Sukses

Gerak Cepat IDI Bantu Korban Bencana Tsunami

Tsunami melanda Banten pada Sabtu (22/12). Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bergerak cepat untuk membantu para korban bencana tsunami.

Klikdokter.com, Jakarta Bencana alam tsunami yang menimpa Banten, khususnya di Pandeglang dan Anyer mendapat perhatian khusus dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). IDI bergerak cepat dengan mengerahkan 100 tenaga medis gabungan untuk menangani bencana. Meski begitu, beberapa hal masih dibutuhkan oleh IDI terkait dengan penanganan korban bencana tsunami.

Tsunami yang menerjang pantai Anyer, Pandeglang dan sekitarnya terjadi pada Sabtu (22/12) malam WIB. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tsunami terjadi akibat letusan Gunung Anak Krakatau.

Tak hanya di daerah Banten, tsunami Selat Sunda ini juga sampai ke Lampung. Hanya saja, daerah terdampak paling parah adalah Pandeglang, Anyer, dan Carita. Sampai semalam, korban meninggal sampai 222 orang, sementara sebanyak 843 orang luka-luka.

IDI sebagai perhimpunan dokter resmi di Indonesia langsung bergerak cepat untuk membantu para korban meninggal dan luka. 100 tenaga medis yang dikerahkan berasal anggota IDI cabang, Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, Perhimpunan Ahli Bedah Ortopedi Indonesia, dan Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia.

IDI Banten dibantu sekitar 100 tenaga medis dari IDI Cabang, PAPDI (Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia), PABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Ortopedi Indonesia), dan PDEI (Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia) untuk menangani korban secara cepat.

“Selanjutnya mendirikan 5 posko di puskesmas area terdampak, yakni Carita, Labuan, Panimbang, Cibaliung, dan Sumur untuk penanganan medis tanggap darurat," kata dr Hendrarto, SpTHT, Ketua IDI Wilayah Banten seperti dalam rilis yang diterima KlikDokter.

Sementara itu, dr. Atep Supriadi, SpEm selaku Koordinator lapangan tim medis IDI Banten menyebut sampai saat ini penanganan operasi dan perawatan korban tingkat lanjut ditangani oleh 5 rumah sakit dan rumah sakit umum di Banten. Kelima rumah sakit tersebut adalah RS Drajat, RSUD Banten, RSU Pandeglang, RS Berkah, RS Sari Asih.

Membutuhkan penanganan ortopedi

Tsunami tidak hanya menerjang dan menghancurkan rumah dan bangunan lain. Ratusan korban pun jatuh, baik meningga maupun luka-luka. Dalam bencana seperti ini, dr. Moh Adib Khumaidi, SpOT - Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI), menyebut sangat membutuhkan penanganan bedah tulang atau ortopedi.

"Saat ini tim medis sedang melangsungkan penanganan operasi ortopedi (bedah tulang) dan bedah syaraf bagi para korban. Dalam situasi bencana seperti ini, jumlah korban terbanyak paling membutuhkan penanganan ortopedi dan trauma," kata dr. Moh Adib Khumaidi, SpOT yang juga sekaligus Sekjen Perhimpunan Ahli Bedah Ortopedi Indonesia (PABOI).

Terkait bedah ortopedi, biasanya korban mengalami keruntuhan bangunan atau terhantam benda keras yang menyebabkan tulang patah. Akan tetapi, selain tenaga medis ortopedi, IDI membutuhkan ahli bedah saraf, obgyn, dan pediatrik (anak).

Selain itu, IDI juga membutuhkan tambahan alat medis darurat, dan ambulans untuk membawa korban ke rumah sakit rujukan. Persediaan obat-obatan yang menipis juga patut menjadi perhatian. Sampai saat ini, evakuasi jenazah korban bencana di area terdampak sedang dan terus dilakukan oleh para relawan bencana bersama TNI dan POLRI.

Sedangkan, menurut rilis dari IDI, untuk korban luka-luka yang sudah tertangani, sebagian sudah pulang atau dirujuk untuk penanganan lebih intensif. Sedangkan  sebagian yang lain masih dirawat di posko medis dan rumah sakit setempat.

Sampai saat ini penanganan korban bencana tsunami di Banten terus dilakukan. IDI pun bergerak cepat untuk memberikan bantuan. Semoga bantuan yang diberikan bisa berdampak positif bagi kesembuhan para korban.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar