Sukses

Pengaruh Buruk Hoaks pada Kesehatan Emosi

Banyak membaca berita bohong atau hoaks akan mengganggu kesehatan emosi Anda. Ini fakta medis selengkapnya.

Klikdokter.com, Jakarta Hoaks atau berita bohong semakin marak beredar di masyarakat. Adanya kemajuan teknologi membuat berita macam itu sangat mudah menyebar. Hal ini tentu  menjadi persoalan serius, karena hoaks bisa memberikan beragam dampak negatif bagi siapa saja, termasuk mengganggu kesehatan emosi.

Didefinisikan oleh Collin’s dictionary, hoaks (fake news) adalah berita yang salah dan umumnya bersifat sensasional serta disebarkan dengan sumber yang disamarkan.

Salah satu contoh hoaks yang sangat terkenal di dunia kesehatan adalah mengenai vaksin MMR dan autisme. Hal tersebut memang sudah dipatahkan oleh berbagai penelitian dan dinyatakan sebagai berita palsu. Namun, masih banyak orang yang khawatir dan enggan membawa anaknya untuk imunisasi karena takut akan mengalami autisme. Itulah hoaks, satu berita yang mengguncang banyak orang dan memberikan efek negatif jangka panjang.

Mengapa orang suka membaca hoaks?

Banyak orang yang mempercayai hoaks, bahkan ikut menyebarkannya. Ada beberapa alasan yang mendasari hal tersebut, di antaranya adalah adanya bias yang membuat pembacanya sudah tidak objektif saat membaca berita, pengaruh dopamin yang menimbulkan efek “ketagihan” membaca hoaks, serta kurangnya pengetahuan.

Secara umum, hoaks memang merugikan. Dalam dunia kesehatan, seperti kasus vaksin dan autisme yang telah disinggung sebelumnya, adanya hoaks membuat angka cakupan imunisasi menurun dan penyakit infeksi meningkat. Di lain pihak, hoaks dalam dunia politik dapat memecah belah masyarakat bahkan bangsa. Membaca hoaks pun dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan sang pembaca.

Para ahli dalam bidang neurologi (saraf) dan psikologi telah melakukan berbagai penelitian observasi untuk mengamati efek membaca hoaks terhadap aktivitas otak. Ternyata membaca pernyataan-pernyataan yang sensasional dan bersifat bohong dapat mengaktifkan area di otak yang disebut amigdala yang bertanggung jawab untuk mengatur berbagai emosi dan identitas diri. Hal ini tampak dari gambaran Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada pembaca hoaks.

Selain menggunakan MRI, para peneliti juga menggunakan pemeriksaan quantitative electroencephalograms (QEEGs) pada para pembaca hoaks. Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan aktivitas otak melalui gelombang-gelombang elektrik. Hasilnya, saat seseorang membaca hoaks, akan terjadi peningkatan aktivitas pada area amigdala, prefrontal cortex, dan insular cortex. Masing-masing area tersebut menimbulkan rasa marah, takut, kecewa, hingga stres.

Berbagai efek tersebut akan menetap dalam jangka waktu yang cukup panjang. Saat tidak sedang membaca berita hoaks pun, rasa marah, takut, kecewa, dan berbagai emosi negatif lainnya tetap dirasakan oleh orang yang hobi baca hoaks. Bila terjadi dalam jangka waktu lama, kesehatan mental sangat mungkin untuk mengalami gangguan.

1 dari 2 halaman

Jadilah pembaca yang cerdas

Untuk menghindari berbagai dampak negatif yang bisa terjadi akibat hoaks, Anda harus menjadi pembaca yang kritis dan cerdas. Beberapa hal sederhana yang harus Anda perhatikan saat membaca sebuah berita atau informasi adalah:

  • Lihat sumber

Perhatikan sumber berita atau informasi yang Anda baca. Pastikan sumbernya dapat dipertanggungjawabkan, seperti dari instasi pemerintah atau portal berita yang terpercaya.

  • Tahan jari Anda

Saat membaca berita di layar ponsel, jangan buru-buru tekan tombol “bagikan”. Selain itu, Anda juga sebaiknya tidak hanya hanya membaca judul berita saja, melainkan bacalah terlebih dahulu seluruh isi berita dan lihat sumbernya.

  • Cross check

Meskipun sebuah berita sudah tampak meyakinkan, biasakan untuk selalu memeriksa ulang kebenaran dari berita tersebut dengan melihat dari sumber lainnya.

  • Cermati gambar

Jangan cepat puas bila berita yang Anda baca memiliki gambar. Periksa ulang gambar tersebut dan manfaatkan mesin pencari internet untuk memeriksa keaslian gambar.

Hoaks atau berita bohong dapat merugikan segala aspek kehidupan, tak terkecuali kesehatan emosi Anda. Oleh karena itu, jauhi segala perilaku yang berhubungan dengan hoaks, baik untuk sekadar menyebarkan kepalsuan, apalagi untuk membuat bualan sendiri.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar