Sukses

Hindari Stroke dengan Melakukan 5 Kebiasaan Sehat Ini

Stroke bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Anda dapat menghindarinya dengan konsisten menjalani kebiasaan sehat ini.

Klikdokter.com, Jakarta Beberapa hari terakhir ini, Indonesia kehilangan dua figur publik yang memiliki peran penting dalam bidangnya masing-masing. Pakar media sosial dan pemasaran digital, Nukman Luthfie (54), meninggal dunia pada Sabtu (12/1) malam di Yogyakarta akibat stroke. Pria kelahiran Semarang tersebut meninggal pada serangan stroke kedua yang dialaminya. Sedangkan desainer dan aktor Robby Tumewu (64) yang meninggal pada (Senin14/1) dini hari akibat infeksi paru yang dideritanya, semasa hidup juga pernah mengalami dua kali serangan stroke.

Penyakit stroke – seperti yang pernah dialami oleh mendiang Nukman Luthfie dan Robby Tumewu – bisa terjadi akibat sumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik) yang memperdarahi otak. Kondisi tersebut menyebabkan kerusakan sel otak sehingga kehilangan fungsinya.

Bergantung dengan jumlah darah yang terlibat serta lokasi area stroke di otak, orang yang mengalami stroke dapat menunjukkan berbagai tanda dan gejala. Mulai dari kesulitan bergerak atau berbicara hingga kelemahan otot atau kematian.

Mereka yang memiliki risiko tinggi mendapat serangan stroke, antara lain penderita diabetes mellitus, penderita fibrilasi atrium, perokok, dan orang dengan obesitas. Riwayat serangan stroke pada keluarga atau pernah mengalami serangan stroke sebelumnya juga termasuk ke dalam faktor risiko.

Kiat mencegah stroke dengan mengubah gaya hidup

Meski begitu, Anda tidak perlu khawatir. Stroke dapat dicegah dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih baik. Ini dia lima kebiasaan yang dapat membantu Anda terhindar dari stroke, seperti dilansir berbagai sumber:

  1. Makan sehat dan seimbang

Membangun kebiasaan makan sehat bisa menjadi tantangan bagi sebagian orang. Banyak orang merasa kebingungan dalam menentukan jenis makanan seperti apa yang bernutrisi tinggi serta baik untuk tubuh. Sebenarnya, sederhana saja. Pilihlah makanan kaya antioksidan yang banyak terkandung dalam ikan serta kacang-kacangan.

Tambahkan juga asupan protein ke dalam menu sehari-hari Anda untuk mencegah stroke.  Jika Anda memiliki kolesterol tinggi atau faktor risiko kardiovaskular lainnya, sebaiknya batasi protein hewani. Cobalah untuk lebih fokus dengan sumber protein nabati, seperti kacang-kacangan dan biji-bijian.

Selain itu, hindarilah lemak trans, jenis lemak yang berkontribusi terhadap stroke. Anda dapat menemukannya pada kue-kue, cookies, microwave popcorn, makanan cepat saji, biskuit, dan sebagainya.

  1. Olahraga

Mungkin Anda merasa bosan dengan kata “olahraga”. Terlebih, faktor lain seperti cuaca, kelengkapan alat, hingga suasana hati yang memburuk bisa jadi alasan. Tapi tunggu dulu, olahraga tak perlu ribet, kok. Anda bisa melakukannya di rumah, hanya dengan mengandalkan niat.

Menurut dr. Vito Damay, Sp.JP, seorang ahli jantung dan pembuluh darah, dari KlikDokter, sedapat mungkin berolahragalah setiap hari dalam seminggu. “Jika tidak bisa, lakukan olahraga intensitas sedang sebanyak 5 kali seminggu selama 30 menit. Alternatif lain adalah olahraga intensitas sedang selama 30 menit sampai 1 jam sebanyak 3 kali seminggu.”

Sebagai tambahan, lakukan latihan kekuatan otot (strength training) dan peregangan (stretching) sebanyak 2 kali seminggu.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

  1. Menjaga berat badan ideal

Berat badan berlebih hingga mencapai kategori obesitas sangat riskan terhadap stroke. Maka dari itu, penting untuk menjaga pola makan serta rutin berolahraga agar berat badan selalu dalam rentang ideal. Jika dua metode tersebut tidak berhasil menurunkan berat badan Anda, operasi dapat menjadi pilihan untuk menurunkan risiko kematian terkait obesitas.

Tak hanya obesitas yang dapat meningkatkan risiko stroke, kekurangan berat badan (underweight) juga berbahaya dan dapat berkontribusi terhadap terjadinya stroke. Oleh karena itu, jagalah agar berat badan Anda tetap dalam garis ideal.

  1. Berhenti merokok

Merokok diketahui sebagai pemicu stroke yang paling parah. Kandungan racun yang ada dalam rokok terbukti merusak berbagai organ tubuh. Jika Anda masih memiliki kebiasaan ini, cobalah untuk berhenti secara perlahan.  

Menurut dr. Vito seberapa lama pun Anda pernah merokok, risiko Anda untuk terkena serangan jantung atau stroke dapat berkurang 50% dalam setahun pertama setelah berhenti merokok.

“Setelah 15 tahun berhenti merokok, risiko Anda untuk terkena penyakit tersebut akan sama seperti orang yang bukan perokok,” katanya.

Bagi seorang perokok, tak dimungkiri bahwa berhenti merokok memang sulit. Namun, tidak menjadikannya mustahil. Berkonsultasi dengan dokter perihal terapi berhenti merokok dapat menjadi solusi untuk menghentikan kebiasaan merokok Anda.

  1. Mengurangi konsumsi alkohol

Alkohol diketahui merusak sejumlah sistem tubuh. Sebuah studi menunjukkan bahwa konsumsi alkohol berat dikaitkan dengan stroke. Namun, minum alkohol sesekali dalam jumlah yang wajar tidak dihubungkan dengan stroke. Bahkan, beberapa penelitian mengatakan bahwa red wine dapat menurunkan risiko stroke.

Meski red wine memiliki beberapa komponen yang dianggap aman dan bahkan membantu mencegah stroke, bukti ilmiah yang ada tetap belum cukup. Karena itu, Anda tidak bisa hanya minum red wine untuk mencegah stroke.

Stroke merupakan penyakit yang dapat dicegah. Kebiasaan sehat di atas dapat membantu menghindarkan Anda dari penyakit berbahaya tersebut. Sedini mungkin, pahami juga faktor risiko stroke, dan jika Anda termasuk di dalamnya, cobalah untuk lebih giat lagi dalam menerapkan pola hidup sehat.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar