Sukses

Kenali Pengaruh Obesitas pada Kesehatan Anak

Sekitar 2,6 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat obesitas. Bagaimana dengan anak? Apa pengaruh obesitas bagi kesehatan anak?

Klikdokter.com, Jakarta Masalah obesitas saat ini sedang ramai jadi sorotan, menyusul kondisi kelebihan berat badan yang menimpa Titi Wati, wanita dengan berat kurang lebih 275 kg. Namun, masalah obesitas tidak hanya milik orang dewasa. Menurut catatan WHO (World Health Organization) pada 2016, secara global, kurang lebih ada 41 juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami obesitas. Hampir setengah dari jumlah balita ini tinggal di Asia.

Menurut WHO, kelebihan berat serta obesitas adalah abnormalitas atau kelebihan lemak yang terakumulasi dalam tubuh, serta berisiko bagi kesehatan. Batas angka kelebihan lemak ini dapat berbeda-beda.

Misalnya, WHO menggunakan data Child Growth Standards untuk anak usia 0-5 tahun, serta Growth Reference Data untuk anak usia 5-19 tahun. CDC (Centers for Disease Control and Prevention) mendefinisikan kelebihan berat jika terletak di atas persentil 95 dalam IMT (indeks massa tubuh) untuk usia. Sementara itu, menurut peneliti dari Eropa, seorang anak dikatakan kelebihan berat jika terletak di atas persentil 85, dan obesitas jika terletak di atas persentil 95 untuk IMT.

  • Pengaruh obesitas secara medis

Obesitas bagi anak memberikan banyak pengaruh, baik secara medis, sosio-emosional, hingga pengaruh akademik. Secara medis, masalah yang paling umum timbul adalah diabetes, sleep apnea (gangguan tidur serius, yaitu kondisi pernapasan yang terganggu, umumnya sering terjadi henti napas saat seseorang tidur),  serta masalah pada jantung dan pembuluh darah.

Selain dua hal itu, kondisi medis yang dapat timbul akibat obesitas antara lain masalah saluran pencernaan (batu empedu, perlemakan hati/fatty liver, GERD), masalah saluran pernapasan (asma), masalah pada kulit, kelainan siklus haid, masalah keseimbangan, masalah pada tulang serta sistem musculoskeletal (seperti osteoartritis), serta kolesterol tinggi.

Konsekuensi medis ini umumnya baru dirasakan setelah anak menjadi dewasa. Misalnya, masalah jantung, diabetes, gangguan otot dan tulang. Obesitas bahkan dapat berkaitan dengan beberapa jenis kanker, seperti kanker pada endometrium, payudara, dan kolon.

  • Pengaruh obesitas secara sosio-emosional

Selanjutnya, anak dengan obesitas sering mengalami masalah sosio-emosional. Mereka akan sering mendapat ejekan dan bullying dari teman-temannya. Anak dengan obesitas juga sering mendapat stereotipe negatif, misalnya diasosiasikan malas, lamban, atau jelek.

Selain itu, anak dengan obesitas juga kerap mengalami diskriminasi, misalnya tidak diajak berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan teman sebayanya, terutama jika berhubungan dengan aktivitas fisik.

Jika berlangsung terus-menerus, anak dengan obesitas dapat memiliki rasa harga diri yang rendah, tidak percaya diri, serta persepsi negatif mengenai tubuhnya sendiri. Bahkan, hal ini dapat mengganggu performa akademik mereka.

  • Pengaruh obesitas secara akademik

Tak hanya berdampak pada kondisi medis dan sosial, obesitas juga berpengaruh pada akademik anak. Siswa dengan obesitas dilaporkan empat kali lebih mungkin memiliki masalah di sekolah, jika dibandingkan dengan anak dengan berat badan normal. Anak dengan masalah kesehatan akibat obesitas sering kali bolos sekolah, sehingga mempengaruhi prestasi akademiknya.

Masalah obesitas tidak hanya berhenti pada masa anak-anak saja. Anak dengan obesitas dan kelebihan berat badan lebih mungkin tetap mengalami masalah ini hingga usia dewasa. Selain itu, mereka lebih mungkin mengidap penyakit tidak menular, seperti diabetes dan masalah jantung di usia lebih muda.

Obesitas pada anak disebabkan ketidakseimbangan energi, yakni energi yang masuk lebih banyak daripada energi yang dikeluarkan. Faktor-faktor yang memengaruhi hal ini antara lain pola makan (seperti konsumsi makanan cepat saji, minuman bergula, kebiasaan mengemil berlebihan, serta porsi makan yang cenderung lebih besar), minim aktivitas fisik, serta kebiasaan sedentari.

Sebagai orang tua, cegahlah terjadinya kondisi obesitas pada anak. Dengan demikian, anak Anda akan tumbuh sehat, baik secara fisik dan psikis. Anda bisa mulai dengan mengubah pola makan yang buruk pada anak. Sajikan makanan sehat dan seimbang, serta rutin mengajak anak beraktivitas fisik.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar