Sukses

Mengenal Ciri dan Cara Mengatasi Emotional Eating

Pernahkah Anda merasa tertekan atau stres lalu mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak meski tidak lapar? Itu tanda emotional eating!

Klikdokter.com, Jakarta Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengatasi tekanan atau stres yang dialami. Tidak jarang, seseorang akan memilih untuk mengonsumsi makanan kesukaan dalam jumlah banyak saat menghadapi situasi yang sulit. Dalam medis, keadaan seperti itu dikenal sebagai emotional eating.

Faktanya, kondisi tertekan dapat menyebabkan pelepasan beberapa hormon stres pada tubuh. Dalam jangka pendek, stres dapat menurunkan nafsu makan akibat pelepasan hormon epinefrin oleh kelenjar adrenal tubuh. Namun, bila terus berlangsung, stres menyebabkan pelepasan hormon kortisol yang dapat meningkatkan nafsu makan seseorang.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kondisi stres turut memengaruhi pilihan makanan seseorang. Pada saat mengalami stres fisik atau emosional, seseorang memiliki kecenderungan untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan lemak, gula, atau keduanya. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kadar kortisol dan insulin.

Melansir dari Harvard Health, terdapat bagian di otak yang teraktivasi setelah seseorang mengonsumsi makanan yang kaya akan lemak dan gula. Kendati begitu, kebiasaan mengonsumsi comfort food saat mengalami stres alias emotional eating bukanlah solusi yang tepat. Hal ini karena pola makan tersebut hanya akan membuat perasaan lebih baik selama periode waktu yang sangat singkat. Selain itu, emotional eating yang dilakukan secara jangka panjang juga akan menyebabkan peningkatan berat badan dan risiko obesitas.

Beberapa penelitian menunjukkan, terdapat perbedaan antara pria dan wanita dalam menghadapi stres. Di mana wanita umumnya mengonsumsi makanan secara berlebih, sedangkan pria lebih memilih untuk mengonsumsi alkohol atau merokok. Para peneliti pun melaporkan bahwa stres akibat pekerjaan dan masalah lain juga berhubungan dengan peningkatan berat badan.

Ciri dan cara mengatasi emotional eating

Ciri paling khas dari emotional eating adalah mengonsumsi makanan pada saat sedang merasa tertekan atau stres. Selain itu, pada emotional eating, seseorang juga umumnya mengonsumsi makanan dalam jumlah yang relatif banyak meski dirinya tidak merasa lapar.

Lalu, bagaimana cara mengatasi emotional eating? Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diterapkan:

  • Berolahraga secara rutin

Meski kadar kortisol dapat bervariasi, bergantung dari intensitas dan durasi olahraga, aktivitas fisik yang dilakukan dapat menghambat efek negatif yang timbul akibat stres.

Yoga dan tai chi adalah jenis olahraga yang sangat cocok untuk meredakan stres dan menekan keinginan untuk melakukan emotional eating, karena keduanya merupakan gabungan dari aktivitas fisik dan meditasi.

  • Dukungan sosial dari orang sekitar

Keluarga, sahabat, rekan kerja, dan dukungan sosial secara umum memiliki dampak yang baik bagi situasi stres yang dialami oleh seseorang. Penelitian yang ada menunjukkan bahwa orang-orang yang bekerja di dalam situasi penuh tekanan, seperti ruang gawat darurat rumah sakit, memiliki kesehatan mental yang lebih baik apabila mereka mendapatkan dukungan sosial yang baik pula.

  • Hanya sediakan makanan sehat di rumah

Orang-orang yang hanya menyediakan makanan sehat di rumah akan secara otomatis tidak mengonsumsi makanan yang tidak sehat apabila mengalami stres atau mengalami tekanan emosional. Dengan ini, dampak yang dapat timbul akibat mengonsumsi makanan yang kaya akan lemak dan gula tidak akan terjadi.

Emotional eating merupakan suatu kondisi yang terjadi ketika seseorang makan dalam jumlah banyak saat mengalami tekanan atau stres, meski dirinya sedang tidak lapar. Keadaan tersebut harus dideteksi sedini mungkin dan dicarikan solusinya agar tidak terjadi berkelanjutan. Sebab, emotional eating bisa berujung pada obesitas, yang komplikasinya berupa diabetes mellitus tipe 2, penyakit jantung, serangan jantung, atau stroke.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar