Sukses

Kenali Gejala Depresi Pasca Kelahiran pada Ayah Baru

Selain ibu, ayah baru juga bisa mengalami depresi setelah kelahiran anak pertama. Kenali gejala depresi yang bisa saja akan Anda alami juga.

Klikdokter.com, Jakarta Jika selama ini depresi pasca kelahiran anak sering dialami oleh para ibu, nyatanya para ayah juga bisa mengalami hal serupa. Bila hal ini terjadi pada ayah baru, bisa sangat berbahaya. Terlebih lagi, ada kecenderungan bahwa pria cenderung kesulitan menyampaikan apa yang mereka rasakan. Kenali gejalanya agar Anda dapat lebih waspada.

Depresi pasca persalinan yang terjadi pada ibu kerap Anda dengar dan Anda tentu tahu banyak kisahnya. Fenomena ini biasanya disebut dengan baby blues. Tapi pernahkah Anda mendengar PPND (paternal postnatal depression) atau depresi pasca kelahiran dari pihak ayah?

PPND bukan sekadar dongeng, karena depresi jenis ini benar-benar terjadi. Sebuah laporan dalam Journal of American Medical Association menemukan bahwa 10 persen pria di seluruh dunia menunjukkan tanda-tanda depresi sejak trimester pertama kehamilan istri mereka hingga enam bulan setelah anak mereka lahir.

Jumlah ini melonjak tajam sampai 26 persen ketika periode tiga hingga enam bulan setelah bayi lahir. Hal ini disampaikan oleh James F. Paulson, Ph.D., seorang profesor psikologi di Old Dominion University, Virginia, Amerika Serikat.

"Fakta bahwa begitu banyak harapan (terhadap ayah baru), terkadang membuat para ayah depresi, hingga timbul masalah kesehatan yang signifikan. Kondisi ini sering diabaikan oleh dokter dan penyedia kesehatan mental karena biasanya lebih fokus pada ibu yang melahirkan," tegas Paulson.

Agar Anda dapat lebih berjaga-jaga, Anda para calon ayah perlu mengetahui berbagai penyebab depresi. Dengan demikian, Anda dapat melakukan upaya pencegahan.

1 dari 3 halaman

Penyebab depresi pada ayah baru pasca kelahiran

Sebuah studi tahun 2014 yang diterbitkan dalam Pediatrics menemukan bahwa depresi di antara ayah baru meningkat 68 persen selama lima tahun pertama kehidupan bayi. Angka ini termasuk cukup tinggi.

"Faktanya, 1 dari 4 ayah baru di Amerika Serikat menjadi depresi, dan sekitar 3.000 ayah menjadi depresi setiap hari. Itulah sebabnya normal bagi ayah baru bila membutuhkan bantuan ketika mereka memasuki masa menjadi seorang ayah," kata Will Courtenay, PhD, LCSW, penulis Dying to Be Men.

Alasan mengapa ayah baru bisa depresi pasca kelahiran sama seperti alasan sebagian besar ibu yang depresi, yakni masalah fluktuasi hormon. Hanya saja, bagi para ayah, alasan ini masih belum jelas.

Tingkat testosteron pada ayah baru biasanya turun secara drastis. Sementara itu, estrogen, prolaktin, dan kortisol naik. Beberapa pria bahkan mengalami gejala seperti mual dan penambahan berat badan.

Selain itu, kurangnya tidur juga bisa menjadi pangkal masalah depresi yang terjadi pada ayah. Jika dipasangkan dengan fluktuasi hormon, kondisi ini merupakan pasangan yang sempurna untuk menyebabkan peningkatan depresi pada 3-6 bulan setelah kelahiran.

Cara terbaik untuk mengetahui adanya risiko depresi pada pria adalah dengan mengecek apakah istrinya juga mengalami depresi.

"Setengah dari pria yang pasangannya mengalami depresi pascapersalinan juga ikut mengalami depresi. Depresi pada kedua orang tua dapat menghancurkan hubungan mereka dengan anak-anak mereka," kata Dr. Courtenay.

2 dari 3 halaman

Gejala PPND pada ayah baru

Anehnya, depresi pascapersalinan atau PPND ternyata berbeda dengan daddy blues, yang biasanya dialami oleh ayah baru.

"Saat mengalami stres atau daddy blues, seorang pria akan merasa lebih baik ketika dia mendapat sedikit tidur tambahan, pergi ke gym, atau makan siang dengan seorang teman. Tetapi ketika telah mengalami depresi, berbagai upaya tersebut tidak akan membuatnya merasa lebih baik. Bahkan, gejalanya bisa lebih parah dan lebih lama," jelas Courtenay.

Daddy blues biasanya terjadi ketika ayah takut dengan peran baru, tidak siap menjadi ayah, atau masalah ekonomi yang terlalu dipikirkan. Sedangkan, untuk PPND bisa lebih parah daripada kondisi tersebut.

Perlu diketahui, kondisi "blues" yang bertahan lebih dari 2 atau 3 minggu mungkin sudah mengarah pada tahap depresi. Dan, seorang pria harus mendapatkan bantuan dari tenaga profesional kesehatan mental yang memiliki spesialisasi dalam bekerja dengan pria untuk mengatasinya. Hati-hati, depresi yang tidak diobati hanya dapat memburuk keadaan.

Menurut Dr. Courtenay, saat mengalami PPND, beberapa ayah akan menunjukkan gejala klasik seperti kesedihan, mudah tersinggung, gelisah, atau marah. Selain itu, ayah baru mungkin mengalami sesak napas, jantung berdebar, atau serangan panik. Pada akhirnya, ayah yang depresi akan merasa tidak berharga, kehilangan minat pada seks atau kegiatan yang biasa membuat mereka senang, bahkan bisa terlibat dalam perilaku berisiko seperti penyalahgunaan alkohol atau narkoba, perjudian, dan perilaku negatif lainnya.

"Para ayah yang tiba-tiba bekerja 60 jam seminggu mungkin juga mengalami depresi. Biasanya mereka beranggapan bahwa menceburkan diri dalam pekerjaan adalah cara yang tepat untuk mengatasi stres. Padahal, cara ini justru akan semakin membuat stres," tambah Dr. Courtenay.

Meskipun efek PPND pada pria tidak terlalu berdampak secara langsung pada anak, penyakit mental ini sebaiknya jangan disepelekan. Bila Anda atau pasangan mengalaminya, segera konsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Belum lagi, ayah yang depresi akan kurang terlibat dengan anak-anak mereka dan dapat membuat anak terlambat bicara, memiliki perilaku mengganggu, dan berujung pada masalah emosional pada anak.

Jika Anda termasuk ayah baru yang mengalami depresi setelah kelahiran anak, lebih baik ceritakan apa yang Anda rasakan kepada seseorang, jangan dipendam sendiri. Menurut Christina Hibbert, PsyD, seorang ahli kesehatan mental postpartum, teruslah mencoba sampai Anda menemukan perawatan kesehatan mental yang tepat agar Anda terhindar dari kondisi gangguan mental yang lebih parah.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar