Sukses

Usia Berapa Anak Sebaiknya Belajar Tidur Sendiri?

Selain memupuk kemandirian, tidur sendiri juga bermanfaat bagi pertumbuhan fisik anak.

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu momen yang dinantikan banyak orang tua adalah saat anak mampu tidur di kamarnya sendiri. Namun nyatanya, hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Membiasakan pola tidur yang teratur saja sudah cukup sulit, apalagi membuat anak tidur sendiri di kamarnya.

Bed Sharing vs Room Sharing

Sebelumnya, Anda perlu mengenal istilah bed sharing dan room sharing. Bed sharing adalah kondisi dimana orang tua berbagi tempat tidur dengan anak. Sementara, room sharing adalah orang tua dan anak tidur dalam kamar tidur yang sama tetapi di tempat tidur yang berbeda. Umumnya, anak di crib atau tempat tidur khusus anak.

Banyak hal yang memengaruhi terjadinya kebiasaan anak tidur bersama orang tua, dalam hal ini bed sharing, seperti faktor budaya dan sosioekonomi. Faktor budaya di Indonesia misalnya, sangatlah lumrah bila anak tidur bersama orang tuanya, terutama bila masih berusia bayi hingga balita.

Masalahnya, tidak semua keluarga memiliki  jumlah kamar sesuai jumlah anak. Hal tersebut pun mempersulit anak untuk “pisah ranjang” dengan orang tuanya. Namun sebenarnya, tidak ada yang salah dengan anak yang tidur bersama orang tuanya, asal pola asuh yang diterapkan tepat.

Tidur di kamar yang sama bahkan memiliki beberapa keuntungan, seperti memudahkan proses menyusui, dapat membantu mencegah sindrom kematian bayi mendadak atau SIDS (Sudden Infant Death Syndrome), serta meningkatkan ikatan antara orang tua dan anak. Hanya saja, bila hal tersebut dilakukan terlalu lama bahkan hingga anak usia sekolah, akan menimbulkan sejumlah konsekuensi.

Sisi negatif dari bed sharing adalah risiko SIDS yang juga dapat meningkat, terutama bila anak tidur di kasur yang sama dengan orang tua (bed sharing) dan saat tidur dikelilingi oleh banyak bantal serta selimut.

Kekurangan lainnya dari bed sharing atau room sharing terlalu lama akan terlihat saat anak sudah lebih besar. Biasanya anak akan lebih sulit mempertahankan tidur malam yang panjang, mudah cemas, dan kurang mandiri.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Pediatrics menemukan fakta bahwa anak yang tidur bersama dengan orang tuanya hingga usia 9 bulan akan memiliki waktu tidur yang lebih sedikit saat mereka lebih besar nanti, dibandingkan anak yang sudah tidur sendiri di usia 9 bulan.

Kekurangan waktu tidur ini tentu berdampak pada kesehatan dan kemampuan akademis anak nantinya.

Usia tepat anak belajar tidur sendiri

American Academy Pediatrics sudah mengeluarkan rekomendasi Safe Sleep Recommendation. Dalam panduan tersebut, AAP menyarankan agar bayi tidur di ruangan yang sama (room sharing) bersama orang tua, bukan bed sharing (di kasur yang sama), hingga usia 6 bulan atau 1 tahun.

Dengan catatan, gunakan alas tidur yang tidak terlampau empuk, jangan mengelilingi bayi dengan bantal atau selimut tebal untuk mengurangi risiko gangguan napas (SIDS).

Lantas bagaimana bila hal tersebut tidak memungkinkan karena berbagai kondisi? Bila alasannya adalah untuk memudahkan proses menyusui, maka orang tua boleh tidur bersama dengan anak selama masa menyusui, yaitu hingga 2 tahun.

Setelah anak berusia 2 tahun, sebaiknya ia mulai tidur sendiri. Meski ada anak yang mampu beradaptasi dengan cepat, umumnya proses transisi anak yang sebelumnya tidur bersama orang tua menjadi tidur sendiri akan cukup sulit dilakukan.

Mengajarkan anak tidur sendiri memang tak mudah. Terlebih lagi bila pola asuh yang Anda terapkan sejak kecil adalah tidur bersama dengan orang tua. Tapi, hal ini bukan tak mungkin untuk dilakukan. Jadi, ikuti saran di atas dan tetaplah sabar serta konsisten saat mengajarkan anak tidur sendiri.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar