Sukses

Perlukah Baby Walker untuk Melatih Anak Berjalan?

Banyak yang mengandalkan baby walker untuk melatih anak berjalan. Namun, apakah alat ini benar-benar diperlukan?

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu alat bantu yang sering dipilih orang tua untuk melatih anak berjalan sendiri adalah baby walker. Baby walker tersusun atas kerangka keras yang beroda, sling - dimana bayi diletakkan - lalu meja di hadapan bayi yang umumnya dihiasi dengan mainan.

Alasan penggunaan baby walker adalah untuk membantu anak bergerak. Harapannya, alat tersebut dapat membuat anak lebih cepat berjalan. Namun, apakah penggunaan baby walker ini benar-benar diperlukan?

Nyatanya, saat ini baby walker justru tidak direkomendasikan. Bahkan, American Academy Pediatrics melarang penggunaan baby walker untuk melatih motorik kasar anak. Alasannya antara lain:

  1. Baby walker mengurangi keinginan anak untuk berjalan

Saat didudukkan di baby walker, ia akan merasa sudah mudah bergerak dan berpindah tempat. Kenyamanan tersebut akan membuatnya malas untuk berjalan sendiri tanpa bantuan.

  1. Baby walker menguatkan otot yang salah, yaitu tungkai bawah (betis)

Agar bayi dapat berjalan, otot tungkai atas (paha) dan pinggul juga harus kuat. Tujuannya adalah untuk dapat menopang tubuhnya saat berjalan.

  1. Baby walker tidak mengajarkan bayi akan keseimbangan

Bayi tidak dapat melihat tungkai dan kaki saat berada di dalam baby walker, sehingga ia tidak akan belajar cara menyeimbangkan seluruh anggota tubuhnya. Selain itu, ia juga akan cenderung berjalan dengan ujung jari (jinjit), dan kebiasaan ini dapat bertahan hingga ia berusia 3 tahun.

  1. Baby walker adalah salah satu penyebab utama cedera pada bayi

Inilah alasan terpenting untuk Anda menyingkirkan baby walker. Alat ini dapat membuat anak berada dalam posisi yang lebih tinggi, sehingga ia akan bisa dengan mudahnya meraih benda-benda yang bisa dijangkau. Misalnya benda tajam (pisau atau gunting), minuman panas, atau obat. Benda-benda tersebut berpotensi menimbulkan cedera atau kecelakaan pada anak.

Selain itu,  bayi juga dapat terjungkir bila ia berada di permukaan lantai yang tidak rata. Berada dalam baby walker dapat meningkatkan risiko bayi mengalami patah tulang, luka bakar, cedera kepala, dan sebagainya.

Apa yang disampaikan di atas bukanlah untuk menakut-nakuti Anda, tapi memang didukung oleh fakta yang tertuang dalam jurnal medis “Pediatrics”. Sebuah penelitian di Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa sejak tahun 1990-2014, terdapat 230.000 kasus kecelakaan pada bayi di bawah usia 15 bulan, yang disebabkan oleh penggunaan baby walker. Inilah sebabnya beberapa negara seperti AS dan Kanada kini melarang penggunaan baby walker untuk melatih anak berjalan.

Alternatif lain untuk membantu anak belajar berjalan

Sebenarnya tidak perlu menggunakan baby walker untuk melatih anak belajar berjalan. Secara natural, anak akan melalui berbagai proses perkembangan motorik sebelum ia bisa berjalan, seperti duduk, merangkak, berdiri sendiri, hingga ia akhirnya bisa berjalan. Semua tahapan tersebut harus dilalui anak untuk menguatkan otot-otot geraknya dan melatih keseimbangannya.

Berikan stimulasi kepada anak dengan menggunakan mainan di depannya untuk ia raih. Hal tersebut akan mendorong si Kecil untuk bergerak dan mengambil mainan. Anda juga bisa memegang kedua tangannya saat ia berdiri dan membantunya berjalan. Pada bayi yang sudah lebih besar, Anda bisa menggunakan push toys atau mainan yang didorong. Cara ini lebih efektif dan lebih sesuai dengan kondisi normal (fisiologis) tubuh anak. Tentu saja, penggunaan push toys tersebut harus dalam pengawasan ketat orang tua dan/atau pengasuh.

Faktanya, Anda tidak perlu baby walker untuk melatih anak berjalan. Bahkan, ada penelitian yang menyatakan bahwa baby walker bisa berbahaya untuk anak, dan penggunaannya sudah dilarang di beberapa negara. Karenanya, lebih baik simpan saja baby walker di dalam gudang, lalu ganti dengan melakukan stimulasi motorik yang tepat sesuai dengan perkembangan anak.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar