Sukses

4 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menerima Donor ASI

Sebelum Anda memutuskan untuk menerima donor ASI dari pihak lain, beberapa hal ini harus Anda perhatikan.

Klikdokter.com, Jakarta ASI adalah makanan sempurna untuk bayi Anda. Dan, ASI terbaik untuk bayi adalah yang berasal dari ibunya. Namun, jika Anda tidak dapat memberikan ASI, donor ASI mungkin dapat menjadi solusi.

Menurut dr. Karin Wiradarma dari Klikdokter, pada keadaan tertentu, bisa saja ASI yang dihasilkan ibu tidak cukup.

“Kondisi ini bisa dipicu oleh adanya kelainan atau Anda melahirkan prematur, sehingga ASI belum siap untuk diproduksi,” kata dr. Karin. Ditambahkannya, bahwa pada keadaan-keadaan tersebut alternatif donor ASI bisa dipertimbangkan.

Apakah donor ASI aman?

Dinukil dari aimi-asi.org, berbeda dengan di negara maju yang telah memiliki bank ASI, di Indonesia praktik pemberian dan penerimaan ASI donor dilakukan sendiri oleh para ibu dan keluarga. Hal ini menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak apakah donor ASI aman, dan adakah risiko kesehatan yang mungkin timbul.

Bagaimanapun, ASI donor mungkin membawa penyakit, baik akibat tidak higienisnya penyiapan dan penyimpanannya, maupun dari sisi kesehatan ibu yang memerah ASI. Beberapa penyakit yang paling dikhawatirkan ditularkan melalui ASI perah di antaranya HIV/AIDS, hepatitis B dan C, CMV (cytomegalovirus), dan HTLV (human T lymphotropic virus).

Beberapa hal harus Anda pastikan sebelum memberikan ASI donor kepada buah hati Anda.

1. Mengecek latar belakang pendonor

Ini adalah salah satu tahapan yang penting. Anda harus mengecek dan mengenal secara baik ibu yang akan memberikan ASI-nya pada bayi Anda. Misalnya, Anda bisa memperhatikan gaya hidupnya (apakah merokok, minum alkohol, bergadang) dan riwayat kesehatannya (pernah terserang penyakit, obat apa saja yang dikonsumsi, dll). Ini penting supaya Anda yakin betul ASI yang ibu donor berikan berkualitas baik.

2. Minta skrining

Jika seorang ibu bersedia menjadi donor, dia juga harus bersedia diskrining untuk mengecek apakah ada virus HIV 1 & 2, hepatitis B&C, sifilis, dan HTLV 1 & 2. Ini dilakukan demi keamanan dan kesehatan bayi Anda.

Ditambahkan oleh dr. Karin, ASI adalah cairan tubuh, sama seperti darah. Oleh sebab itu, ASI pun harus diperlakukan dengan hati-hati seperti darah. “Seperti cairan tubuh lainnya, ASI juga dapat menularkan virus dan penyakit yang tidak diinginkan,” dia menjelaskan.

3. Pendonor ASI harus jaga kebersihan

Pendonor ASI juga harus dibekali pengetahuan tentang cara memerah dan menyimpan ASI secara higienis. “Setiap kali sebelum memerah ASI, pendonor ASI harus mencuci tangan dan semua perlengkapan pompa ASI dengan bersih. Pompa ASI juga wajib disterilkan dengan air panas atau alat steril,” tutur dr. Karin.

4. Lakukan pasteurisasi atau panaskan dulu

Lakukan pasteurisasi pada ASI donor untuk menghilangkan organisme yang menginfeksi yang bisa saja ada dalam susu. Sebagian nutrisi dan zat imun mungkin ikut hilang dalam proses pasteurisasi, tetapi Anda tetap mendapatkan manfaat lebih banyak.

Terkait hal ini, dr. Karin menjelaskan caranya. “Tempatkan ASI sebanyak 50-150 ml di dalam wadah botol kaca (misalnya botol sisa selai yang berukuran 450 ml).”

Selanjutnya, tutup wadah kaca tersebut dan masukkan ke dalam panic aluminium berukuran 1 liter. Tuangkan air mendidih sebanyak 450 ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panci. Setelah dipanaskan, tunggu selama 30 menit. Lalu angkat botol susu, dinginkan, dan berikan kepada bayi.

Selain empat hal di atas, yang perlu Anda perhatikan juga adalah ASI donor sebaiknya disimpan di dalam botol kaca, setelah telah disterilkan terlebih dahulu. Sebaiknya, ASI tidak disimpan ke dalam kantong plastik penyimpan ASI. Setelah dimasukkan ke dalam botol kaca, bekukan ASI di dalam freezer. Lebih baik lagi bila ASI dikirim kepada bayi yang membutuhkan dalam waktu setidaknya 24 jam sejak pemerahan.

Satu hal penting yang perlu Anda perhatikan, donor ASI adalah solusi sementara untuk masalah darurat dalam pemberian ASI bagi bayi. Bila Anda mengalami masalah dan berniat menggunakan donor ASI, sebelumnya Anda dapat berkonsultasi dengan dokter dan membaca artikel ini.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar