Sukses

Akibat Serangan Jantung, Mantan Striker PSIS Meninggal Dunia

Duka menyelimuti sepak bola Indonesia. Erik Dwi Ermawansyah, mantan striker PSIS, meninggal dunia di usia muda akibat serangan jantung.

Klikdokter.com, Jakarta Dunia sepak bola Indonesia kembali diselimuti duka. Mantan striker PSIS Semarang, Erik Dwi Ermawansyah, dikabarkan meninggal dunia pada hari Jumat (25/1) akibat serangan jantung. Kabar ini tentunya membuat banyak orang terkesiap. Pasalnya, usia Erik masih sangat muda, yaitu 22 tahun.

Kabar meninggalnya pesebak bola asal Surabaya ini pertama kali datang dari manajemen PSIS Semarang lewat akun Twitter resmi klub.

“Segenap manajemen, pemain, dan official pelatih PSIS Semarang turut berduka cita atas meninggalnya Erik Dwi Ermawansyah pada Jumat (25/1/2019) yang mengalami serangan jantung. Semoga khusnul khotimah Rik, Al Fatihah.”

Erik merupakan mantan pemain PSIS Semarang di Liga 2 pada musim 2017. Akan tetapi, semenjak tim dengan julukan Laskar Mahesa Jenar ini ke Liga 1, dirinya tak lagi terlihat aktif di dunia sepak bola Indonesia karena memilih untuk kuliah.

Pemain sepak bola rentan terkena serangan jantung?

Kejadian pesepak bola terkena serangan jantung sebenarnya banyak terjadi. Salah satu yang paling diingat adalah pada tahun 2003 di ajang Piala Konfederasi. Kala itu, pemain Kamerun, Marc-Vivien Foe, tiba-tiba jatuh di lapangan ketika sedang bertandang melawan Kolombia. Pada menit ke-72, Foe kolaps tanpa ada yang mengetahui penyebabnya.

Otopsi lanjutan menunjukkan bahwa Foe meninggal karena pembengkakan jantung. Kondisi turunan seperti itu diketahui bisa meningkatkan risiko kematian ketika berlatih secara fisik.

Bercermin pada dua kejadian tersebut, apakah memang pemain sepak bola rentan terkena serangan jantung?

Berdasarkan laporan Owen Anderson dalam artikelnya yang berjudul "Heart attack risks are greater for athletes who compete in endurance sports" yang diterbitkan dalam “Sports Performance Bulletin”, kemungkinan pesepak bola terserang penyakit jantung sama seperti yang bisa dialami atlet olahraga ketahanan (seperti balap sepeda, maraton, triathlon, dan lain-lain).

Penemuan ini diperoleh setelah Owen meneliti kandungan enzim cardiac troponin I pada 38 atlet sepeda yang mengikuti ajang balap Tyrolean Otztaler Radmarathon pada tahun 1999. Enzim tersebut lazim ditemukan dengan jumlah yang tinggi pada darah seseorang yang terdeteksi mengalami serangan jantung. Hasilnya, kandungan cardiac troponin I meningkat sebesar 34 persen pada 13 pesepeda setelah mengikuti ajang balap itu.

Owen berpendapat, hal ini juga berlaku bagi pesepak bola yang rata-rata harus menempuh total 9-12 km per pertandingan. Aktivitas di lapangan juga turut berpengaruh. Misalnya saja, total mereka berlari di lapangan dalam satu pertandingan bisa mencapai rata-rata 11 kilometer dengan 2,1 km merupakan lari cepat atau sprint.

Olahraga dengan mobilitas tinggi seperti sepak bola sangat rentan terhadap penyakit jantung. Bahkan, risiko pesepak bola profesional lebih tinggi karena intensitas latihan yang tinggi serta jumlah pertandingan yang harus diikuti.

Mengenali gejala awal penyakit jantung

Sebelum semuanya terlambat, ada baiknya kenali gejala penyakit jantung. Menurut dr. Andika Widyatama dari KlikDokter, awalnya gejala penyakit jantung sulit dirasakan. Namun, gejala yang biasanya muncul antara lain:

  • Nyeri di bagian dada
  • Rasa tidak nyaman di bagian leher, lengan kiri, bahu, rahang, hingga punggung
  • Sesak napas
  • Pusing, seperti berputar
  • Mual dan keringat dingin

Ditambahkan oleh dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, juga dari KlikDokter, ada satu penyakit jantung, yaitu kardiomiopati hipertrofik, yang paling sering menyebabkan penyakit mematikan dan mendadak pada banyak atlet muda. Penting untuk mengetahui apakah ada riwayat penyakit ini dalam keluarga. Selanjutnya, ketahui gejala awalnya, yaitu pernah pingsan atau kejang atau pernah mengalami nyeri dada atau sesak napas saat melakukan aktivitas fisik.

Sebenarnya tidak diketahui pasti apa yang menyebabkan Erik Dwi Ermawansyah mengalami serangan jantung. Namun, kabar mantan striker PSIS meninggal dunia ini seperti membuka mata banyak orang,  bahwa serangan jantung tak mengenal usia. Karena itu, berupayalah untuk disiplin menjalankan hidup sehat, segera lakukan pemeriksaan jika ada riwayat penyakit jantung dalam keluarga, serta kenali gejala serangan jantung yang bisa krusial, untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar