Sukses

3 Kunci agar Anak Lulus Toilet Training

Anda dan anak sedang bergulat dengan toilet training? Beberapa tips berikut mungkin bisa membantu.

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu tonggak tumbuh kembang yang harus dicapai setiap anak adalah buang air kecil dan buang air besar di toilet secara mandiri. Untuk bisa segera mencapai hal tersebut, orang tua dapat mengajarkan toilet training pada si Kecil.

Toilet training adalah suatu metode belajar bagi anak untuk dapat buang air di toilet secara mendiri. Saat melakukannya, si Kecil akan berlatih untuk mengendalikan otot sfingternya ketika buang air sampai ia tiba di toilet dan merelaksasi otot tersebut.

Perlu diketahui, kemampuan mengatur otot sfingter baru dimiliki anak saat ia berusia 18 bulan. Inilah mengapa para ahli menyarankan agar toilet training dimulai pada rentang usia 18–24 bulan. Memulai terlalu dini hanya akan menimbulkan masalah, seperti konstipasi, kebiasaan menahan buang air kecil, dan infeksi saluran kemih.

Tips sukses toilet training

Harus diakui, masa transisi dari popok ke toilet merupakan sesuatu yang menantang, baik bagi anak maupun orang tua. Prosesnya pun cenderung sulit sehingga orang tua kerap menyerah di tengah jalan.

Anda tentu tak ingin mengalami hal tersebut, bukan? Tidak perlu gundah. Berikut ini beberapa trik jitu yang bisa orang tua terapkan dalam mengajarkan toilet training pada anak:

1. Anak dan orang tua sama-sama siap

Secara umum, seorang anak harus siap secara fisik, emosi, dan kognitif sebelum memulai proses toilet training. Beberapa tanda kesiapan anak, antara lain:

  • Dapat mengikuti instruksi sederhana
  • Mulai meniru cara Anda menggunakan toilet, atau mengikuti Anda saat pergi ke toilet
  • Dapat menyampaikan keinginan untuk buang air
  • Popok atau celananya tetap kering selama minimal dua jam
  • Dapat duduk diam setidaknya sepuluh menit
  • Menunjukkan rasa tidak nyaman saat popoknya basah atau kotor.

Tentu, tidak semua hal di atas harus dicapai sekaligus oleh si Kecil untuk dapat memulai toilet training. Kendati begitu, setiap orang tua harus peka dalam melihat kondisi anak masing-masing.

Selain itu, bukan hanya anak saja, orang tua pun harus siap. Jangan memulai toilet training saat Anda sedang ada urusan lain, misalnya baru pindah rumah, ada tekanan dari tempat kerja, atau menanti kelahiran anak berikutnya. 

2. Buat jadwal ke toilet

Ketika anak sudah memiliki ritme buang air yang rutin, buatlah jadwal harian dan ajak si Kecil untuk pergi ke toilet sebelum waktu tersebut (toilet talk).

Misalnya, anak akan buang air besar di pagi hari pukul sembilan, maka 30 menit sebelumnya Anda bisa mengajaknya ke toilet.  

3. Lakukan dengan menyenangkan

Untuk mendukung proses toilet training, siapkan perlengkapan khusus untuk si Kecil. Anda dapat menyiapkan kursi toilet seukuran anak (potty chair), juga pakaian dalam yang mudah dilepas dan dipasang kembali dengan motif karakter yang si Kecil sukai.

Selain itu, Anda juga bisa memberikan celana khusus toilet training (training pants) untuk si Kecil. Celana seperti ini dapat menyerap urine (menyerupai popok) tetapi tidak sampai kering. Tujuan digunakannya celana khusus ini adalah untuk membuat anak merasa tidak nyaman, sehingga ia meminta ke toilet.

Meski lelah dan menguras emosi, orang tua harus tetap tenang dan melakukannya dengan menyenangkan. Berikan pujian saat si Kecil berhasil buang air di toilet. Hindari memberikan hukuman saat si Kecil sesekali mengompol atau buang air besar tidak di toilet. Tindakan menghukum atau membentak anak hanya akan menimbulkan pengalaman negatif, yang dapat menimbulkan masalah baru seperti mengompol (inkontinensia) atau sembelit (konstipasi).

Ajarkan toilet training pada anak dengan cara dan langkah yang tepat. Meski menemukan kesulitan di tengah jalan, Anda harus terus berupaya agar sang buah hati bisa segera terbiasa menggunakan toilet untuk buang air kecil dan air besar.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar