Sukses

Waspadai 5 Gangguan Fisik Akibat Depresi

Depresi tak cuma menyerang psikis, tapi perlahan dapat menggerogoti kesehatan tubuh. Waspadai gangguan fisik akibat depresi ini.

Klikdokter.com, Jakarta Depresi merupakan gangguan mental paling umum dan sering ditemui. Lebih dari 300 juta orang di dunia mengalami kondisi ini. Depresi bisa dialami siapa saja, dari berbagai kelompok usia. Depresi itu menyakitkan. Sementara kebanyakan orang menghubungkan dengan depresi dengan kesakitan emosional seperti kesedihan, menangis, dan perasaan tak berdaya, penelitian menunjukkan bahwa depresi dapat termanifestasi sebagai rasa sakit pada fisik juga. Ya, ada beberapa gangguan fisik akibat depresi yang harus diwaspadai.

Depresi terjadi karena proses yang kompleks dan melibatkan banyak faktor. Mulai dari sosial, psikologis, dan biologis. Berbagai kejadian masa lampau juga turut memengaruhi kondisi kejiwaan seseorang dan bagaimana ia menghadapi masalah dalam hidupnya. Inilah kenapa pada dasarnya semua orang bisa mengalami depresi.

Depresi tak hanya dapat memengaruhi cara berpikir dan berperilaku sehingga menimbulkan masalah psikis, tapi juga bisa memicu berbagai gangguan fisik. Sayangnya, tanda-tanda secara fisik dari depresi ini kerap diabaikan. Mungkin karena dianggap tabu atau karena faktor lainnya. Misalnya dalam budaya Cina dan Korea, masih banyak penduduk yang menganggap depresi adalah sebuah mitos. Karenanya, pasien yang tak mengetahui bahwa rasa sakit fisik yang dirasakannya diakibatkan oleh tekanan psikis, pergi ke dokter untuk mengobati fisiknya, bukan depresi yang dirasakannya.

Padahal, gejala depresi pada fisik juga sama pentingnya dengan efek emosionalnya. Gejala fisik dapat menunjukkan bahwa depresi itu sangat nyata, dan dapat merugikan penderitanya secara keseluruhan.

Berikut di bawah ini adalah gangguan fisik sebagai gejala depresi yang harus diwaspadai.

1. Kelelahan

Biasanya, stres bisa menyebabkan Anda kelelahan. Depresi juga bisa berperan terhadap kondisi ini. Tak seperti kelelahan biasa, rasa lelah akibat depresi bisa menyebabkan Anda sulit berkonstentrasi, mudah tersinggung, dan apati.

Dr. Maurizio Fava, Direktur Program Penelitian Klinis dari Rumah Sakit Umum Massachusetts, Amerika Serikat mengatakan kepada Healthline, depresi dapat memengaruhi kualitas tidur. Katanya, mereka yang mengalami depresi tidurnya tak tenang. Artinya, saat bangun pagi hari, badan terasa lesu bahkan setelah istirahat semalam penuh.

Meski demikian, karena banyak penyakit fisik (seperti infeksi dan terkena virus) bisa sebabkan kelelahan, ini bisa menjadi tantangan untuk menentukan bahwa rasa lelah tersebut terkait dengan depresi atau tidak. Satu cara untuk mengetahuinya: sementara rasa lelah yang dirasakan setiap hari adalah tanda dari adanya gangguan mental, gejala lainnya seperti kesedihan, merasa tak berdaya, dan anhedonia (kondisi depresi yang ditandai dengan kehilangan minat untuk hidup dalam kesenangan atau menikmati sesuatu) juga bisa dirasakan jika Anda mengalami depresi.

2. Turunnya ketahanan tubuh akan rasa sakit

Pernah merasa saraf nyeri seperti terbakar dan Anda tak tahu apa penyebab rasa sakit tersebut? Ternyata, depresi dan rasa sakit juga kerap terjadi bersamaan.

Ada studi tahun 2015 yang dipublikasikan dalam “Journal of the Neurogical Sciences” yang mengaitkan depresi dan menurunkan ketahanan tubuh akan rasa sakit. Sementara itu, studi lainnya tahun 2010 oleh Universitas Oxford, Inggris, menunjukkan bahwa rasa sakit punya dampak yang lebih besar pada orang-orang yang sedang mengalami depresi.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

3. Sakit kepala

Hampir semua orang pernah merasakan sakit kepala, sehingga kemunculannya kerap diabaikan. Faktanya, situasi stres, misalnya konflik dengan atasan atau rekan kerja, bisa picu sakit kepala.

Menurut dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, saat sedang stres, khawatir, atau cemas, Anda cenderung bernapas lebih pendek. Akibatnya, oksigen yang masuk dan mengalir ke otak menjadi berkurang, pembuluh darah menyempit, akhirnya menimbulkan keluhan sakit kepala.

“Jadi, saat Anda sedang berada dalam kondisi yang bikin stres, cobalah untuk menarik napas panjang, tahan selama 5-7 detik, lalu buang secara perlahan. Ulangi beberapa kali hingga perasaan Anda sekiranya membaik,” saran dr. Nadia.

National Headache Foundations mendeskripsikan sakit kepala yang terkait depresi sebagai sakit kepala tipe tegang. Tipe ini dirasakan seperti sensasi berdenyut ringan, terutama di sekitar alis.

4. Masalah pada mata atau menurunnya daya penglihatan

Sebuah studi tahun 2010 di Jerman yang dilakukan oleh Harvard Medical School menemukan bahwa masalah kesehatan mental bisa memengaruhi penglihatan seseorang. Studi tersebut meneliti 80 partisipan yang mengalami depresi. Mereka melaporkan kesulitan melihat perbedaan warna hitam dan putih (persepsi kontras). Ini mungkin menjelaskan kenapa pandangan tampak kabur.

5. Sakit atau rasa tak nyaman pada perut

Rasa sakit atau tak nyaman di perut yang seperti diaduk-aduk adalah salah satu tanda depresi. Meski begitu, ketika mengalami kram perut, biasanya ini dianggap sebagai perut kembung atau sakit perut karena menstruasi.

Rasa sakit yang bertambah parah, khususnya saat stres melanda, mungkin adalah tanda depresi. Faktanya, Harvard Medical School menyebutkan, rasa tak nyaman di perut seperti kram, kembung, dan mual bisa menjadi tanda buruknya kesehatan mental. Para peneliti berkesimpulan bahwa depresi bisa menyebabkan peradangan sistem pencernaan, dengan rasa sakit yang kerap disalahartikan sebagai penyakit radang usus atau sindrom iritasi usus besar.

Cobalah untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh Anda. Rasa sakit pada fisik mungkin merupakan cara tubuh memberitahu bahwa ada kondisi lain yang mendasarinya, yang salah satunya adalah depresi. Setelah mengenali beberapa gangguan fisik akibat depresi, diharapkan Anda bisa lebih peduli terhadap kesehatan fisik dan mental. Jika mengalami gejala-gejala yang disebut di atas, terlebih juga merasakan rasa sedih berkepanjangan, mudah tersinggung, atau rasa tak berdaya yang dirasakan lebih selama periode tertentu, lebih baik cari bantuan medis agar segera bisa ditangani sebelum semuanya terlambat.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar