Sukses

Inilah Bahaya Makan Ikan Asin Terlalu sering

Apakah Anda hobi makan ikan asin? Awas, jangan terlalu sering jika tak ingin mengalami berbagai gangguan kesehatan!

Klikdokter.com, Jakarta Makan siang dengan lauk ikan asin dan nasi hangat memang nikmat. Sebagian besar orang Indonesia pasti akan berkata “ya” dengan kombinasi menu tersebut. Bagaimana dengan Anda?

Ikan asin memang menjadi favorit sebagian orang, karena memiliki rasa yang khas dan cocok dinikmati meski hanya dengan sepiring nasi. Namun, tahukah Anda bahwa ikan asin sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering?

Proses pembuatan ikan asin

Ikan asin adalah makanan yang berasal dari ikan yang diawetkan dengan metode penggaraman. Metode tersebut membuat ikan awet sampai berbulan-bulan, khususnya jika proses pembuatan dan penyimpanannya baik.

Ikan laut maupun ikan air tawar bisa dibuat dan diubah menjadi ikan asin. Pada prosesnya, ikan yang sudah disiapkan ditaburi atau direndam dalam garam yang sangat pekat. Garam tersebut akan “masuk” ke dalam daging ikan dan menarik air keluar. Daging ikan yang sudah minim air itu bisa lebih awet, karena proses penghancuran protein akan terhambat dan bakteri tidak akan mudah merusaknya.

Setelah proses penggaraman selesai, ikan akan dijemur supaya benar-benar kering. Proses ini harus berlangsung sempurna. Sebab, bila tidak, daging ikan masih akan mengandung air sehingga akan mengalami pembusukkan lebih cepat dibanding yang kering sempurna. Ketebalan daging ikan, kesegaran ikan, dan jenis garam juga memengaruhi tingkat keawetan ikan asin.

Di sisi lain, ada pula metode curang yang sering dijadikan pilihan oleh produsen ikan asin “nakal”. Cara ini bisa membuat ikan asin awet lebih lama, yaitu dengan menggunakan campuran formalin dan pestisida.

Formalin biasanya ditambahkan bersamaan saat proses penggaraman ikan asin. Selain bisa bikin lebih awet, senyawa tersebut juga digunakan dengan tujuan untuk mengurangi penyusutan bobot daging ikan asin.

Ikan yang diproses dan dijemur alami bobotnya bisa menyusut 75 persen dari berat awal. Sedangkan, pada ikan asin berformalin, penyusutan hanya terjadi sekitar 30 persen. Hal ini bisa menguntungkan pembuat ikan asin, apalagi bila mereka menjualnya berdasarkan bobot per kilogram.

1 dari 2 halaman

Efek makan ikan asin berlebih

Ikan asin mengandung kadar garam yang tinggi. Oleh karena itu, apabila dikonsumsi berlebih, ikan asin bisa mendatangkan efek negatif berikut ini:

  • Memicu tekanan darah tinggi

Garam mengandung zat yang bernama natrium, yang jika jumlahnya berlebihan di tubuh akan menarik cairan ke dalam pembuluh darah. Akibatnya, ada volume dalam pembuluh darah yang harus dipompakan lebih banyak. Hal membuat tekanan darah menjadi tinggi.

  • Tidak baik bagi kesehatan jantung

Tekanan darah tinggi membuat jantung bekerja lebih keras dari biasanya. Lama-kelamaan, fungsi dan struktur jantung bisa berubah. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya cardiomegali atau pembengkakan jantung dan juga gagal jantung

  • Pembengkakan organ tubuh

Cairan tubuh yang tidak dialirkan sempurna oleh jantung dapat tertinggal dan menyebabkan pembengkakan, paling sering di bagian kaki. Juga, dapat menimbulkan timbunan cairan pada paru-paru.

Selain akibat kadar garam yang tinggi, ikan asin yang Anda konsumsi juga belum tentu bebas dari zat berbahaya seperti formalin. Seperti diketahui, ikan asin yang diawetkan dengan pengawet buatan seperti formalin memiliki efek samping yang lebih berbahaya untuk tubuh.

Formalin adalah zat beracun yang biasa digunakan untuk mengawetkan mayat, bersifat karsinogenik, menyebabkan perubahan sel tubuh, serta bersifat korosif dan iritatif. Maka dari itu, tubuh yang terpapar formalin terus-menerus akan merasakan sakit kepala, gangguan saraf, dan gangguan pencernaan. Bila terjadi dalam jangka panjang, formalin juga dapat meningkatkan risiko kanker.

Atas dasar itu, pastikan Anda tidak mengonsumsi ikan asin terlalu sering atau berlebihan. Kalaupun sangat ingin, pastikan Anda hanya memilih jenis ikan asin bermutu baik yang diawetkan dengan cara alami alias tidak mengandung formalin atau zat berbahaya lainnya.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar