Sukses

Benarkah Obesitas Berhubungan dengan Penyusutan Otak?

Obesitas jangan disepelekan. Kabarnya, kondisi ini bisa menyebabkan penyusutan otak. Cek fakta medisnya berikut ini.

Klikdokter.com, Jakarta Anda tentu sudah sering mendengar para ahli mengatakan bahwa obesitas bisa memengaruhi kesehatan dan menyebabkan penyakit jantung, diabetes, hingga stroke. Tapi, tahukah Anda bahwa obesitas, terutama di perut, ternyata juga bisa menyebabkan penyusutan otak?

Penelitian tentang obesitas dan penyusutan otak

Memang hal ini agak membingungkan. Karena obesitas dengan penyusutan otak tidak memiliki korelasi yang dapat mendukung pernyataan tersebut. Apalagi, sebelumnya penelitian soal ini tidak ada. Penelitian yang terkait penyusutan otak pernah dilakukan, tapi penyebabnya adalah penuruan daya ingat dan risiko demensia.

Mengenai hal ini, Profesor Mark Hammer dari Universitas Loughborough di Inggris turut memberikan komentar.

"Penelitian yang ada memang telah mengaitkan penyusutan otak akibat dari penurunan daya ingat dan risiko demensia yang lebih tinggi. Tetapi, penelitian tentang apakah lemak tubuh bersifat melindungi atau merusak ukuran otak masih belum meyakinkan," ujarnya.

Dalam penelitian yang dilakukannya, Hammer berfokus pada dampak lemak tubuh pada ukuran otak, dalam hal ini adalah penyusutan yang terjadi pada otak. Penelitiannya kemudian diterbitkan dalam jurnal Neurology.

Dalam prosesnya, Hammer melibatkan jumlah sampel yang sangat besar dibandingkan dengan penelitian lain pada topik yang sama. Secara total, 9.652 orang terlibat dalam penelitian ini, dengan usia rata-rata 55 tahun.

Untuk menentukan angka lemak dalam tubuh, Hammer dan rekannya menyusun indeks massa tubuh (IMT), rasio pinggang-pinggul, dan lemak tubuh keseluruhan dari setiap peserta.

Kemudian, ia menghitung IMT, membagi berat badan seseorang dengan kuadrat tinggi badan mereka. Selanjutnya, pengukuran rasio pinggang-pinggul dilakukan dengan membagi ukuran lingkar pinggang dengan lingkar panggul. Semakin tinggi rasionya, semakin besar perut seseorang dibandingkan dengan pinggulnya.

Ia kemudian menghitung ukuran otak menggunakan pemindaian MRI dan memeriksa volume pada materi otak putih dan abu-abu. Keduanya dipindai karena penting untuk penelitian ini.

Pada materi abu-abu, ada kurang lebih 100 miliar sel saraf otak di bagian ini. Materi abu-abu berfungsi sebagai kontrol otot dan persepsi sensorik. Sementara itu, materi putih penuh dengan kumpulan serabut saraf yang menghubungkan berbagai bagian otak.

Sebagai informasi, materi abu-abu pada otak biasanya juga memainkan peranan penting dalam memori, perhatian, kesadaran persepsi, pikiran, bahasa, dan alam sadar manusia. Sedangkan, materi putih memainkan peranan untuk menghubungkan pusat-pusat informasi yang didapatkan oleh otak.

Sebelum sampai pada kesimpulan, para ilmuwan memperhitungkan sejumlah hal yang memengaruhi volume otak, termasuk usia, tekanan darah tinggi, tingkat aktivitas fisik, dan apakah ia merokok atau tidak.

Indeks massa tubuh dan volume otak

Hasil penelitian pada akhirnya menunjukkan beberapa hubungan antara lemak tubuh dan ukuran otak. Pertama, orang-orang yang memiliki IMT dan rasio pinggang-pinggul lebih tinggi memiliki volume otak terendah secara keseluruhan.

Sementara, mereka yang memiliki IMT tinggi, memiliki volume otak yang sedikit lebih rendah daripada mereka yang tidak. Faktanya, memang terdapat hubungan antara kelebihan berat badan dan penurunan ukuran di daerah otak, yang terkait dengan motivasi dan penghargaan.

Hammer dan koleganya kemudian menjelaskan bahwa obesitas, khususnya di bagian tengah atau perut, dapat dikaitkan dengan penyusutan otak. Namun, ditegaskan bahwa sulit untuk mengatakan apakah hasil ini akan berlaku untuk populasi umum.

"Hasil ini akan membutuhkan penelitian lebih lanjut. Tetapi mungkin saja suatu hari nanti mengukur IMT dan rasio pinggang-pinggul secara teratur dapat membantu menentukan kesehatan otak," tutup Prof. Hammer.

Meski penelitian mengenai obesitas yang dapat menyebabkan penyusutan otak masih membutuhkan penelitian lainnya, setidaknya apa yang dilakukan Hammer dan rekannya memberikan gambaran bagaimana obesitas berbahaya bagi otak. Jadi, hindari kondisi kegemukan dengan asupan sehat dan olahraga teratur.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar