Sukses

Anak Introver dan Pemalu Itu Beda, Lho!

Anak introver kerap disalahartikan sebagai pemalu. Padahal, keduanya sangat berbeda.

Klikdokter.com, Jakarta Dari luar, anak introver  – atau introvert – dan anak pemalu bisa tampak sama. Cenderung diam, mengobservasi, dan tampak menghindari situasi sosial. Namun, sesungguhnya kedua sifat ini memiliki dasar yang berbeda.

Beda introver dan pemalu

Anak dengan kepribadian introver berfokus pada pikiran dan perasaan diri sendiri, dan cenderung membatasi diri dari lingkungan eksternal. Mereka lebih semangat untuk melakukan aktivitas secara individu ketimbang harus berinteraksi dengan banyak orang. Ini merupakan kebalikan dari anak ekstrover, yang menemukan energi kala berinteraksi dengan orang lain.

Namun, bukan berarti anak introver kurang pandai bersosialisasi. Ia mampu dan bisa, hanya saja memilih untuk berada di lingkungan yang tenang dan kurang stimulasi.

Sedangkan anak yang pemalu, sebetulnya tidak ingin sendiri tapi ia takut untuk berinteraksi dengan orang lain. Ia takut akan kritikan atau penilaian negatif dari orang lain. Anak yang pemalu juga cenderung pendiam dan enggan untuk mengutarakan pendapat.

Ilustrasinya seperti ini. Bayangkan ada dua anak di dalam satu kelas, yang satu introver dan satunya lagi pemalu. Saat waktu istirahat tiba, anak introver akan cenderung memilih aktivitas yang bisa dilakukannya sendirian karena ia lebih mendapatkan kesenangan dari sana. Justru, ia akan merasa stres bila terlalu banyak anak yang bermain bersama-sama.

Sebaliknya, anak yang pemalu sebetulnya ingin sekali bergabung dengan anak-anak lain namun takut. Sehingga, ia hanya berdiam diri dan mengamati yang dilakukan teman-temannya.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa perbedaan yang mendasar dari keduanya yakni rasa malu membuat anak merasa tidak nyaman dan kadang menyakitkan, sedangkan sifat introver tidak.

Kedua sifat ini pun bisa tumpang tindih, meski belum ada batasan yang jelas. Artinya, anak yang pemalu dapat menjadi introver seiring dengan waktu karena merasa kehidupan sosial itu menyakitkan. Akhirnya, ia termotivasi untuk menemukan kenyamanan di balik kesendirian dan dalam interaksi sosial yang minimal. Lalu, anak introver dapat menjadi pemalu bila terus-menerus mendapat penilaian bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya.

Meski berbeda, ada satu kemiripan dari anak pemalu dan introver. Keduanya cenderung memilih peran yang bersifat “di balik layar”, yang kurang menonjol saat bekerja dalam tim. Tapi ini bukan berarti mereka tidak bisa menjadi pemimpin.

Lantas, apakah perlu diterapi?

Rasa malu pada anak dapat dikelola dan diterapi tergantung spektrumnya, tapi sifat introver tidak bisa. Sifat introver adalah bagian dari diri seseorang, sama seperti warna kulit atau rambut yang sudah seperti itu sejak lahir. Anak introver yang dipaksa berubah menjadi ekstrover akan merasa stres. Namun, ia dapat mempelajari strategi untuk membantunya menghadapi berbagai situasi sosial tanpa mengubah sifat dasarnya yang introver.

Satu hal yang perlu diketahui orang tua adalah, emosi anak introver akan terkuras saat ia harus menghabiskan waktu bersama banyak orang. Setelahnya, ia perlu diberikan waktu untuk menyendiri agar dapat menyegarkan dirinya kembali. Bagi anak introver, kamar pribadi merupakan tempat terbaik untuk memulihkan emosinya.

Membesarkan anak yang pemalu atau introver bisa jadi menyulitkan, terlebih bila Anda tergolong orang tua yang ekstrovert. Namun, perlu digarisbawahi bahwa tak ada yang salah dengan itu. Keduanya sama-sama bisa berkembang secara optimal bila orang tua mau dan mampu memahami, serta memberikan ruang dan stimulasi yang tepat sesuai kepribadiannya. Dan, seperti semua anak pada umumnya, yang paling mereka butuhkan adalah kasih sayang dan kesabaran Anda.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar