Sukses

5 Jenis Diare yang Perlu Anda Tahu

Ternyata, jenis diare berbeda-beda, masing-masing bisa menunjukkan apa yang terjadi dalam tubuh Anda. Kenali semuanya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Ketika Anda buang air besar (BAB) lebih dari tiga kali dalam sehari, dengan tekstur feses yang lebih encer dari biasanya, itu berarti Anda mengalami diare. Diare ternyata memiliki beberapa jenis, yang masing-masing menandakan kondisi kesehatan Anda.

Dikutip dari Women’s Health, apabila diare Anda berlangsung lebih dari 3 hari, sebaiknya Anda mengunjungi dokter sebelum mengalami dehidrasi. Sebab, dehidrasi jika tidak ditangani dengan tepat dapat berujung pada kehilangan kesadaran, bahkan kematian. Perhatikan juga suhu tubuh saat Anda sedang diare. Jika termometer menunjukkan angka di atas 38 derajat Celcius disertai nyeri perut yang cukup hebat, baiknya segera cari pertolongan medis.

Saat memeriksakan diri ke dokter, akan dilakukan wawancara medis yang bertujuan untuk menentukan tipe diare yang Anda alami. Dengan menentukan jenis diare, akan lebih mudah mengidentifikasi penyebab dan cara penanganannya secara tepat.

Jenis-jenis diare yang perlu Anda kenali

Ada lima jenis diare, yaitu diare osmotik (osmotic diarrhea), diare sekretorik (secretory diarrhea), diare eksudatif (exudative diarrhea), diare paradoksikal (paradoxical diarrhea), dan pseudodiarrhea. Mari kenali kelimanya lebih dalam.

1. Diare osmotik

Diare osmotik terjadi ketika terlalu banyak air yang ditarik ke dalam usus. Sehingga, saat Anda BAB, yang dikeluarkan bolak-balik itu adalah cairan. Diare osmotik biasanya menunjukkan kondisi bahwa ada yang tidak terserap baik dalam usus. Contohnya adalah penderita intoleransi laktosa serta orang-orang yang sensitif terhadap pemanis buatan. Untuk menghindari diare osmotik, sebaiknya jauhi produk susu dan tidak mengonsumsi banyak makanan yang mengandung pemanis buatan.

2. Diare sekretorik

Sebenarnya, gejala diare sekretorik sangat mirip dengan diare osmotik. Namun, jika Anda sudah menghindari produk susu dan pemanis buatan tapi tetap saja diare, kemungkinan besar Anda mengalami jenis diare ini.

Diare sekretorik bisa disebabkan oleh infeksi ataupun masalah endokrin (hormon). Jika mengalami diare ini, Anda disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang maksimal.

3. Diare eksudatif

Jika pada diare Anda terdapat darah dan nanah, kemungkinan Anda mengalami diare eksudatif. Diare yang seperti ini biasanya dikaitkan dengan penyakit radang usus, seperti penyakit Crohn atau kolitis ulseratif, meski beberapa infeksi seperti E. coli juga bisa menjadi penyebab.

Bergantung pada pemicunya, diare eksudatif biasanya disembuhkan dengan pengobatan steroid atau imunosupresan untuk membantu membuat Anda merasa lebih baik.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

4. Diare parakdoksikal

Diare juga bisa terjadi berbarengan dengan sembelit. Dari sekian banyak diare, diare paradoksikal adalah yang paling bikin tak nyaman—sembelit sekaligus pengeluaran tinja cair atau encer di saat yang bersamaan.

Ketimbang fokus menghentikan diare, sebaiknya Anda menghilangkan terlebih dulu gejala sembelitnya. Tak hanya itu, Anda mungkin juga butuh prosedur enema, yang pemasukan cairan ke dalam kolon melalui anus, untuk mengatasinya.

5. Pseudodiarrhea

Gejala diare yang satu ini mirip dengan sindrom iritasi usus dan diare paradoksikal, yaitu adanya reaksi sembelit di dalam diare. Oleh sebab itu, selain enema, pseudodiarrhea juga membutuhkan asupan serat yang cukup untuk meredakan sembelitnya terlebih dahulu.

Diare ini memiliki gejala yang hampir mirip dengan beberapa jenis diare yang disebutkan di atas. Baiknya, jika Anda mengalami diare yang disertai sembelit, lebih baik jangan buang waktu untuk memeriksakan diri ke dokter agar bisa ditangani dengan tepat.

Selain lima jenis diare di atas, dr. Nadia Octavia dari KlikDokter juga menambahkan tiga lainnya berdasarkan sifatnya, yaitu diare akut, diare persisten, dan diare kronis.

“Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari dua minggu, sedangkan diare persisten berlangsung selama 2-4 minggu. Anda mengalami diare kronis jika diare tersebut berlangsung lebih dari empat minggu,” kata dr. Nadia.

Penanganan diare

Dikatakan oleh dr. Nadia, kunci utama dalam mengatasi diare adalah asupan cairan yang cukup. Anda bisa minum larutan oralit atau larutan gula-garam untuk membantu usus mencerna lebih optimal.

“Hindari susu dan produk olahannya selama 24-48 jam, karena bisa bikin diare tambah parah,” saran dr. Nadia.

Selain itu, Anda juga bisa konsumsi loperamide yang efektif untuk menghentikan diare. Namun, obat ini tak boleh diberikan jika diare disertai darah atau demam tinggi. Jika penyebabnya bakteri, maka dokter mungkin akan memberikan antibiotik.

Meski diare kerap disepelekan, tapi mengenal lima jenis diare bisa menjadi penting agar penanganannya bisa tepat sasaran. Ingat, jika diare berlangsung lebih dari dua hari tanpa perbaikan, ada gejala dehidrasi, nyeri hebat pada perut, diare berwarna hitam dan disertai darah, serta demam lebih dari 38 derajat Celcius, segera periksa ke dokter.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar