Sukses

Kapan Bayi Boleh Mulai Konsumsi Madu?

Meskipun madu sangat baik untuk tubuh, nyatanya bayi tidak disarankan untuk mengonsumsinya.

Klikdokter.com, Jakarta Sejak lama madu dipercaya baik untuk kesehatan tubuh. Bahkan, madu telah digunakan oleh manusia selama ribuan tahun lamanya sebagai campuran makanan ataupun minuman untuk alasan pengobatan. Akan tetapi, untuk bayi, madu justru tidak disarankan untuk dikonsumsi sama sekali. Lalu, kapan anak boleh mulai mengonsumsi madu?

Si Kecil  baru boleh mengonsumsi madu jika usianya sudah menginjak satu tahun. Kurang dari itu, tidak boleh. Menurut dr. Vita Anggraini dari KlikDokter, pemberian madu pada anak yang berusia kurang dari 1 tahun dapat meningkatkan risiko penyakit botulisme. Hal ini dikarenakan madu dapat terkontaminasi oleh bakteri Clostridium botulinum yang bisa menyebabkan penyakit pada bayi.

“Sistem pencernaan anak berusia di bawah 1 tahun belum sempurna. Nantinya, spora yang masuk ke dalam pencernaan tidak bisa dimatikan oleh asam yang dihasilkan di dalam lambung seperti pada pencernaan anak di atas 1 tahun dan orang dewasa,” jelas dr. Vita.

Setelah anak berusia satu tahun, Anda baru boleh memberikannya madu karena pencernaannya sudah lebih matang sehingga pertahanannya akan lebih kuat terhadap bakteri-bakteri pencemar makanan.

Risiko penyakit botulisme

Pemberian madu pada anak di bawah 1 tahun dapat mengakibatkan botulisme.  Botulisme adalah penyakit yang menyerang saraf dan disebabkan oleh bakteri Clostridium botulinum. Menurut dr. Vita, botulisme sangat jarang terjadi tetapi dapat berakibat fatal.

Racun yang ada di dalam Clostridium botulinum bersifat neurotoksin, artinya sangat kuat dan menyebabkan kerusakan saraf dan otot. Tanda dan gejala akibat botulisme, di antaranya:

  • Bayi akan terkulai lemas
  • Sulit mengisap saat menyusui atau minum dari botol susu
  • Rewel
  • Tangisan yang melemah
  • Susah BAB
  • Keluar air liur dikarenakan susah menelan
  • Kelopak mata bayi yang sayu

Biasanya gejala-gejala mulai muncul dalam 12 hingga 36 jam setelah mengonsumsi madu. Gejala awal umumnya adalah konstipasi. Namun, beberapa anak yang memiliki botulisme bisa juga tidak menunjukkan gejala hingga 14 hari setelah paparan. 

Sebagian gejala botulisme, seperti lesu dan rewel, bisa disalahpahami sebagai gangguan kesehatan lainnya, misalnya sepsis atau meningoensefalitis. Jadi penting untuk memberitahu dokter bahwa anak Anda telah mengonsumsi madu. Karena diagnosis yang tepat akan memastikan si Kecil mendapatkan penanganan yang baik.

Jika bayi Anda memiliki gejala botulisme dan telah mengonsumsi madu, baik sengaja maupun tidak sengaja, itu merupakan kondisi gawat darurat. Segeralah periksakan anak ke UGD secepatnya. Biasanya dokter akan melakukan beberapa langkah pengobatan seperti pemberian antitoksin dan obat pencahar.

Membaca penjelasan di atas, mungkin Anda langsung takut memberikan madu kepada anak. Jangan khawatir, madu memiliki manfaat untuk anak di atas 1 tahun. Madu mengandung vitamin B, vitamin C, asam amino, mineral, dan antioksidan. Selain itu, madu dapat bertindak sebagai penyembuh luka saat dioleskan ke kulit, demikian menurut laporan Healthline.

Sekarang Anda sudah tahu kapan waktu yang tepat bagi bayi untuk mengonsumsi madu. Jika Anda orang tua yang memiliki bayi, harap perhatikan dengan baik. Apabila anak Anda masih di bawah 1 tahun dan telanjur mengonsumsi madu, segera konsultasikan kepada dokter meskipun tidak ada gejala botulisme.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar