Sukses

Waspada, Sleep Apnea Juga Bisa Pengaruhi Kehamilan

Bukan sekadar mendengkur biasa, sleep apnea perlu diatasi secepatnya sebelum mengganggu masa kehamilan Anda.

Klikdokter.com, Jakarta Para ibu hamil sering kali mengeluh tentang kualitas tidurnya di malam hari. Di pagi hari, ibu hamil akan terbangun dengan nyeri pada kepalanya serta kelelahan di siang hari karena waktu tidur yang terganggu. Padahal, ibu hamil tidak boleh kekurangan waktu istirahat. Salah satu penyebab tidur ibu hamil terganggu adalah sulit bernapas secara berulang kali ketika mereka tidur. Kondisi ini dinamakan sleep apnea.

Sleep apnea pada ibu hamil

Sleep apnea merupakan gangguan tidur yang terjadi akibat masalah pernapasan. Mungkin bagi orang awam, sleep apnea kerap kali disamakan dengan mengorok biasa. Akan tetapi nyatanya, sleep apnea bukan sekadar mendengkur. Kondisi ini berkaitan dengan permasalahan oksigen yang terhambat masuk ke dalam paru.

Sleep apnea menyebabkan penderitanya mengalami henti napas sesaat, sebelum akhirnya kembali normal. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kalau penderita sleep apnea bisa berhenti bernapas hingga 400 kali sepanjang malam! Jeda tersebut dapat berlangsung 10 - 30 detik, diikuti oleh mendengus saat mulai bernapas lagi.

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, sumbatan jalan napas yang diderita sebagian orang bisa terjadi karena kegemukan, gangguan posisi rahang, amandel, dan lemahnya otot di saluran pernapasan akibat kebiasaan merokok. Jadi, bagi ibu hamil yang sebelumnya hobi merokok, risiko untuk terkena sleep apnea jelas akan lebih tinggi.

Bahaya sleep apnea pada ibu hamil

Dilansir dari Everyday Health, sleep apnea sangat bisa menimbulkan masalah selama kehamilan. Beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan risiko untuk terkena hipertensi dan diabetes pada wanita hamil dengan sleep apnea. Bila sleep apnea meningkatkan risiko darah tinggi dan diabetes, itu berarti semakin tinggi pula kemungkinan si ibu untuk terkena preeklamsia, eklamsia, dan lemah jantung.

Ketiga hal itu dapat membuat si ibu kehilangan kesadaran hingga menimbulkan kematian. Adapun untuk bayinya, janin akan kesulitan untuk tumbuh dan bisa meninggal di dalam kandungan. Kalaupun selamat, risiko si bayi untuk terkena gangguan pernapasan dan penyakit metabolik (hipertensi dan diabetes) saat dewasa meningkat.

Hal itu pernah dibuktikan dalam penelitian yang meninjau catatan wanita hamil dan melahirkan pada 1998 - 2009. Hasilnya, wanita hamil yang mengalami sleep apnea jumlahnya selalu meningkat 24 persen per tahun. Lebih dari itu, ibu hamil dengan sleep apnea juga lima kali lebih mungkin untuk mengalami kematian saat dirawat di rumah sakit, baik sebelum dan sesudah melahirkan.

Jika kondisi sleep apnea pada ibu hamil tidak segera ditangani, gangguan tidur dan pernapasan tersebut juga dapat mengubah sistem metabolisme sekaligus meningkatkan inflamasi yang dapat merusak organ serta pembuluh darah.

Meski sleep apnea ini terkesan menyeramkan, kabar baiknya adalah hal tersebut bisa diobati sedini mungkin. Jadi, daripada merasa cemas berlebihan dan khawatir bahwa Anda mengalami sleep apnea, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan terapi yang tepat. Misalnya dengan terapi menggunakan alat continuous positive airway pressure (CPAP), bilevel positive airway pressure (BiPAP), mandibular advancement device (MAD), adaptive servio-ventrilation (ASV), dan alat penyalur oksigen tambahan. Selain itu, setelah Anda melewati masa kehamilan, sebaiknya hentikan secara permanen kebiasaan merokok Anda supaya sleep apnea tidak kambuh kembali.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar