pucat tebal
  • Luka yang tidak sakit
  • Hidung tersumbat
  • Mimisan
  • Mata kering
  • Kebutaan.

Munculnya gejala-gejala tersebut dapat terjadi dalam waktu yang lama sejak seseorang terinfeksi bakteri kusta. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), rata-rata terjadi selama 5 tahun, meski tak menutup kemungkinan untuk tidak muncul hingga 20 tahun ke depan.

Menurut tingkat keparahan gejala, kusta digolongkan menjadi 6:

  1. Intermediate leprosy

Gejala yang muncul merupakan tahapan paling awal dari kusta. Biasanya dapat muncul gejala satu lesi yang sedikit mati rasa bila diraba. Pada tahap ini, gejala dapat sembuh dengan sendirinya atau berkembang menjadi lebih parah.

  1. Tuberculoid leprosy

Terdapat beberapa lesi datar, beberapa di antaranya berukuran besar dan mati rasa, serta dapat timbul gangguan di beberapa bagian saraf. Lesi tuberculoid leprosy dapat sembuh dengan sendirinya, namun juga dapat berkembang menjadi jenis kusta yang lebih parah.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

  1. Borderline tuberculoid leprosy

Lesi yang muncul menyerupai tuberculoid leprosy, namun jumlahnya lebih banyak. Selain itu, gangguan saraf yang timbul bisa lebih parah. Pada borderline tuberculoid leprosy, lesi dapat bertahan, berubah menjadi tuberculoid, atau menjadi lebih parah lagi.

  1. Mid-borderline leprosy

Pada tahap ini akan muncul gejala berupa plak kemerahan. Penderita akan merasakan kadar mati rasa yang lebih hebat. Di samping itu, terdapat pula pembesaran kelenjar getah bening dan melibatkan gangguan saraf yang lebih parah. Gejala pada mid-borderline leprosy dapat bertahan, membaik, atau berubah menjadi bentuk keluhan lainnya.

  1. Borderline lepromatous leprosy

Lesi yang muncul dapat berbagai jenis. Terdiri dari lesi datar, benjolan, plak, dan nodul. Kadar mati rasa yang terjadi pun lebih berat. Pada gejala tersebut, penyakit dapat bertahan, semakin pulih, atau berkembang menjadi lebih berat.

  1. Lepromatous leprosy

Ini merupakan tahapan dengan gejala paling berat. Terdapat banyak lesi yang mengandung bakteri, disertai penebalan dan gangguan fungsi yang parah. Terdapat pula kelemahan pada lengan dan tungkai. Selain itu, timbul gejala rambut rontok dan perubahan bentuk tubuh.

Untuk mendiagnosis kusta, pemeriksaan fisik berperan sangat penting. Dokter perlu melihat secara langsung gejala yang muncul pada penderita. Ada kalanya penderita juga mendapat tindakan biopsi atau pengambilan sedikit jaringan kulit maupun saraf untuk memastikan diagnosis penyakit kusta. Adapun pemeriksaan lepromin test dilakukan untuk menentukan jenis kusta yang terjadi.

Semakin dini dideteksi dan diobati, maka kemungkinan kusta untuk disembuhkan menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, jika Anda curiga mengalami penyakit yang satu ini, jangan tunda untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Dengan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat, bukan tak mungkin kusta bisa benar-benar dimusnahkan dari Indonesia.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar