Sukses

Fakta di Balik Mitos Keliru Seputar Penyakit Kusta

Pernah dengar istilah penyakit kusta? Banyak mitos keliru yang beredar tentang penyakit yang satu ini. Jangan sampai Anda terjebak!

Klikdokter.com, Jakarta Tanggal 27 Januari diperingati sebagai Hari Kusta Sedunia. Dimulai pada tahun 1954 oleh filantropis asal Perancis, Raoul Follereau, peringatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kusta atau juga dikenal dengan penyakit Morbus Hansen.

Kusta itu sendiri adalah penyakit infeksi yang berlangsung menahun. Penyakit ini menyerang kulit, saraf tepi, saluran napas atas, dan dapat menjalar ke organ-organ lain kecuali sususan saraf pusat.

Mitos fakta kusta

Kusta terus mengintai seluruh penduduk dunia, termasuk Indonesia. Tak heran, penyakit ini diselimuti berbagai anggapan yang sebenarnya bertentangan dengan fakta medis.

Ini dia mitos dan fakta seputar penyakit kusta:

1. Kusta sangat menular, bahkan dengan bersentuhan

Ini adalah anggapan yang salah dan merupakan mitos belaka. Faktanya, sekitar 95% orang dewasa tidak dapat tertular kusta dengan mudah karena mereka memiliki sistem kekebalan yang mampu melawan bakteri penyebab penyakit ini.

Dengan kata lain, selama Anda tidak mengalami gangguan pada sistem kekebalan tubuh, kusta tidak akan menular semudah yang dipikirkan orang kebanyakan. Jadi, janganlah takut untuk berinteraksi dengan penyandang kusta, ya!

2. Kusta menyebabkan jari tangan dan kaki putus

Jari tangan atau kaki penderita kusta tidak terputus karena kuman penyebab penyakit tersebut. Lantas, mengapa banyak penderita kusta yang jari tangan atau kakinya perlu diamputasi?

Faktanya, bakteri penyebab kusta menyerang saraf jari tangan dan kaki sehingga bagian tubuh tersebut menjadi mati rasa. Keadaan ini menyebabkan penderita kusta rentan mengalami luka pada tangan dan kaki yang tidak tertangani dengan baik. Alhasil, infeksi maupun kerusakan permanen bisa saja terjadi di bagian tubuh tersebut, dan terkadang berakhir pada amputasi.

3. Penderita kusta perlu tinggal di ruang isolasi

Menurut penelitian, mereka yang mengalami penyakit kusta dapat hidup normal di tengah keluarga dan teman-temannya selama mengonsumsi antibiotik yang diberikan oleh dokter secara tepat. Ini artinya, penyandang kusta yang mendapatkan pengobatan dapat menjalani kegiatannya sehari-hari dan tidak perlu mendapatkan perawatan khusus di ruang isolasi.

4. Kusta bisa menular jika Anda duduk di sebelah penderita

Pendapat ini salah dan perlu diluruskan. Anda tidak dapat tertular kusta melalui kontak biasa, seperti berjabatan tangan, duduk di sebelah atau berbicara dengan seseorang yang mengalami penyakit tersebut.

5. Penderita kusta bisa menularkan penyakitnya hingga pengobatan selesai

Seseorang yang didiagnosis menderita kusta dan telah mengonsumsi jenis antibiotik yang tepat sesuai dosis yang dianjurkan tidak akan menularkan penyakitnya. Jadi, Anda tidak perlu khawatir untuk berinteraksi dengan penderita kusta selama dirinya benar-benar mengonsumsi antibiotik sesuai dengan anjuran yang diberikan oleh dokter. Perlu diketahui, antibiotik untuk kusta perlu terus dikonsumsi oleh penderita kira-kira selama dua tahun.

Setelah mengetahui fakta di balik mitos keliru seputar kusta, diharapkan Anda tak lagi menaruh stigma negatif pada penyakit ini. Pastikan pula Anda tak lagi memandang sebelah mata pada orang yang menjadi korban dari penyakit dengan nama lain Morbus Hansen atau lepra ini. Mari berantas penyakit kusta, dan tetap rangkul penderitanya. Selamat Hari Kusta Sedunia!

(NB/ RVS)

1 Komentar