Sukses

Jenis-Jenis Diare yang Perlu Anda Tahu

Diare dapat menyebabkan dehidrasi bahkan kematian. Kenali jenis-jenis diare agar Anda lebih waspada.

Diare adalah kondisi ketika seseorang mengalami buang air besar yang lebih sering, dengan tekstur tinja yang cair. Terdapat beberapa jenis diare yang dapat menandakan kondisi kesehatan Anda.

Ketika mengalami diare lebih dari tiga hari, sebaiknya Anda melakukan pemeriksaan diri ke dokter. Terlebih ketika tubuh mulai terasa lemas dan sulit untuk beraktivitas. 

Diare dengan asupan cairan yang kurang bisa menyebabkan dehidrasi. Kondisi dehidrasi yang tidak diatasi dengan baik dapat berujung pada dehidrasi berat. Perlu diketahui bahwa dehidrasi berat mampu mengakibatkan penurunan kesadaran hingga kematian.

Pada diare yang disebabkan oleh infeksi, sering kali disertai demam dan gejala lain seperti mual dan muntah. Untuk kondisi seperti ini, Anda dapat mengonsumsi paracetamol untuk menurunkan demam. Namun jika kondisi tidak kunjung membaik, segeralah melakukan pemeriksaan ke dokter.

Saat memeriksakan diri ke dokter, akan dilakukan wawancara medis sehingga dokter dapat mengetahui keluhan Anda lebih dalam dan menentukan tipe diare yang dialami. Sehingga, penyebab pasti diare Anda bisa diketahui dan diberikan penanganan yang tepat.

Artikel lainnya: Ibu Hamil Trimester Akhir Sering Diare, Normalkah?

1 dari 3 halaman

Jenis-Jenis Diare

Pada dasarnya terdapat lima jenis diare yang dapat dialami oleh seseorang, yaitu diare osmotik (osmotic diarrhea), diare sekretorik (secretory diarrhea), diare eksudatif (exudative diarrhea), diare paradoksikal (paradoxical diarrhea), dan pseudodiarrhea. Mari kita bahas lebih lanjut mengenai kelima tipe diare tersebut.

  1. Diare Osmotik

Jenis diare ini terjadi karena tingginya jumlah air yang ditarik ke dalam rongga usus, sehingga konsistensi tinja di dalamnya akan bersifat lebih cair. Diare osmotik menunjukkan adanya gangguan penyerapan pada usus. 

Hal ini sering terjadi pada orang dengan intoleransi laktosa dan orang-orang yang sensitif terhadap pemanis buatan. Kondisi ini dapat dicegah dengan mengurangi atau menghindari konsumsi produk susu serta makanan yang mengandung pemanis buatan.

Artikel lainnya: 4 Penyebab Diare di Musim Kemarau

  1. Diare Sekretorik

Jenis diare ini hampir sama dengan diare osmotik. Pengeluaran cairan di dalam rongga usus lebih tinggi sehingga menyebabkan konsistensi tinja yang lebih cair. 

Ketika Anda sudah menghindari produk susu dan pemanis buatan namun tetap mengalami diare, kemungkinan kondisi Anda disebabkan oleh diare sekretorik.

Hal ini dapat dipicu oleh adanya reaksi infeksi atau gangguan hormone. Jika mengalami hal ini, sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan diri ke dokter sehingga dapat dinilai secara keseluruhan penyebab.

  1. Diare Eksudatif

Diare juga dapat berupa tekstur tinja yang cair, disertai lendir, darah, atau nanah. Jika ditemukan hal tersebut pada tinja, kemungkinan jenis diare yang dialami adalah diare eksudatif. 

Penyebab tersering diare eksudatif adalah reaksi peradangan pada usus seperti pada penyakit Crohn atau kolitis ulseratif. Namun, kondisi ini dapat juga disebabkan oleh infeksi bakteri seperti E. coli.

Diare eksudatif dapat diatasi berdasarkan penyebab yang mendasarinya. Jika disebabkan oleh peradangan usus, akan diberikan steroid yang merupakan antiperadangan atau imunosupresan.

Artikel lainnya: 6 Kiat Bebas Diare saat Musim Hujan

Jika disebabkan oleh infeksi bakteri, dokter akan memberikan pengobatan berupa antibiotik yang tepat untuk mengatasi kondisi tersebut.

  1. Diare Paradoksikal

Diare paradoksikal adalah kondisi ketika tinja yang cair disertai dengan sembelit atau konstipasi. Jenis diare ini dapat terasa sangat tidak nyaman bagi penderitanya.

Pada kondisi ini, dokter biasanya akan mengatasi sembelit yang dialami terlebih dahulu. Banyak metode yang dapat dilakukan, salah satunya berupa prosedur enema (pemasukkan cairan ke dalam kolon melalui anus).

  1. Pseudodiarrhea

Kondisi ini mirip dengan sindrom iritasi usus dan diare paradoksikal, yaitu adanya reaksi sembelit di dalam diare. Oleh sebab itu, selain dengan enema, pseudodiarrhea juga membutuhkan asupan serat yang cukup untuk meredakan sembelitnya terlebih dahulu.

Diare ini memiliki gejala yang hampir mirip dengan beberapa jenis diare yang disebutkan di atas. Jika mengalami kondisi ini, Anda disarankan untuk melakukan pemeriksaan diri ke dokter sehingga bisa diberikan terapi yang tepat.

Berdasarkan durasi terjadinya, diare juga dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu diare akut, diare persisten, dan diare kronis.

  • Diare akut : berlangsung kurang dari 2 minggu
  • Diare persisten : berlangsung sekitar 2-4 minggu
  • Diare kronis : berlangsung lebih dari 4 minggu
2 dari 3 halaman

Penanganan Diare

Penderita diare sangat rentan untuk mengalami dehidrasi dan kurangnya elektrolit dalam tubuh. Terapkan beberapa langkah berikut untuk mengatasi gejala diare Anda:

  • Cukupi kebutuhan cairan untuk mencegah dehidrasi
  • Minum larutan oralit atau larutan gula-garam untuk membantu pencernaan usus lebih optimal
  • Hindari susu dan produk olahannya selama 24-48 jam karena dapat memperberat kondisi diare
  • Konsumsi antidiare untuk membantu menghentikan BAB yang terlalu sering. Namun, cara ini dilarang pada kondisi diare yang disertai dengan lendir, darah atau nanah.

Sebagian besar diare dapat diatasi dengan asupan cairan yang cukup, dan bila perlu, konsumsi antidiare. Namun jika kondisi diare tak kunjung membaik atau disertai demam, lendir, darah, ataupun nanah, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter agar dapat memperoleh terapi yang tepat.

Jika Anda masih memiliki pertanyaan seputar topik ini, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan dokter kami melalui fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter. 

[NWS/ RS]

0 Komentar

Belum ada komentar