Sukses

Mengenal Ciri dan Cara Mengatasi Emotional Eating

Sering kali orang akan makan dalam jumlah banyak saat menghadapi situasi yang sulit, kondisi ini disebut emotional eating. Begini cara mengatasinya!

Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengatasi tekanan atau stres. Tidak jarang, seseorang akan memilih untuk mengonsumsi makanan kesukaan dalam jumlah banyak saat menghadapi situasi sulit. Dalam dunia medis, keadaan seperti ini dikenal dengan istilah emotional eating.

Apa artinya? Emotional eating adalah kebiasaan mengonsumsi makanan kesukaan secara berlebihan saat stres meski sedang tidak lapar. Kondisi tertekan dapat menyebabkan pelepasan beberapa hormon stres pada tubuh. 

Dalam jangka pendek, stres dapat menurunkan nafsu makan akibat pelepasan hormon epinefrin oleh kelenjar adrenal tubuh. Namun, bila terus berlangsung, stres menyebabkan pelepasan hormon kortisol yang dapat meningkatkan nafsu makan.

Ciri utama dari kondisi ini adalah munculnya perubahan pola makan berkaitan dengan emosi yang dirasakan. Ketika mengalami kondisi psikologis seperti tertekan, sedih, stres, atau depresi, penderita akan mencari “pelarian” pada makanan. 

Padahal, bisa jadi penderitanya tidak sedang merasa lapar. Menurut studi, kondisi emotional eating lebih sering terjadi pada wanita. 

Sayangnya, jenis makanan yang identik dengan kondisi stress eating ini umumnya tergolong tidak sehat. Misalnya, makanan tinggi gula dan lemak, terlalu gurih, dan lain-lain. Studi juga melaporkan stres akibat pekerjaan dan masalah lain berhubungan dengan peningkatan berat badan. Maka, masalah ini perlu ditangani segera.

Artikel lainnya: Banyak Makan Karena Cemas? Ini Solusinya

Lalu, bagaimana cara mengatasi emotional eating? Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan:

1 dari 3 halaman

1. Sadari Kondisi Itu dan Cari Pengalihan Lain

Hal pertama untuk mengatasi kondisi emotional eating adalah dengan menyadari kondisi ini pada diri sendiri. Tanpa mengenali kondisi yang terjadi, bagaimana mungkin Anda bisa mengubahnya?

Setelah itu, ketika Anda merasakan dorongan untuk makan saat stres, sadari hal itu dan bertekadlah untuk menahannya. Percayalah bahwa Anda mampu. 

Bila stress eating masih menghantui, coba mengalihkannya dengan membawa diri berjalan-jalan lima menit, duduk di luar, mendengarkan lagu favorit, atau ngobrol dengan teman.

2. Hanya Sedia Makanan Sehat di Rumah

Apa Anda masih suka membuka isi lemari camilan saat merasa galau? Untuk mengatasinya, pilah jenis makanan yang disediakan di rumah. Hindari menyimpan makanan yang kurang sehat. 

Jangan banyak menyimpan makanan yang terlalu manis dan berlemak, serta kaya karbohidrat simpleks. Beberapa contohnya seperti kue, biskuit, gorengan, minuman manis, soda, dan lain-lain. Jika hanya tersedia makanan sehat, maka otomatis tidak ada pilihan lain untuk Anda.

2 dari 3 halaman

3. Berolahraga Rutin

Meski kadar kortisol dapat bervariasi dan bergantung pada intensitas dan durasi olahraga, aktivitas fisik dapat menghambat efek negatif yang timbul akibat stres.

Yoga dan tai chi adalah jenis-jenis olahraga yang sangat cocok untuk meredakan stres dan menekan keinginan emotional eating. Karena, keduanya merupakan gabungan dari aktivitas fisik dan meditasi. Meditasi akan membantu Anda merasa lebih tenang dalam menghadapi tekanan yang dialami.

4. Dukungan Sosial dari Orang Sekitar

Dukungan keluarga, sahabat, dan rekan kerja secara umum memiliki dampak baik bagi situasi stres yang dialami seseorang. 

Penelitian menunjukkan, orang-orang yang bekerja dalam situasi penuh tekanan (seperti ruang gawat darurat rumah sakit) memiliki kesehatan mental yang lebih baik bila mereka mendapat dukungan sosial yang baik.

5. Kelola Stres Lebih Baik

Apa Anda sulit mengatur emosi? Minta tolong kepada ahli dapat membantu menentukan cara menghadapi stres dengan lebih baik. Jangan ragu berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater untuk memperoleh terapi dan penyembuhan yang mungkin Anda butuhkan.

Demikian lima cara mengatasi emotional eating yang bisa Anda coba. Jangan biarkan kondisi ini terjadi berlarut-larut. Risiko kenaikan berat badan hingga obesitas bisa menanti, termasuk penyakit lain yang erat kaitannya dengan berat badan berlebih. Konsultasi kesehatan dengan dokter pakai fitur Live Chat dari KlikDokter, lebih cepat!

(FR/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar