Sukses

Si Kecil Suka Menyentuh Kemaluannya, Normalkah?

Si Kecil tertangkap basah sedang memainkan kemaluannya, inilah cara bijak menyikapi kebiasaannya itu.

Klikdokter.com, Jakarta Bicara soal perkembangan anak memang tak ada habisnya. Seiring bertambahnya usia, ada saja tingkah laku si Kecil yang baru dan tak jarang membuat bingung. Seperti saat Anda memergokinya sedang memainkan kemaluannya. Hal ini melahirkan kerisauan dan pertanyaan dalam benak para orang tua, wajarkah perilaku tersebut?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, Anda perlu mengetahui perkembangan perilaku seksual anak. Layaknya aspek perkembangan lain, perilaku seksual seorang anak pun terus berkembang sejak ia bayi hingga dewasa. Perkembangan seksual tersebut tidak hanya dalam hal perubahan tubuh secara fisik, tetapi juga pandangan atau pemikiran anak mengenai hal-hal seksual.

Perilaku seksual pada anak

Secara umum, beberapa hal berikut merupakan contoh perilaku seksual yang terjadi pada anak usia dua hingga enam tahun, yaitu:

  • Memegang atau menggosok organ vitalnya, di tempat umum atau sendiri
  • Mencoba menyentuh kemaluan saudaranya
  • Memperlihatkan kemaluannya pada orang lain
  • Ingin membuka pakaiannya hingga telanjang
  • Ingin duduk dekat dengan orang lain, terutama lawan jenis.

Pada dasarnya, perilaku-perilaku tersebut muncul dari rasa penasaran anak akan anggota tubuhnya, termasuk alat kelamin. Hanya saja ia belum mampu mengutarakan keinginannya dengan jelas.Hal tersebut normal dan wajar terjadi pada anak usia 2-6 tahun. Biasanya, anak akan berhenti saat diingatkan atau dialihkan dengan aktivitas lainnya.

Namun, bila anak sering melakukannya hingga tidak dapat dialihkan lagi, ia menjadi mudah menjad marah saat diingatkan, atau tindakannya sudah menyebabkan iritasi dan luka pada alat kelamin, Anda sepatutnya waspada. Pasalnya, beberapa perilaku tersebut mengarah pada masalah perilaku seksual dan harus diatasi dengan segera.

1 dari 2 halaman

Sikapi dengan tepat

Harus diakui, topik seks adalah hal yang kerap dihindari untuk dibicarakan kepada anak. Namun, suka tidak suka, Anda tetap harus menjelaskannya. Berikut adalah beberapa cara bijak menghadapi perilaku seksual anak:

  1. Bersikap tenang. Saat melihat ia memainkan kemaluannya, jangan buru-buru memarahinya. Perkataan yang keras dengan nada tinggi hanya akan membuat anak bingung dan takut. Yakinkan diri Anda bahwa ini adalah bagian dari perkembangan si Kecil.
  2. Gunakan bahasa yang tepat dan sederhana. Jelaskan pada anak mengenai tubuh dan bagian-bagiannya dengan sederhana. Sebutkanlah dengan nama sebenarnya, bukan jargon atau sebutan yang lain. Misanya, saat sedang memandikan anak, Anda bisa katakan, “Ini tangan adik, ini mata adik, dan ini penis adik”. Hal ini bertujuan agar ia tidak bingung dan memiliki pemahaman positif terhadap anggota tubuhnya. Selain itu,sebaiknya Anda juga memberikan edukasi seks sesuai dengan usia anak.
  3. Berikan aturan yang jelas. Ajarkan anak bahwa kemaluan adalah milik pribadinya sendiri dan hanya ia dan orang tuanya yang boleh menyentuhnya. Ia juga tidak boleh melakukannya di depan umum. Kenalkan ia dengan rasa malu, contohnya ajarkan ia untuk melepas pakaian hanya di ruang tertutup dan tidak keluar kamar mandi tanpa mengenakan handuk.
  4. Batasi penggunaan gawai. Tidak dapat dimungkiri pengaruh media sangat besar, terutama dalam hal pandangan dan pengetahuan seksual. Karena itu, sebaiknya Anda tetap mendampingi anak saat menggunakan gadget, terutama pada anak berusia 2-6 tahun. Terapkan kontrol orang tua (parental control) untuk memastikan anak selalu mendapat informasi yang tepat.
  5. Lakukan dengan santai dan menyenangkan. Hindari membicarakan topik seks dalam kondisi yang tegang. Bicarakan dengan santai, biarkan si Kecil bertanya, dan jawablah dengan tenang. Jadilah sahabat agar di kemudian hari anak tidak segan dan terbuka pada Anda.

Sejatinya, gemar memegang kemaluan adalah bagian dari perkembangan seksual anak, jadi Anda tak perlu risau. Tetap tenang dan jelaskan baik-baik kepada si Kecil. Namun, bila ia menujukkan gejala gangguan perilaku seksual, tak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter spesialis anak agar ditangani dengan tepat.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar