Sukses

Homesick, Rindu Biasa atau Gangguan Emosi?

Kala merantau, kadang kangen rumah atau homesick bisa bikin Anda meneteskan air mata. Apakah ini sekadar rindu biasa atau gangguan emosi?

Klikdokter.com, Jakarta Bekerja atau menimba di luar kota maupun luar negeri hingga hitungan tahun tentu bisa bikin homesick. Kangen makanan rumah, orang tua, atau teman-teman bisa bikin para perantau kesepian, sedih, hingga meneteskan air mata. Apakah homesick ini tergolong rindu biasa atau bentuk dari gangguan emosi?

Mungkin pada minggu-minggu pertama kepindahan, semua hal yang baru bikin antusias. Bertemu teman baru, terekspos budaya dan gaya hidup yang belum pernah dirasakan sebelumnya, atau pemandangan yang sangat berbeda dari kampung halaman. Namun, itu semua bisa berubah, mulai terbayang wajah-wajah anggota  keluarga, sahabat di tempat asal, hingga makanannya. Ya, saat itulah Anda merasa homesick.

Homesick itu gejala biasa

Dilansir dari laman CNN, para ahli menganggap bahwa homesick pada dasarnya bukanlah gangguan emosi atau penyakit mental apa pun. Homesick berasal dari kebutuhan naluriah seseorang akan kasih sayang, perlindungan, dan rasa aman. Menurut Josh Klapow, seorang psikolog klinis dan profesor di University of Alabama’s School of Public Health, Amerika Serikat, ketiga rasa tersebut sangat identik dengan rumah. Itulah mengapa ketika seseorang tidak mendapatkan ketiganya dari lingkungan baru, ia akan mengalami homesick.

“Anda merasa benar-benar kehilangan apa yang disebut dengan rumah. Anda kehilangan rutinitas normal dan ruang sosial yang besar untuk bertahan hidup,” tutur Josh.

Munculnya perasaan homesick dalam diri seseorang menurutnya sangat wajar dan tak perlu dianggap sebagai gangguan emosi akut yang perlu dikhawatirkan. Pasalnya, homesick hanya berupa gelombang emosi yang tidak permanen, alias bisa datang dan pergi.

Perasaan rindu bisa datang ketika Anda belum mendapatkan apa yang sebelumnya telah Anda dapatkan dari tempat asal. Perlahan, jika Anda sudah menemukan suatu celah atau kenyamanan yang serupa atau sama di lingkungan yang baru, homesick akan menghilang dan jarang mengganggu.

Memang, saat homesick menyerang, Anda akan mengalami gejala seperti sedih dan cemas. Namun sekali lagi, ini tak perlu ditakuti karena akan menghilang dengan sendirinya. Lagi pula, ketika Anda merasa homesick, kondisi tersebut menandakan bahwa Anda telah keluar dari zona nyaman, yang apabila dilihat secara positif itu merupakan tindakan berani yang perlu diacungi jempol.

1 dari 2 halaman

Cara mencegah homesick

Perasaan homesick tak cuma bisa dipicu oleh si perantau saja, melainkan dari orang lain, terutama orang tua. Dikutip dari CNN, bagi para orang tua atau jika Anda adalah orang tua yang punya anak tengah merantau, lakukan ini:

  • Hindari mengungkapan perasaan rindu dan cemas berlebihan. Ketimbang selalu mengungkapkan hal itu, nyatakanlah kalimat-kalimat optimis yang bisa membangkitkan semangat anak Anda. Tanyakan tentang pengalaman anak saat berada di sana.
  • Jangan selalu mengandalkan sambungan telepon atau video call, sebab keduanya bisa memicu kerinduan yang mendalam. Bahkan, saat satu pihak terdengar atau terlihat menangis, pihak lainnya bisa terpengaruh untuk menangis.
  • Ingatkan anak untuk selalu mencari teman dekat agar dirinya tidak kesepian dan selalu berusaha untuk tidak putus komunikasi dengan teman-temannya di kampung halaman. Semakin cepat ia mendapatkan teman, maka makin mudah ia untuk beradaptasi.
  • Hindari membuat janji-janji yang cenderung bikin anak terus menanti janji itu. Sehingga, ia tidak akan fokus terhadap keadaan sekitar yang seharusnya lebih ia pedulikan.

Homesick pada dasarnya merupakan luapan emosi rindu yang normal, bukanlah gangguan emosi akut atau penyakit mental yang perlu dikhawatirkan. Homesick akan hilang dengan sendiri setelah beberapa waktu atau hingga perantau menemukan titik kenyamanan yang serupa atau sama di lingkungan barunya.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar