Sukses

Waspada Minuman Berenergi pada Anak

Minuman berenergi yang berkafein tinggi tidak aman dikonsumsi anak-anak. Ini efek samping yang perlu diwaspadai.

Klikdokter.com, Jakarta Minuman berenergi bisa dengan mudahnya ditemukan di pasar, convenience store, hingga swalayan. Minuman berenergi mengandung gula dan senyawa stimulan (biasanya kafein. Dengan kemudahan akses, banyak kelompok usia anak-anak dan remaja yang mengonsumsinya. Padahal, konsumsi minuman berenergi pada anak bisa mengakibatkan efek samping yang perlu diwaspadai.

Tujuan dari konsumsi minuman berenergi adalah untuk meningkatkan stamina, menambah stimulasi fisik, serta mental. Minuman ini dapat berupa minuman berkarbonasi dan juga bisa mengandung pemanis lain, atau ekstrak herbal.

Berdasarkan sebuah penelitian di Amerika Serikat (AS), konsumsi minuman berenergi ditemukan sudah menjadi rutinitas anak usia remaja dan kalangan mahasiswa. Alasan konsumsinya bervariasi, misalnya untuk meningkatkan energi atau mengatasi rasa kantuk akibat kurangnya waktu tidur.

Ada pula sebuah penelitian dari Jerman yang melaporkan bahwa pada 1.000 remaja, 94 persen di antaranya mengetahui tentang minuman berenergi, dan sebanyak 53 persen pernah mencobanya.

Apakah minuman berenergi aman untuk anak dan remaja?

Minuman berenergi yang tinggi kadar kafeinnya memang dapat meningkatkan konsentrasi dan menambah energi. Namun konsumsi pada remaja dan anak-anak tidak dianjurkan.

Sebuah penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan American Heart Association Meeting News Brief mengungkap, anak-anak di bawah 6 tahun merupakan populasi yang rentan terkena dampak negatif dari minuman berenergi.

Efek negatifnya ini tidak main-main, termasuk aritmia jantung (gangguan irama jantung) dan kejang.

Biasanya, pasien akan datang ke rumah sakit dan mengeluhkan jantung berdebar (dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah palpitasi). Apabila dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan mesin rekam jantung, maka dapat dijumpai berbagai gangguan irama jantung seperti fibrilasi atrial dan aritmia ventrikel.

American College of Sports Medicine (ACSM) juga tidak merekomendasikan konsumsi minuman berenergi pada anak dan remaja. Ini karena mereka berisiko tinggi terhadap komplikasi dari minuman berenergi, mengingat tubuh mereka lebih kecil dan masih dalam masa aktif-aktifnya. Kadar kafein berlebihan dalam minuman berenergi dapat berdampak buruk pada sistem kardiovaskular, neurologis, gastrointestinal, ginjal dan endokrin, serta gejala kejiwaan. Ini semua tertuang dalam “Journal of Current Sports Medicine Reports” tahun 2017.

1 dari 2 halaman

Kandungan minuman berenergi

Salah satu penyebab minuman berenergi dapat sebabkan berbagai gangguan kesehatan pada anak adalah kandungan kafeinnya. Konsentrasi kafein dalam minuman berenergi lebih tinggi, sehingga tingkat efek sampingnya pun juga lebih tinggi—biasanya melibatkan sistem saraf, pencernaan, atau kardiovaskular.

Sebagai contoh, jika Anda meminum secangkir kopi, kafein yang masuk ke dalam tubuh adalah sekitar 95 mg. Nah, jumlah kafein pada minuman berenergi jauh lebih tinggi dari kopi. Meski bervariasi, tapi jumlah kafeinnya bisa mencapai 400 mg per kaleng atau botol.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) berpendapat, 400 mg kafein adalah kadar yang dapat diterima untuk orang dewasa yang sehat. Namun, FDA tidak punya pedoman mengenai kadar kafein yang aman untuk anak-anak.

Organisasi dokter anak AS, American Academy of Pediatrics, menyarankan agar anak-anak tidak mengonsumsi kafein sama sekali karena efek kesehatan yang dapat ditimbulkan.

Sejumlah penelitian telah menunjukkan efek negatif yang dapat ditimbulkan minuman energi terhadap jantung. Ada juga satu penelitian yang menemukan adanya kaitan antara konsumsi minuman berenergi dengan peningkatan tekanan darah tinggi dan peningkatan kontraktil jantung.

Berbagai penjelasan dan hasil studi yang dikemukakan di atas adalah alasan mengapa minuman berenergi tidak aman dikonsumsi anak (dan remaja). Perlu diingat, anak-anak masih memiliki metabolisme yang berbeda dan memerlukan perhatian khusus terkait asupannya untuk menjamin tumbuh kembangnya yang optimal.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar