Sukses

Vernix Caseosa pada Bayi Baru Lahir, Apa Sebabnya?

Bayi baru lahir sering kali dipenuhi dengan vernix caseosa pada kulitnya. Apa ini dan apa sebabnya?

Klikdokter.com, Jakarta Vernix caseosa adalah lapisan tebal, berwarna putih, serta serupa keju yang sering kali menutupi kulit bayi. Sangat wajar apabila bayi baru lahir dipenuhi vernix caseosa pada kulitnya, bahkan di lipatan-lipatan kulit. Lapisan ini terbentuk sejak dalam kandungan dan bisa tetap bertahan hingga bayi lahir. Apa sebabnya?

Vernix caseosa umumnya terbentuk pada sekitar usia kehamilan 20 minggu. Di dalam kandungan, bayi memiliki lapisan luar kulit sementara yang dikenal dengan periderm. Lapisan ini akan mengelupas dan digantikan dengan stratum korneum, seperti pada manusia umumnya. Periderm yang mengelupas akan bercampur dengan lemak (sebum) dari kelenjar sebasea, sehingga membentuk vernix caseosa.

Bayi dengan berat rendah serta bayi yang lahir sebelum waktunya (misalnya lahir sebelum usia kehamilan 28 minggu dan berat kurang dari 1.000 gram) sering kali memiliki stratum korneum yang belum matang serta belum kompeten. Sehingga, sering kali lahir tanpa lapisan vernix caseosa.

Sebagian besar (81 persen) bagian dari vernix caseosa adalah air. Sisanya adalah lemak (9 persen) serta protein (10 persen). Lapisan ini terbentuk mulai dari kepala hingga bagian bawah tubuh (cephalocaudal) mengikuti pematangan lapisan kulit, serta akan melapisi kulit bayi hingga lahir.

Fungsi perlindungan vernix caseosa

Vernix caseosa memiliki fungsi perlindungan, terutama semasa transisi dari dalam kandungan hingga kehidupan di luar kandungan. Vernix caseosa dapat tercampur dalam air ketuban, sehingga dapat tertelan oleh bayi dalam kandungan. Hal ini ternyata memiliki manfaat untuk perkembangan saluran pencernaan bayi.

Lapisan ini juga membentuk proteksi bagi kulit bayi serta memberi kesempatan pertumbuhan kulit dalam kondisi yang basah (dalam kandungan, bayi dikelilingi oleh air ketuban). Sederhananya begini, jika Anda berenang dalam waktu lama, kulit akan berkerut. Namun, kulit bayi yang tinggal 9 bulan yang dikelilingi air ketuban tidak demikian berkat vernix caseosa. Selanjutnya, lapisan ini bisa membantu mengurangi gesekan bagian tubuh janin semasa persalinan.

Setelah lahir, vernix caseosa dapat membantu pengaturan suhu tubuh bayi. Semasa dalam kandungan, suhu tubuh bayi akan diatur mengikuti suhu tubuh ibunya. Namun, setelah lahir bayi perlu mengatur tubuhnya secara mandiri. Oleh karena itu, ada anjuran untuk menunda memandikan bayi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyarankan untuk membiarkan lapisan vernix caseosa pada kulit bayi setelah lahir.

Bayi akan mengalami beberapa perubahan pada kulitnya setelah lahir, antara lain berkurangnya hidrasi pada permukaan kulit, penurunan pH kulit (pH yang lebih asam dapat membantu mengurangi pertumbuhan bakteri patogen), serta dehidrasi dan pengelupasan stratum korneum sehingga permukaan kulit menjadi kering. Adanya vernix caseosa dapat membantu melembapkan kulit bayi, serta memfasilitasi proses perubahan pH kulit bayi.

Selanjutnya, vernix caseosa juga mengandung antioksidan, sehingga bermanfaat setelah bayi melewati proses persalinan dengan tingkat stes oksidatif yang tinggi. Lapisan ini juga melindungi dari infeksi bakteri, serta memiliki sifat antiradang.

Menariknya, vernix caseosa hanya ditemukan pada manusia. Saat ini, adanya lapisan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan diagnostik serta prognostik. Misalnya saja emboli air ketuban setelah persalinan dapat dikonfirmasi dengan adanya vernix caseosa dalam darah arteri pulmoner. Analisis vernix caseosa juga dapat dimanfaatkan untuk menentukan kematangan janin serta estimasi berat badan janin, sehingga membantu pertimbangan induksi persalinan. Adanya vernix caseosa dalam urine wanita melahirkan dapat menjadi tanda adanya ruptur rahim.

Vernix caseosa, yaitu lapisan tebal, berwarna putih, serta serupa keju memang bisa bertahan pada kulit bayi baru lahir. Namun, ini tak perlu dikhawatirkan. Sebab, lapisan kulit tersebut dapat menjadi pelindung bayi untuk beradaptasi dengan lingkungan di luar rahim setelah dilahirkan.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar