Sukses

Kenali Bahaya Demam Berdarah pada Ibu Hamil

Tidak hanya mengancam sang ibu, demam berdarah pada ibu hamil juga dapat menyebabkan petaka bagi bayi dalam kandungan.

Klikdokter.com, Jakarta Pada musim hujan seperti saat ini, demam berdarah menjadi salah satu penyakit yang patut diwaspadai. Banyaknya genangan air dan lembapnya kondisi udara menjadikan nyamuk mudah berkembang biak dan menyebarkan ancaman pada siapa pun di sekitarnya, termasuk ibu hamil. Bahaya demam berdarah pada ibu hamil dapat berlipat ganda. Tidak hanya mengancam kesehatan sang ibu, namun juga bayi di dalam kandungan.

Siklus penularan demam berdarah

Demam berdarah merupakan penyakit yang berkembang dengan bantuan media perantara. Melalui nyamuk Aedes aegypti, virus ini menyebar dari satu orang ke orang lain.

Umumnya nyamuk dewasa berdiam diri dan bersembunyi di balik tumpukan kain, barang, dan rimbun pepohonan untuk kemudian keluar mengisap darah manusia. Ketika siap berkembang biak, nyamuk akan mencari genangan air untuk mengeluarkan jentik.

Hati-hati, berbeda dengan nyamuk biasa, gigitan nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue dapat sangat berbahaya. Sayangnya, gejala yang dialami kerap samar dan dapat membuat seseorang tidak menyadari dirinya telah terinfeksi demam berdarah. Padahal, berbagai komplikasi yang mengancam pada kemudian hari dapat sangat berbahaya.

Gejala demam berdarah

Gejala yang dialami seseorang ketika terinfeksi demam berdarah dapat sangat umum, sehingga menyerupai jenis infeksi lainnya. Gejala tersebut meliputi:

  • Nyeri kepala
  • Demam
  • Nyeri otot, tulang, dan persendian
  • Mual muntah
  • Nyeri di rongga mata
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Bercak merah pada tubuh

Sebenarnya, asalkan kekebalan tubuh seseorang terjaga baik, penyakit yang disebabkan oleh virus ini dapat pulih dengan sendirinya. Akan tetapi, pada beberapa kasus, demam berdarah dapat berkembang mengancam nyawa. Trombosit yang turun secara drastis berpotensi menyebabkan perdarahan hebat dalam tubuh.

Di samping itu, pembuluh darah dapat sangat rapuh dan darah mudah keluar dari pembuluh tersebut. Pada kondisi ini, tekanan darah dapat sangat menurun dan berisiko menyebabkan perdarahan hingga syok, bahkan mengancam nyawa. Untuk wanita hamil, risiko ini tentu tidak dapat dipandang sebelah mata.

Demam berdarah pada ibu hamil

Kondisi ibu hamil yang menurun akibat demam berdarah menjadi ancaman tersendiri bagi tumbuh kembang janin. Untuk tumbuh optimal, bayi memerlukan asupan darah yang cukup untuk menunjang perkembangannya selama dalam rahim.

Karena demam berdarah dapat menyebabkan penurunan tekanan darah dan gangguan aliran darah ke janin, tumbuh kembang janin menjadi terhambat. Tidak hanya itu, suatu penelitian membuktikan bahwa demam berdarah juga berpotensi menyebabkan kematian janin dan kelahiran prematur.

Penelitian tersebut dilakukan di Vietnam pada tahun 2015. Dari 20 ibu yang terbukti mengalami demam berdarah, 4 ibu diketahui melahirkan prematur, 1 melahirkan bayi yang sudah meninggal dalam kandungan, dan 9 ibu membutuhkan transfusi darah sebelum persalinan.

Transfusi darah kerap dibutuhkan karena adanya potensi perdarahan saat persalinan. Risiko perdarahan tersebut disebabkan menurunnya jumlah trombosit, keping darah yang bertugas menghentikan perdarahan bila terjadi luka pada tubuh. Oleh karena itu, pada beberapa kasus, ibu hamil diharuskan mendapatkan transfusi darah sebelum persalinan, baik persalinan normal maupun operasi caesar.

Mengingat besarnya ancaman dan bahaya demam berdarah ini, ibu hamil wajib menjaga betul kesehatan dirinya dan janin. Pastikan lingkungan rumah dan tempat beraktivitas bebas genangan air dan tumpukan barang yang dapat menjadi media perkembangbiakan nyamuk. Kenakan baju yang tertutup dan, bila perlu, gunakan kelambu saat tidur.

Hal yang tidak kalah penting, ibu hamil juga wajib mengetahui tanda dan gejala demam berdarah. Melakukan tindakan pencegahan sekaligus mengenali gejala dapat mencegah menularnya demam berdarah pada ibu hamil. Selain itu juga untuk  menghindari komplikasi semaksimal mungkin. Dengan demikian, kesehatan kehamilan dapat terjaga baik hingga waktu persalinan tiba.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar