Sukses

4 Alasan Mengapa Marah juga Kadang Perlu

Marah sering dianggap dapat mengganggu kesehatan. Meski demikian, ternyata marah juga kadang diperlukan.

Klikdokter.com, Jakarta Umumnya, kemarahan dianggap sebagai reaksi yang tidak baik, apalagi yang sampai mengamuk. Rasa marah bisa diakibatkan oleh peristiwa internal maupun eksternal, atau kekhawatiran dalam menyelesaikan masalah. Biasanya, ketika Anda marah, orang-orang di sekitar kerap mengingatkan Anda untuk menahan amarah tersebut, atau menghilangkannya. Marah tak selalu buruk, bahkan kadang diperlukan. Jika dilakukan dengan benar, ada manfaat kesehatan yang bisa Anda dapat. Tak percaya?

Dikutip dari Men’s Health, penulis “Smarter Faster” dan “The Power of Habit” yang juga mengantongi penghargaan Pulitzer mengatakan, tak apa-apa jika Anda meluapkan rasa marah. Charles menghabiskan waktu selama setahun untuk meneliti penyebab kemarahan yang paling umum di Amerika Serikat, terutama dalam iklim politik di sana yang cenderung “panas”. Hasilnya cukup membuatnya terkejut: kemarahan tak selalu seburuk yang selama ini orang-orang katakan.

Berikut di bawah ini adalah beberapa alasan mengapa marah juga kadang diperlukan.

1. Membantu Anda berbicara mengenai apa yang benar-benar dirasakan

Saat ada teman kantor yang mendengarkan musik lewat pengeras suara (bukan earphones), kadang bikin kesal karena berisik. Namun, karena perasaan tak enak atau tak mau dianggap lancang atau tidak sensitif, biasanya Anda mengabaikannya lalu pindah ke tempat yang lebih tenang. Ataupun jika Anda menegurnya, kata-kata yang keluar dari mulut Anda sudah melewati proses “penyaringan”.

Nah, dengan mengekspresikan rasa marah, Anda bisa menghilangkan filter tersebut dan mengatakan apa yang ingin Anda katakan.

“Banyak orang yang sibuk mencari cara agar apa yang dikatakannya terdengar sopan, tapi di tengah proses maknanya hilang,” kata Ken Yeager, PhD, LISW, Clinical Director of the Stress, Trauma and Resilience program di Ohio State University Wexner Medical Center, Amerika Serikat.

“Ketika marah, seseorang seperti berada di ditengah-tengah mode flight or fight, yaitu menghindar atau melawan. Ia akan mengatakan apa yang ia butuh, tepatnya apa yang Anda di dalam pikiran untuk menyampaikan pendapatnya,” lanjutnya.

2. Membantu Anda bernegosiasi

Berbicara sambil marah tak harus selalu berakhir berantakan atau makin parah. Profesor James Averill dari Universitas Massachusettes, AS, meneliti rasa marah dan responsnya pada akhir tahun 70-an. Ia melakukan survei mengenai seberapa sering mereka marah. Partisipan juga diminta untuk mendeskripsikan pengalaman yang menjengkelkan. Hasilnya, ia menemukan bahwa orang yang marah mampu menyelesaikan masalah dengan baik.

Charles menulis, dalam sebagian besar kasus, mengungkapkan kemarahan mengakibat semua pihak lebih mau mendengarkan, lebih cenderung bicara jujur, dan lebih akomodatif terhadap keluhan satu sama lain. Misalnya, orang tua yang membatalkan batasan jam malam anak sebagai hukuman, akibat anak marah-marah ke orang tuanya.

Meski demikian, intensitas kemarahan juga perlu diperhatikan. Menurut penelitian dari Universitas Rice, AS, orang-orang yang frekuensi marahnya moderat mampu bernegosiasi lebih baik ketimbang mereka yang sangat marah atau jarang marah.

3. Sifatnya melegakan

Prof. James juga menemukan bahwa orang-orang merasa lebih bahagia, optimis, dan lega setelah melepas amarah. Meskipun sebagian orang kerap mengaitkan agresi dengan kemarahan, dua hal tersebut sebetulnya tidak seterkait seperti apa yang kita pikirkan. Faktanya, Dacher Keltner, peneliti dari The Berkeley Social Interaction Lab, AS, mengatakan, otak merasakan kemarahan dalam hal positif.

“Jika membandingkan otak pada orang yang sedang mengalami kemarahan dengan otak pada orang yang sedang bahagia, keduanya tampak sama,” kata Dacher.

Sekarang Anda tahu beberapa alasan kenapa marah juga kadang diperlukan—jangan hanya dipendam hingga akhirnya terjadi ledakan emosi yang tak terkontrol. Marah yang diekspresikan pada tempatnya dan tidak berlebihan, mampu memperkuat kemampuan seseorang dalam kondisi yang penuh tekanan. Perasaan pun setelahnya jadi lega. Namun ingat, jangan terlalu sering marah-marah. Bisa-bisa orang-orang di sekitar Anda menjauh dan tanpa Anda sadari tak ada lagi yang mau dekat-dekat Anda.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar