Sukses

Ini Bahaya Tersembunyi di Balik Debu

Debu dapat membuat Anda sakit. Apa saja bahaya kesehatan yang sering tak disadari dari debu?

Klikdokter.com, Jakarta Debu telah lama diketahui dapat menyebabkan alergi. Perlu diketahui bahwa menurut WebMD, debu bisa mengandung potongan atau bahkan partikel bulu hewan peliharaan, tubuh kecoak yang sudah mati, spora jamur, dan tungau debu. Beberapa benda tersebut merupakan pemicu alergi yang umum.

Tanda dan gejala alergi debu, di antaranya mata gatal, berair, dan merah, bersin, serta hidung meler. Kondisi ini bisa diperparah ketika Anda melakukan banyak aktivitas di luar ruangan, urung menjaga kebersihan rumah, serta mengabaikan higienitas hewan peliharaan.

Menurut dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, jika Anda atau anggota keluarga lainnya memiliki alergi debu, penting untuk membersihkan rumah secara teratur. Dengan begitu, debu kotor maupun kecoak tidak dapat bersarang.

Saat siang hari, bukalah semua jendela untuk memungkinkan ventilasinya. “Ini harus diperhatikan karena dengan membuka jendela, sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah dan mengurangi kelembapan sehingga jamur tidak mudah tumbuh,” kata dr. Karin.

Ia juga menyarankan untuk tidak menggunakan karpet pada lantai, terutama di kamar tidur. “Sebaiknya gunakan keramik, marmer, atau lantai kayu. Gunakan pula seprai dan sarung bantal antitungau untuk kamar.”

Namun, selain alergi, ternyata masih ada bahaya tersembunyi dari debu. Bahaya macam apakah itu?

Debu berkaitan dengan resistensi antibiotik

Resistensi antibiotik adalah kemampuan bakteri untuk bertahan dari efek antibiotik. Bakteri yang seharusnya mati, justru bertambah banyak. Hal ini akan mempersulit proses penyembuhan dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

Ada sejumlah hal yang dapat menyebabkan resistansi antiobiotik, seperti penggunaan antibiotik secara berlebih maupun tidak tepat. Lalu, bagaimana kaitan antara debu dengan resistensi antiobiotik?

Seperti yang telah dijelaskan di atas, debu bukanlah benda mati. Ada berbagai senyawa hidup di dalam helai debu, salah satunya antibakteri bernama triklosan. Ia umum sekali ditemukan di dalam debu.

Pada sisi lain, ada banyak sekali produk rumah tangga – deterjen, pasta gigi, sabun mandi, dll – yang mengandung triklosan yang diklaim dapat membunuh bakteri. Hal ini kemudian dapat memicu dan memperburuk kondisi resistensi bakteri.

Para peneliti di Northwestern University, Chicago, Amerika Serikat, mencoba membandingkan 42 sampel debu yang diambil dari fasilitas olahraga. Hasil menunjukkan bahwa pada debu yang memiliki konsentrasi triklosan yang tinggi, bakterinya berpeluang mengalami perubahan gen yang mengarah pada resistensi antibiotik.

Cara mengurangi potensi resistensi antibiotik

Ternyata, senyawa antibakteri triklosan tidak hanya ditemukan dalam debu, tetapi juga beberapa produk pasta gigi. Pada tahun 2017 silam, Food and Drug Administration (FDA) telah melarang penggunaan bahan aktif antibakteri seperti triklosan. Lembaga tersebut mengatakan bahwa paparan triklosan dalam kadar tinggi berhubungan dengan terganggunya hormon dan resistensi antibiotik.

Resistensi antibiotik merupakan ancaman kesehatan yang serius. Di Amerika Serikat saja, sekitar 25.000 orang meninggal tiap tahunnya karena bakteri yang resisten terhadap antibiotik.

Fakta medis ini belum terlalu dipahami oleh banyak orang, sehingga sosialisasi perlu dilakukan dari sekarang. Anda dapat memulai langkah dari rumah, dengan cara mengubah gaya hidup diri sendiri.

Satu-satunya upaya mengurangi potensi resistensi terhadap obat antibiotik adalah berhenti menggunakan produk-produk antibakteri termasuk triklosan. Anda cukup mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun biasa.

Untuk membersihkan debu yang menempel di rumah, Anda juga tidak perlu menggunakan produk pembersih. Cukup basuh dengan menggunakan handuk basah dan tambahan sedikit sabun yang bebas kandungan triklosan.

Tak hanya menimbulkan alergi, debu juga berhubungan dengan resistensi antibiotik. Oleh karena itu, perhatikan kebersihan diri dan lingkungan serta produk-produk kebersihan yang selama ini Anda gunakan. Terlalu banyak menggunakan produk antibakteri mungkin tak diperlukan, bahkan dapat berakibat buruk bagi kesehatan Anda.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar