Sukses

Mengenal Penyebab di Balik Sifat Narsisme

Sifat narsisme bisa dialami siapa saja, termasuk diri Anda sendiri. Cari tahu penyebab narsisme di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Sifat narsisme atau kerap disingkat narsis, menggambarkan bahwa seseorang dengan kondisi tersebut begitu mencintai dirinya sendiri. Pengidap narsisme mengagumi diri sendiri secara berlebihan, bersikap egois secara ekstrem, dan memandang dirinya lebih dibanding siapa pun di dunia ini. Tak ayal, rasa percaya diri yang mereka miliki terlampau tinggi.

“Gangguan kepribadian narsistik adalah gangguan yang terutama terdiri dari merasa diri penting secara berlebihan, kebutuhan untuk haus untuk dikagumi terus-menerus dari orang lain, dan kurangnya empati untuk orang lain,” ujar dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter.

Pada dasarnya, sisi narsisme dimiliki oleh semua orang, tapi jika berlebihan maka sudah masuk pada ranah gangguan kepribadian. Lantas, jika semua orang memiliki sisi narsisme, mengapa ada beberapa orang yang memiliki sifat tersebut secara menonjol? Dan, apa penyebabnya?

Sejumlah penyebab narsisme

Seperti dilansir dari Psychology Today, diketahui bahwa sifat narsisme timbul dari pemikiran destruktif seseorang yang terbentuk akibat berbagai macam hal. Salah satunya pengalaman menyakitkan. Seiring berjalannya waktu, “luka” tersebut menganga dan butuh ditutupi.

Terkait hal tersebut, narsisme hadir sebagai bentuk proteksi diri individu tertentu sebelum pihak luar berusaha menyakiti dirinya. Pada individu narsistik, suara dalam batin mereka mengarahkan untuk menjatuhkan harga diri orang lain untuk membuat mereka merasa lebih baik.

Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa sifat narsisme dapat terjadi sejak usia anak-anak karena pola asuh orang tua yang berlebihan dalam memberikan sanjungan. Menurut penelitian tersebut, terlalu memuji anak dan menganggapnya lebih unggul daripada orang lain sebenarnya tidak baik.

Orang tua yang berlebihan menyanjung anak tidak selalu menyampaikan cinta, kehangatan, atau pengasuhan secara nyata. Upaya tersebut dilakukan agar percaya dan membesarkan hatinya. Padahal, bila dilakukan terus-menerus, itu adalah jembatan pembentuk narsisme.

Para ahli berpendapat bahwa pada kehidupan pengidap gangguan narsisme, realita mengajari mereka bahwa menjadi diri sendiri tidak akan membuat kondisi jadi lebih baik. Satu-satunya cara adalah berusaha tampil secara unggul dibandingkan orang sekitar.

Memahami sifat narsisme lebih lanjut

Melihat kondisi tersebut, satu-satunya cara untuk menghadapi orang dengan sifat narsisme adalah mencoba untuk lebih paham kondisi mereka. dr. Vita membeberkan kondisi pengidap gangguan narsisme, yakni:

  • Merasa nyaman dengan khayalan akan keberhasilan, kekuatan, dan kecantikan tak terbatas.
  • Kepercayaan bahwa dirinya spesial dan unik.
  • Kebutuhan akan kekaguman dari orang lain secara berlebihan.
  • Perasaan yakin akan pemberian gelar.
  • Kecenderungan menjadi meledak-ledak antar-individu.
  • Kekurangan empati terhadap orang lain.
  • Sering cemburu terhadap orang lain atau percaya bahwa orang lain juga cemburu terhadapnya.
  • Menunjukkan keangkuhan, perilaku atau sikap yang sombong.

Lalu, bagaimana cara mengatasi sifat narsisme? Jika narsisme muncul dalam taraf normal, tidak apa-apa. Namun, jika Anda sudah tak nyaman, pengidap narsisme dapat berkonsultasi dengan psikolog dan melakukan psikoterapi.

“Psikoterapi dianggap sebagai salah satu metode terbaik dalam pengobatan gangguan kepribadian narsistik,” tutur dr. Vita.

Pahami penyebab sifat narsisme sesuai penjelasan di atas. Jika kondisi tersebut sudah sangat mengganggu, secara temui dokter atau psikolog. Tak cuma itu, dukungan orang-orang terdekat seperti keluarga juga penting untuk membantu penderita narsisme.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar