Sukses

Konsumsi 3 Hewan Langka Ini, Benarkah Bikin Sehat?

Meski penuh kontroversi, banyak yang masih ingin mengonsumsi beberapa jenis hewan langka. Katanya, sih, bikin sehat. Benarkah demikian?

Klikdokter.com, Jakarta Setiap orang tentunya ingin hidup sehat bebas dari jeratan berbagai penyakit. Ada banyak cara yang ditempuh untuk mencapainya. Mulai dari menerapkan pola makan sehat, konsumsi berbagai suplemen, menerapkan diet tertentu, bahkan tak sedikit pula yang percaya bahwa konsumsi bagian tubuh dari beberapa jenis hewan langka yang dilindungi bisa bikin tubuh mereka sehat hingga usia senja.

Mengenai konsumsi bagian tubuh dari beberapa jenis hewan-hewan langka ini, apakah benar konsumsinya dapat bermanfaat jika dilihat dari aspek medis?

  1. Cula badak

Badak, adalah salah satu hewan langka yang dilindungi di dunia. Dua jenis badak yang hanya ada di Indonesia, yaitu badak Jawa dan badak Sumatra, jumlahnya pun sudah sangat sedikit. Begitu juga dengan badak hitam dari benua Afrika. Populasi badak hitam menurun secara drastis pada abad ke-20.

Sayangnya, usaha untuk melindungi badak dinodai dengan maraknya perburuan liar dan pengambilan cula secara ilegal. Perburuan ini terkait dengan permintaan pasar akan cula badak yang biasanya dijadikan bubuk dan digunakan untuk pengobatan. Padahal, sampai saat ini tidak ada manfaat medis yang terbukti dari konsumsi cula badak.

Cula badak terbuat dari keratin, bahan yang juga menyusun rambut dan kuku manusia. Jangan sampai anggapan yang salah tentang manfaat cula badak menyebabkan kepunahan spesies binatang yang dilindungi ini.

  1. Tulang harimau

Selama ratusan tahun, harimau merupakan simbol dari kehormatan, keangkuhan, dan kerap menyebarkan teror ke mana pun kakinya melangkah. Harimau dianggap sebagai raja hutan yang menjadi pemangsa utama dalam rantai makanan.

Karena hewan ini kerap diselimuti kekuatan dan misteri, banyak budaya yang mengagungkan harimau, mengganggapnya sebagai hewan berkemampuan khusus, bahkan  dianggap setara dengan penyembuh, bahkan dewa. Banyak orang yang menjadikan harimau sebagai penyembuh dalam arti yang sesungguhnya, yaitu dengan menjadikan berbagai bagian tubuh harimau sebagai obat.

Tulang harimau merupakan salah satu bagian tubuh harimau yang dipercaya memiliki manfaat untuk kesehatan. Setelah dilucuti dagingnya, tulang harimau diambil, digiling menjadi bubuk, kemudikan digunakan dalam bentuk pil, atau dicampur dengan berbagai bahan-bahan lain untuk dijadikan sebagai ramuan.

Seperti konsumsi cula badak, sampai detik ini belum ada bukti ilmiah yang dapat dijadikan landasan kuat mengklaim bahwa konsumsi tulang harimau membawa manfaat kesehatan tertentu. Dengan mengonsumsi tulang harimau, berarti Anda mendukung permintaan pasar akan tulang harimau, dan selanjutnya menyulut perburuan ilegal harimau. Jumlah harimau yang sudah jauh berkurang akan makin menyusut.

  1. Sirip hiu

Dibandingkan dengan cula badak dan tulang harimau, sajian dari sirip hiu lebih umum ditemui. Umumnya sirip hiu dijajakan dalam bentuk sup, yang sampai sekarang masih bisa ditemui di beberapa restoran Cina.

Layaknya cula badak dan tulang harimau, konsumsi sirip ikan hiu dipercaya baik untuk kesehatan. Selain itu, konsumsi sirip ikan hiu juga dianggap sebagai simbol status kemewahan karena harganya yang tidak murah.

Simbol kemewahan dari sup sirip hiu ini berawal dari ratusan tahun yang lalu saat masa kekaisaran Cina, lalu berlanjut di beberapa negara seperti Hong Kong, Singapura, bahkan Indonesia.

Permintaan sirip hiu yang tinggi menyebabkan perburuan hiu makin menjadi-jadi. Diperkirakan 90 persen populasi hiu di beberapa lokasi di dunia mengalami penurunan drastis. Tak hanya siripnya, hewan ini juga diburu untuk daging, kulit, minyak hati, dan tulang rawannya. Permintaan pasar akan sirip hiu terbesar berasal dari Asia, yang kemudian menjadi pendorong atas penangkapan ikan secara berlebihan yang mengakibatkan penurunan populasi. Padahal, hingga saat ini juga belum ada satu penelitian pun yang mendukung manfaat kesehatan dari konsumsi sirip hiu. Justru, sirip hiu mengandung merkuri yang bisa membahayakan kesehatan tubuh.

Memang, ada banyak cara untuk bisa senantiasa sehat hingga tua nanti. Namun, bukan berarti caranya dengan mengonsumsi bagian tubuh dari hewan langka yang jumlahnya sudah kritis. Jangan sampai kepercayaan tanpa dasar medis menjadi penyebab kepunahan berbagai jenis hewan yang statusnya dilindungi.

[RN/ RVS]

1 Komentar