Sukses

Hati-Hati, Suntik Filler pada Bibir Bisa Berakibat Fatal

Janjikan hasil instan, wanita berbondong-bondong bikin janji untuk suntik filler bibir. Hati-hati, jika sembarangan akibatnya bisa fatal!

Klikdokter.com, Jakarta Kira-kira sudah satu dekade lamanya tren suntik filler dilirik banyak wanita untuk mempercantik dan menyempurnakan bentuk wajahnya. Apalagi hasilnya bisa terlihat hanya dengan satu kali tindakan dan harganya jauh lebih terjangkau ketimbang prosedur bedah plastik. Tindakan ini bisa dilakukan di pipi, hidung, dagu, rahang, dan tentunya bibir. Meski banyak pelanggan yang puas dengan suntik filler pada bibir, tapi metode ini memiliki risiko yang akibatnya bisa fatal. Tak percaya?

Ada sebuah kasus di Inggris yang menunjukkan bahaya fatal dari suntik filler. Seorang wanita berusia 29 tahun melakukan suntik filler di bibirnya dalam sebuah pesta bersama dengan teman-temannya.

Alih-alih mendapatkan bentuk bibir yang diidamkan, wanita tersebut justru mengalami bengkak, kemerahan, dan luar biasa kesakitan setelah penyuntikan dilakukan. Beruntung, berkat pertolongan segera di rumah sakit, kondisi bibirnya bisa dipulihkan seperti sedia kala.

Bercermin dari kejadian di atas, sudah semestinya suntik filler pada bibir harus direncanakan secara matang. Misalnya dengan berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu, mengetahui segala efek sampingnya, termasuk pemilihan tempat yang aman dan terpercaya untuk melakukan tindakan tersebut.

Reaksi pada bekas penyuntikan

Salah satu hal yang dapat terjadi setelah penyuntikan filler di bibir adalah timbulnya reaksi tertentu di tempat penyuntikan. Walaupun teknik dan prosedur suntik filler sudah tepat, tapi efek seperti ini cukup sering terjadi.

Reaksi yang dialami dapat berupa kemerahan, kebiruan, bengkak, maupun gatal. Namun tak perlu khawatir, umumnya efek ini akan hilang setelah beberapa hari dengan bantuan kompres es. Meski begitu, jika efek berlanjut atau bertambah parah, sebaiknya segera periksakan karena terdapat risiko terjadinya infeksi.

Infeksi di bekas penyuntikan sebenarnya sangat jarang dialami. Namun, jika ini sampai terjadi pada Anda, infeksi harus segera ditangani dengan pemberian antibiotik.

Sumber infeksi ini dapat berasal dari bakteri permukaan kulit seperti Staphylococcus epidermidis atau Propionibacterium acnes yang masuk melalui lubang tempat jarum disuntikkkan. Agar infeksi ini tidak terjadi, hindari suntik filler apabila terdapat luka maupun area infeksi di sekitar bibir ataupun bagian dalam mulut.

1 dari 2 halaman

Komplikasi akibat kesalahan teknik penyuntikan

Tidak tepatnya prosedur suntik filler juga dapat memunculkan reaksi tertentu. Misalnya, jika penyuntikan terlalu dangkal, maka bisa terbentuk benjolan yang menyerupai bisul setelah suntikan diberikan.

Selain benjolan, suntikan yang terlalu dangkal juga dapat menimbulkan keluhan gatal, kemerahan, hingga terbentuknya jaringan parut pada bibir. Tak hanya itu, kedalaman penyuntikan filler yang tidak tepat juga dapat mencederai pembuluh darah dan dapat mengakibatkan kebiruan di lapisan bawah kulit. Untuk mengatasi benjolan yang terlanjur terbentuk, dapat dilakukan penyedotan maupun pembedahan ringan untuk mengeluarkan isi filler.

Sebagai akibat tidak tepatnya kedalaman penyuntikan, reaksi juga dapat terjadi akibat kelebihan volume filler yang disuntikkan ke bibir. Ukuran bibir bisa menjadi sangat besar, jauh melebihi ukuran yang diharapkan. Pada filler yang berbahan dasar asam hialuronat, kelebihan volume dapat dikoreksi dengan menyuntikkan penetralnya, yaitu hialuronidase.

Tidak semua orang bisa menjalani suntik filler bibir. Orang-orang dengan kondisi medis tertentu, seperti penderita diabetes, lupus, herpes oral, memiliki alergi tertentu, dan orang yang memiliki masalah dengan pembekuan darah tak boleh melakukan tindakan ini.

Beragam reaksi yang dijelaskan di atas sudah sepatutnya menjadi bahan pertimbangan sebelum memutuskan untuk melakukan suntik filler pada bibir. Carilah informasi selengkap mungkin, serta pastikan tindakan ini dilakukan di fasilitas yang tepat oleh profesional seperti dermatolog, dokter bedah kecantikan, ahli farmasi, atau terapis kencantikan yang sudah mengantongi sertifikat. Jangan asal pilih, apalagi dengan iming-iming harga murah meriah, karena kalau salah pilih akibatnya bisa fatal.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar