Sukses

Tips Menyusui bagi Ibu dengan Puting Datar

Jangan sampai kondisi puting datar menghalangi niat Anda memberikan ASI pada si Kecil. Lakukan tips ini agar menyusui tetap lancar.

Klikdokter.com, Jakarta Bentuk puting payudara yang datar merupakan salah satu masalah yang kerap menghalangi niat seorang ibu untuk memberikan ASI pada anaknya. Memang, menyusui dengan bentuk puting yang demikian terasa agak sulit. Namun, bukan berarti ibu yang punya puting datar benar-benar tak bisa memberikan pasokan gizi melalui ASI kepada buah hatinya.

Perlu Anda ketahui, dalam medis puting payudara yang datar disebut dengan inversi. Kondisi tersebut terjadi akibat perlekatan dasar puting yang menempel pada kulit di bawahnya. Puting datar biasa terjadi sejak kehamilan awal, terutama pada kehamilan pertama dan akan membaik pada trimester akhir kehamilan. Hanya saja, masih banyak ibu yang setelah melahirkan tetap memiliki kondisi puting datar.

Untuk memastikan bahwa Anda benar-benar memiliki kondisi puting payudara yang datar, dr. Grace Valentine dari KlikDokter menyarankan untuk:

  • Tahan payudara pada tepi areola dengan ibu jari dan telunjuk. Kemudian tekan dengan lembut tapi tegas sekitar satu inci di belakang puting.
  • Jika puting tidak dapat menonjol atau tegak, berarti puting Anda masuk kategori datar. Jika malah memendek atau bahkan “menghilang”, berarti puting Anda benar-benar terbalik (inverted).
  • Jika puting bisa menonjol atau tegak saat tes cubit, berarti puting tidak benar-benar datar. Kemungkinan besar hal ini tidak akan menimbulkan masalah ketika menyusui nanti.
1 dari 2 halaman

Menyusui dengan puting datar

Menurut dr. Fiona Amelia dari KlikDokter, kondisi puting datar tidak menyebabkan masalah yang berarti saat menyusui.

"Masalah yang terjadi saat menyusui tergantung dari derajat inversi puting payudara dan bayi. Jika bayi lahir cukup bulan, sehat, serta kuat menyusu, maka ia akan mampu ‘mengeluarkan’ puting dan melepaskan perlekatan tersebut dengan mudah," ujar dr. Fiona.

Lantas, bagaimana cara tepat menyusui dengan kondisi puting datar?

  1. Tegakkan puting Anda

Rangsang puting Anda sebelum memberikan ASI kepada bayi. Caranya adalah dengan menggunakan pompa payudara tangan, tabung, atau menarik puting keluar secara manual.

Beberapa ibu menyusui bisa menarik puting mereka keluar dengan satu sesi pompa, tapi ada juga yang baru bisa mengeluarkannya dengan memompanya sampai berhari-hari. Hal ini tergantung pada tingkat inversi yang terjadi.

  1. Tekan areola payudara

Sebelum memasukkan puting ke mulut bayi, pegang payudara dengan posisi ibu jari di atas dan jari-jari lain di bawah. Tekan dan tarik payudara ke arah dada. Tindakan ini biasanya akan membuat puting payudara Anda menonjol.

  1. Rangsang puting

Anda bisa merangsang puting payudara dengan memeganginya lalu “menggulungnya” dengan ibu jari dan telunjuk selama 30 detik. Lalu, seka dengan kain dingin sebelum proses menyusui dimulai.

Menurut dr. Grace, Anda juga bisa menggunakan breast pad sekali pakai yang dibasahi dan disimpan dalam lemari pembeku. Hal ini dapat membantu merangsang puting agar keluar dan tegak sebelum menyusui.

  1. Puting silikon (nipple shield)

Bila bayi masih sulit melekat dengan area areola di payudara Anda, cobalah untuk menggunakan nipple shield. Benda ini terbuat dari silikon tipis yang fleksibel dengan lubang yang cocok pada puting Anda.

Lapisan tipis pada nipple shield memberikan stimulasi pada areola dan tidak membuat volume produksi ASI berkurang. Hanya saja, Anda harus mengonsultasikan penggunaan alat ini kepada dokter.

  1. Gunakan cangkang payudara

Cangkang payudara (breast shells) bisa digunakan di antara waktu menyusui atau 30 menit sebelum menyusui. Cangkang ini terbuat dari plastik dan Anda bisa menggunakannya dengan menekannya pada areola. Alat ini nantinya akan merenggangkan perlekatan dan membantu menonjolkan puting.

Jangan jadikan puting datar sebagai alasan untuk tidak memberikan ASI eksklusif pada si Kecil. Jika cara di atas masih belum mampu mengatasi masalah menyusui akibat puting payudara datar, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut pada dokter atau konselor laktasi.

[NB/ RVS]

1 Komentar