Sukses

Apa Itu HIV Tipe 2?

Anda mungkin sering mendengar istilah HIV dan AIDS. Namun, bagaimana dengan HIV tipe 2? Tahukah Anda tentang penyakit tersebut?

Klikdokter.com, Jakarta HIV atau Human Immunodeficiency Virus merupakan penyakit mematikan yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. HIV itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu HIV tipe 1 yang ditemukan sejak 1984, dan HIV tipe 2 yang ditemukan pada tahun 1986.

Anda mungkin sudah tak asing dengan HIV tipe 1. Namun, bagaimana dengan HIV tipe 2? Pernahkah Anda mendengar atau mengetahui secara langsung tentang penyakit ini?

Mengenal HIV tipe 2

HIV tipe 2 merupakan penyakit yang lebih umum ditemukan di beberapa negara endemis, seperti Afrika Barat (Guinea-Bissau, Cape Verde, Pantai Gading, Gambia, Mali, Mauritania, Nigeria, Sierra Leone, Benin, Burkina Faso, Ghana, Guinea, Liberia, Niger, Sao Tome, Senegal dan Togo), Angola, Mozambik, serta India. Kendati begitu, HIV tipe 2 juga dapat ditemukan di negara lain meski kemungkinannya kecil.

Penyebaran infeksi HIV tipe 2 serupa dengan HIV tipe 1, yaitu melalui perilaku seks tidak aman, paparan melalui darah penderita, serta transmisi prenatal dari ibu ke bayi dalam kandungan. Tak cuma itu, risiko terjadinya HIV tipe 2 juga bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini:

  • Berasal dari atau pernah bepergian ke daerah endemis HIV tipe 2.
  • Menerima perawatan medis, suntikan, imunisasi, flebotomi (seperti pada pemasangan selang infus), pembedahan, terpapar produk darah, atau berpartisipasi dalam uji vaksin di negara endemis HIV tipe 2.
  • Memiliki kontak seksual atau menggunakan jarum bergantian dengan orang yang terinfeksi HIV tipe 2 atau berasal dari daerah endemis.
  • Lahir dari ibu dengan infeksi HIV tipe 2.
  • Mengalami gejala infeksi oportunistik atau memiliki gejala HIV/AIDS dengan hasil tes negatif atau meragukan.
  • Mengalami beberapa hasil tes terhadap antibodi HIV tipe 1 yang tidak dapat ditentukan.
  • Terdiagnosis dengan infeksi HIV tipe 1 namun memiliki viral load yang tidak terdeteksi dan tidak sesuai dengan gejala klinis atau imunologis.

HIV tipe 2 juga diasosiasikan dengan infeksi oportunistik seperti candidiasis, Tuberkulosis, Toksoplasmosis, infeksi Cryptococcus neoformans, Cytomegalovirus (CMV), Herpes Simplex, Mycobacterium avium complex (MAC), serta Pneumocystis Pneumonia (PCP). Namun, pasien dengan infeksi HIV tipe 2 lebih mungkin memiliki masa asimtomatik (tidak muncul gejala meski sudah terinfeksi) yang lama.

HIV tipe 2 dan AIDS

Perkembangan dari infeksi HIV tipe 2 menjadi AIDS sangat bervariasi. Pada beberapa pasien akan muncul gejala kelemahan sistem kekebalan serta penyakit AIDS. Sementara pada beberapa pasien HIV tipe 2 lainnya mungkin memiliki perkembangan yang sangat lambat, serta angka kelangsungan hidup yang tetap baik.

Infeksi HIV tipe 2 itu sendiri memiliki ciri viral load yang rendah dan sel CD4 yang cenderung tinggi. Oleh karena itu, untuk memantau perjalanan penyakit, yang sering digunakan sebagai patokan adalah pemeriksaan sel CD4―bagian dari sistem kekebalan tubuh yang diserang oleh HIV.

Hingga saat ini pengobatan HIV tipe 2 berbeda dengan pengobatan HIV pada umumnya. Hal ini karena tidak semua obat anti-retrovirus (ARV) efektif digunakan untuk infeksi HIV tipe 2. Selain itu, jumlah kejadian infeksi HIV tipe 2 yang sedikit juga menyulitkan studi untuk meneliti lebih lanjut mengenai pengobatannya.

Demikian sekilas tentang HIV tipe 2. Meski memiliki risko yang sangat kecil untuk sampai di Indonesia, tidak ada salahnya bagi Anda tetap waspada terhadap penyakit ini. Selalu terapkan gaya hidup bersih dan sehat, juga lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala agar kondisi tubuh luar maupun dalam terpantau dengan baik.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar