Sukses

Apakah Diet Detoks Benar-benar Bermanfaat bagi Tubuh?

Diet detoks diyakini dapat membersihkan racun dalam tubuh. Namun benarkah manfaatnya bagi tubuh sebesar itu?

Klikdokter.com, Jakarta Satu dari berbagai jenis diet yang sampai saat ini masih diminati adalah diet detoks. Diet ini mengklaim dapat membersihkan darah dan mengeliminasi racun berbahaya dari tubuh.

Tak sedikit yang tergoda oleh klaim tersebut. Namun, sebelum mencobanya, ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui seputar diet detoks, dan apakah benar diet ini benar-benar bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Detoksifikasi alias detoks adalah intervensi diet jangka pendek yang tujuannya adalah untuk menghilangkan racun dari tubuh. Secara tipikal, diet detoks melibatkan periode puasa, diikuti dengan diet buah, sayur, jus buah, dan air. Kadang, detoks juga menggunakan bahan herbal, teh, suplemen, dan pembersihan usus besar.

Detoks diklaim dapat: mengistirahatkan organ dengan berpuasa, menstimulasi hati untuk menghilangkan racun, mempromosikan eliminasi racun lewat tinja, urine, dan keringat, meningkatkan sirkulasi, serta memberikan tubuh nutrisi sehat.

Terapi detoks umumnya direkomendasikan karena potensi paparan kimia berbahaya di lingkungan sekitar atau karena pola makan Anda. Ini mencakup polutan, kimia sintetis, logam berat, dan senyawa berbahaya lainnya.

Diet detoks juga diklaim dapat membantu beberapa kondisi kesehatan termasuk obesitas, gangguan pencernaan, penyakit autoimun, inflamasi, alergi, perut kembung, dan kelelahan kronis. Meski demikian, penelitian mengenai diet detoks masih sedikit sekali. Kalaupun ada, penelitian tersebut masih punya banyak kekurangan.

Berbagai racun yang bisa dibuang dengan diet detoks

Diet detoks jarang mengidentifikasi racun spesifik yang ingin dihilangkan. Mekanisme bagaimana diet ini bekerja juga masih belum jelas. Faktanya, terlalu sedikit bukti bahwa diet detoks dapat menghilangkan racun dari tubuh.

Ada beberapa racun yang bisa dengan dihilangkan oleh diet detoks, termasuk persistent organic pollutants (POPs), phthalates, bisphenol A (BPA), dan logam berat. Ini cenderung dapat terkumulasi di jaringan lemak atau darah, dan butuh waktu yang lama—bahkan hingga tahunan—untuk akhirnya bisa dikeluarkan dari tubuh.

Faktanya, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk melakukan detoksifikasi secara alami. Dikatakan oleh dr. Vito A. Damay, SpJP(K), M.Kes, FIHA, FICA, dari KlikDokter, racun-racun dan zat sisa metabolisme tubuh akan dikeluarkan melalui keringat, pernapasan, feses, urine.

Mekanisme tentu akan berjalan baik jika organ-organ tubuh seperti jantung, paru, dan ginjal berfungsi dengan baik pula. Karenanya, selama Anda menjaga fungsi tubuh tetap sehat, maka detoksifikasi secara alami akan berjalan dengan baik pula. Meski demikian, zat-zat kimia tersebut umumnya telah dihilangkan atau dibatasi dari berbagai produk komersil.

1 dari 2 halaman

Seberapa efektif diet detoks?

Sebagian kalangan masyarakat melaporkan bahwa mereka lebih fokus dan berenergi selama dan setelah diet detoks. Meski demikian, perbaikan ini bisa jadi disebabkan karena penghilangan makanan olahan, alkohol, dan zat tak sehat lainnya dari pola makan Anda.

Pada saat diet, biasanya asupan vitamin dan mineral jadi lebih banyak. Sehingga beberapa orang melaporkan bahwa merasa tak enak badan selama masa diet.

Mengenai kemampuan diet ini dalam menurunkan berat badan, studi yang menelitinya masih sangat sedikit. Sementara pada beberapa orang terjadi penurunan berat badan yang cepat, efek ini bisa jadi karena kehilangan cairan dan cadangan karbohidrat, bukan lemak. Berat badan yang menyusut ini biasanya akan kembali naik dengan cepat saat sudah berhenti diet.

Satu studi mengenai kelebihan berat badan wanita di Korea meneliti khasiat diet detoks lemon, dimana pelakunya hanya mengonsumsi campuran sirop maple organik atau sirop kelapa selama tujuh hari.

Diet ini memang secara signifikan mengurangi berat badan, indeks massa tubuh, persentase lemak tubuh, rasio pinggang-pinggul, lingkar pinggang, penanda inflamasi, resistensi insulin, dan sirkulasi kadar leptin (hormon kenyang). Jika diet detoks melibatkan pembatasan kalori ekstrem, tentu saja bisa bikin berat badan turun dan meningkatkan kesehatan metabolik—tapi tidak membantu Anda menjaga berat badan dalam jangka waktu panjang.

Beberapa variasi diet detoks juga punya kemiripan dengan puasa intermiten atau puasa jangka pendek. Puasa jangka pendek memang bisa meningkatkan berbagai penanda penyakit pada beberapa orang, termasuk peningkatan leptin dan sensitivitas insulin.

Meski begitu, efek ini tidak dirasakan semua orang. Studi pada wanita yang melakukan puasa selama 48 jam atau pengurangan asupan kalori selama 3 minggu menunjukkan kemungkinan adanya peningkatan hormon stres. Diet ketat memang bisa bikin stres karena harus menahan banyak godaan sekaligus menahan rasa lapar ekstrem.

Jadi, apakah diet detoks perlu dilakukan?

Menjawab pertanyaan besar tersebut, dr. Vito dengan tegas mengatakan, tidak. “Selama Anda menjaga pola makan sehat dan olahraga rutin sebagai bagian dari keseharian, maka dengan sendirinya proses detoksifikasi sudah berlangsung tanpa Anda sadari,” ungkapnya.

Saran dr. Vito daripada Anda melakukan diet ekstrem, akan lebih baik jika Anda menerapkan pola makan yang sehat dan teratur dan konsisten, serta melakukan ini:

  • Olahraga intensitas tinggi seperti lari maraton dan rutin aerobik.
  • Perbanyak menu makanan yang berwarna hijau dan oranye, yang mengandung serat tinggi. Ini baik untuk pencernaan.
  • Minum air putih setiap hari, setidaknya 1,5-2 liter per hari untuk memastikan sirkulasi dan metabolisme berjalan baik.
  • Mens sana incorpore sano—dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ini berlaku juga sebaliknya. Apa yang ada pada pikiran dan jiwa dapat memengaruhi kesehatan jasmani.

Daripada melakukan diet detoks yang kerap diandalkan untuk solusi instan, lebih baik perbaiki gaya hidup Anda. Meski klaim dari diet detoks sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, tapi belum ada penelitian yang bisa benar-benar membuktikannya. Jadikanlah gaya hidup sehat sebagai bagian dari keseharian Anda agar manfaatnya terhadap tubuh bisa optimal, termasuk dalam hal detoksifikasi.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar